Bagaimana Kalau Rupiah Ambruk?

Beberapa hari lalu seorang kawan menanyakan nasib rupiah yang terus-menerus melemah terhadap USD. “Kompleks bin rumit binti lieur”, jawab saya sambil nyengir dengan ikhlas. Akhirnya saya coba jelaskan dengan sederhana tanpa terlalu menyederhanakan. **jiaaah…..keren ga tuh tagline gue**

shutterstock_284335196

Kenapa Kita Butuh Dollar?

Selama hidup, manusia membutuhkan barang dan jasa. Pada jaman dahulu, setiap manusia memproduksi (membuat/memperoleh) barang sendiri. Mau makan berburu ke hutan, mau pakaian harus menyamak kulit binatang, mau punya rumah menebang pohon, mau mangga nyolong punya tetangga. Semua dilakukan sendiri atau bersama-sama kelompoknya. Ketika barang yang diproduksi melebihi dari yang dibutuhkan olehnya, maka dia dapat menukarkan barang miliknya dengan barang lain yang diproduksi orang lain. Ujung-ujungnya, agar proses pertukaran ini efisien, maka munculah alat tukar bernama uang. Awalnya uang berbentuk emas, lalu berubah menjadi kertas yang dijamin emas, dan akhirnya berbentuk uang masa kini (yang tidak dijamin emas). Panjang-lah ceritanya, simpen dulu ya tong buat lain kali 🙂 Uang hanya berlaku di satu wilayah hukum tertentu, misalnya negara.

Prinsip yang sama berlaku ketika sekelompok orang yang tinggal di suatu negara memproduksi barang melebihi kebutuhan domestik (dalam negeri), maka mereka bisa mempertukarkan kelebihan produksi tersebut dengan barang lain dari luar negeri. Di sini muncul kebutuhan akan “mata uang” yang diterima oleh kedua belah pihak. Karena ekonominya yang sangat kuat, USA menjadi pasar yang sangat gurih* bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Akibatnya, banyak negara memiliki USD sebagai bayaran atas produk yang diekspor ke USA. Efek lainnya adalah USD bahkan digunakan untuk transaksi yang bukan dengan USA. Akibatnya, kebutuhkan atas USD muncul tidak hanya ketika Indonesia membeli barang dari USA saja, tetapi saat Indonesia membutuhkan barang dari negara lain sekalipun.

* peringatan: jangan nyari keyword ‘USA’ di qraved atau food panda. Itu bukan makanan.

Apabila Indonesia sama sekali tidak membutuhkan barang dari negara lain, maka kebutuhan atas USD pasti akan menyusut drastis. Tapi hal ini sebenarnya tidak mungkin terjadi ya kakaaak. Di dunia modern, manusia tidak memproduksi sendiri apa yang dia butuhkan, melainkan memproduksi yang dia mampu dan mempertukarkannya dengan produk yang dia butuhkan. Contoh sederhana, kita tidak menanam beras sendiri meski setiap hari makan nasi. Kita memproduksi barang/jasa lain, mendapat uang (alat tukar) dan menukarnya dengan beras plastik. Dalam skala nasional, hal ini juga terjadi. Misalnya, Indonesia memproduksi sepatu olahraga, mengekspornya dan mendapatkan USD, lalu USD tersebut dibelanjakan dengan mengimport produk elektronik semacam *pees* meski gamenya bajakan.

Daya Beli

Sebetulnya yang jadi masalah bukan kurs USD, melainkan Daya Beli (Purchasing Power). Ini terjadi ketika nilai uang yang sama tiba-tiba nilainya susut. Misalnya, uang 100 ribu Awalnya bisa membeli daging 1 kg, sekarang hanya bisa dapat 0,8 kg. Kenaikan USD berpengaruh terhadap daya beli karena kita banyak mengkonsumsi barang impor. Bahkan produk dalam negeri pun, bahan baku, mesin produksi, atau modal pinjamannya ternyata berasal dari luar negeri. Akibatnya, kenaikan USD berpengaruh terhadap harga barang, dan menyusutkan daya beli masyarakat.

Pendapatan individual biasanya diukur secara global menggunakanGross National Income per-capita. GNI per-capita Indonesia pada tahun 2013 adalah 9,270 PPP Dollar. Bandingkan dengan Malaysia (22,530), Thailand (13,430), USA (53,750). Angka-angka tersebut menunjukkan perbandingan nilai pendapatan per-individu (manusia) di setiap negara.

Meningkatkan Daya Beli

Jawabannya, “Tingkatkan produktifitas dan ciptakan nilai tambah“.

Yup, kalau tidak ada barang/jasa yang diproduksi, apa yang mau dipertukarkan? Kalau hanya menjual barang apa adanya, siapa yang nggak bisa, bro?

Di negara maju, satu restoran cukup besar hanya dilayani oleh satu pelayan yang bertugas sebagai waiter, kasir, dan kadang koki 🙂 Misalnya McCafe Prancis, hanya ada satu orang yang menerima order, menyiapkan makanan, menerima pembayaran, dan sesekali mengelap meja dan mengepel lantai. Ya, hanya satu orang! Bandingkan dengan pelayan di Indonesia yang jumlahnya banyak dalam satu restoran, tetapi asyik menonton sinetron, dan kerjanya santai kayak di pantai. Mungkin banyak yang bilang, “itu karena gaji pelayan di sana mahal”. Coba dibalik, kalau jumlah pelayan restoran di Indonesia dikurangi sepertiganya, gajinya bisa jadi 3x lipat bukan?

Tidak hanya produktifitas pekerja, budaya masyarakat pun perlu dibangun. Pelayan di atas tidak perlu sering membersihkan meja, karena setiap selesai makan, konsumen membersihkan sendiri mejanya. Tidak ada biaya yang perlu dikeluarkan manajemen restoran untuk tenaga kebersihan tambahan. Seringkali kita mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu, termasuk mengeruk kali karena masyarakat membuang sampah sembarangan atau membayar penjaga WC karena pengujung sering tidak menyiram sehabis buang air.

Peningkatan nilai tambah terjadi ketika selisih nilai bahan baku dan produk akhir semakin tinggi. Misalnya, Indonesia selalu konsisten mengimpor minyak mentah, melakukan pemrosesan, dan mengekspor BBM dan oli mesin ke negara tetangga. Eh,… kebalik ya? 😛 #garukgarukkepala

Ekspor Indonesia masih kurang bernilai tambah. Kita banyak mengekspor bahan mentah / setengah mentah seperti minyak dan hasil hutan, tetapi mengimpor barang jadi bahkan canggih seperti mobil. Jumlah populasi Indonesia yang sangat besar dan usianya yang relatif muda lebih banyak dijadikan target pasar ketimbang pusat produksi. Tingkat pendidikan yang lebih baik serta pemberdayaan masyarakat adalah mutlak diperlukan. Seorang teman bercanda, di Indonesia ini bisnis yang paling laku adalah jual tanah air… ya, jual konsesi isi tanah kayak minyak, batu bara, emas, kayu dari hutan, dan air bersih.

Optimisme

Situasi ekonomi memang sedang sulit. Kita tetap harus optimis, karena tidak ada orang atau bangsa yang sukses dengan mental pesimis.

Be Productive, Be Innovative

Kalau kata Aa Gym, mari mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang.


Catatan:

Produktifitas bukan satu-satunya penentu nilai mata uang. Dalam perhitungan resiko nilai tukar, forecasting (prediksi) nilai tukar seringkali didasarkan pada matrix covariance (koefisien korelasi) suku bunga dan nilai tukar beberapa mata uang dominan. Debt-to-GDP suatu negara pun perlu diperhitungkan. Ini tidak saya bahas karena bisa jadi cerita panjang lainnya 🙂

Advertisements

Sakit Hati Gara-Gara Kena Tipu

traian-basescu-president-of-romania-2Hari ini saya bertemu seorang kawan lama. Dia bercerita kalau dia sudah beberapa tahun ini mengalami banyak masalah akibat tertipu dalam jumlah besar. Rasa kecewa, sedih, bodoh, malu, marah… semua campur aduk jadi satu. Saya paham betul perasaan kawan ini, maklum saya sendiri dulu langganan kena tipu. Saya ini dulu orangnya “naif”, yaaa beda tipis lah sama be-o-de-o 😀 hahaha…

Karena kebetulan berkawan baik, saya kasih doi beberapa advice gratis hari ini, besok bayar. Pertama saya bilang, “Ditipu itu memang nggak wueenak poll. So, kalau lo kesal, marah, atau ngamuk, go ahead… itu wajar”. Untungnya dia bukan mantan preman pasar kayak saya, jadi rasanya kalimat itu relatif aman 😛 Setelah agak reda, saya tanya apakah dia mau mendengar pengalaman pribadi saya? Karena jawabnya iya, saya coba share sedikit tentang itu.

Dulu sewaktu tertipu, saya tidak lebih baik dari dia. Kecewa, sedih, kesal, marah, malu jadi satu. Tapi karena sang penipu tak kunjung ketemu, jadi mukanya nggak pernah bisa ditinju. Hal terbaik yang bisa dilakukan saat itu adalah berusaha keras mengembalikan duit yang melayang. Bagaimanapun, cepat atau lambat kita harus “move on” kan?

What doesn’t kill you, makes you stronger

Sebagai muslim saya diajarkan untuk percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil. Jika seseorang dengan curang mengambil hak kita sejumlah Rp. 100, maka Tuhan akan mengganti Rp.100 tersebut. Penggantiannya tidak selalu lewat sang penipu, bisa lewat jalan lain. Waktunya pun beragam, bisa diganti tunai di dunia, atau sebagai pengurang dosa di akhirat. Teori itu harus benar, karena kalau tidak, berarti Tuhan tidak Maha Adil. So, don’t worry be happy 🙂

Setelah beberapa tahun, keadaan pun mulai membaik. Tapi kok rasanya kerugian itu belum tergantikan *ngitungkalender* Di titik ini, saya teringat bahwa selain Maha Adil, Tuhan juga Maha Pemurah. Dia menjanjikan untuk mengganti 10x dari amal / sedekah yang diberikan umatnya.

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya…..”. Al-An’aam ayat 160

Hmmm… menarik nih #dasarotakdagang. Karena Tuhan itu Maha Benar, mestinya janji itu benar adanya. Dan karena Tuhan itu Maha Kaya, maka return on investment 1.000% mah peanuts lah 🙂

Kalau kita “menuntut balas”, memang kerugian itu akan diganti Rp.100. Sang penipu pun hartanya akan dikurangi Rp.100 + Bonus dosa karena telah menipu saya yang bertampang innocent dan baby-face ini.

Tapi mari kita elaborasi alternatif lainnya. Bagaimana kalau uang Rp. 100 tersebut kita niatkan untuk sedekah saja? Artinya uang tersebut memang diniatkan untuk keluar dari kantong kita. Kalaupun nanti ternyata dikembalikan oleh sang penipu, kita akan keluarkan sebagai sedekah. Bagaimana kalau tidak dikembalikan? Maka anggap saja kita menitipkan uang sedekah kepada si penipu. Percayalah, Tuhan itu Maha Kuasa, dia akan tahu bagaimana cara mengambil uang sedekah tersebut dari tangan sang penipu. Tidak mungkin Tuhan tidak mampu melakukannya, karena kalau tidak mampu, berarti Dia tidak Maha Kuasa bukan?

Nah, karena itu uang sedekah, jadi boleh dong pahalanya 10x lipat 🙂 hehe… *ngarep*

Jadi kalau suatu hari sang penipu dan saya mati lalu dimintai pertanggungjawaban, saya akan katakan, “Tidak ada dendam diantara kita. Everything already settled” … kenapa jadi kayak syair lagu ya???

Fakir menerima haknya, penipu kehilangan dosanya, kita dapat 10x pahalanya.

Ucrit: Kalau si penipu sowan terus ngajak gawe bareng lagi gimana?

Unyil: Ya terserah pendapat masing-masing. Kalau unyil sih gak mau gawe bareng sama orang yang sudah pernah nipu unyil.

Ucrit: Loh kenapa? katanya cukup dianggap sedekah.

Unyil: Uang buat gawe bareng awalnya kan diniatkan buat investasi, bukan untuk sedekah. Untuk sedekah, unyil sudah punya budget khusus.

Unyil: Dalam berinvestasi, unyil harus memitigasi (mengelola) resiko. Berbisnis sama orang yang pernah menipu pastinya beresiko tinggi. Sehingga secara kalkulasi bisnis, itu memang tidak mungkin bisa dilakukan.

Ucrit: Oke deh. Mari kita Kemon.

Berpikir Cepat atau Benar?

Suatu hari seusai makan malam, Bapak saya dengan isengnya bikin tebak-tebakan berhadiah piring dan liburan ke nusa kambangan.

Bapak: Katanya kamu mau bisnis ya?

Saya: Iya

10609226-business-man-at-a-cross-roads-standing-at-a-horizon-with-grass-and-blue-sky-showing-a-fork-in-the-ro

Bapak: Coba tanya sedikit. Kalau kamu sedang menuju ke suatu tempat, lalu kamu ketemu pertigaan, satu ke kiri dan satu ke kanan. Kamu tidak tahu persis arah yang benar menuju ke tujuan kamu itu. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Jalan ke salah satunya, apa diam dan berpikir cukup lama sampai tahu mana jalan yang benar?

Saya: Mendingan mikir agak lama, kalau udah yakin, baru ambil jalan ke kiri atau ke kanan. Lagi pula, buat apa kita buru-buru… kita cuma akan sampai di tujuan yang salah dengan lebih cepat (sambil belagak sok wise, padahal itu cuma modal ngutip isi bukunya Covey).

Bapak: Dalam banyak hal itu betul. Tapi coba kamu pikirkan kemungkinan lainnya. Orang bisa berpikir sangat lama untuk menentukan mau jalan ke arah mana. Pada akhirnya, bisa jadi tidak pernah dapat jawaban yang pasti. Bagaimana kalau begini, kamu pikirkan sedikit saja, lalu cepat ambil keputusan mau jalan ke kiri atau ke kanan. Misalnya kamu pilih jalan ke kiri, maka selama perjalanan, ingat bahwa pilihan kamu itu belum tentu benar. Perhatikan tanda-tanda dan keadaan di sekitar jalan. Kalau itu jalan yang salah, biasanya kamu akan menemukan pertanda bahwa jalan tersebut salah. Begitu kamu yakin itu jalan yang salah, berbalik dan kembali ke pertigaan yang tadi, lalu ambil jalan ke kanan.

Bapak: Coba bandingkan, jika pilihan ke kiri itu benar, maka kamu akan sangat cepat sampai di tujuan. Jika itu salah dan kamu kembali ke pertigaan, bisa jadi orang lain yang memilih untuk lama berpikir, masih berdiri dan berpikir di situ. Padahal saat itu kamu sudah tahu kalau jalan ke kiri itu salah, dan saat ini on-the-track ke arah yang benar, yaitu kanan.

Bapak: Dalam bisnis, seringkali lebih baik salah daripada lambat. Orang salah yang berhati-hati, bisa waspada dan memperbaiki kesalahannya. Sementara orang yang lambat, seringkali kehilangan kesempatan dan timing yang pas.

Saya: (bengong)

Mari Ber-Investasi – Part 2

ini adalah lanjutan dari artikel: Mari Ber-Investasi – Part 1

Paradigma Investasi

Sebagai muslim, saya percaya bahwa semua harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT. Sebagai orang yang kebetulan diberi titipan, maka kita wajib mengelolanya dengan benar, sehingga harta itu bermanfaat bagi sesama. Menumpuk harta seperti memiliki banyak rumah, banyak mobil, dan banyak barang mewah, bukanlah pilihan yang tepat, karena akan mengakibatkan harta itu menjadi kurang atau bahkan tidak bermanfaat bagi sesama. Lebih dari itu, menumpuk harta juga dapat berakibat memuaskan “rasa memiliki” orang yang dititipi, seolah dia adalah benar sang empunya harta itu.

“Mengelola titipan”…. di sini lah titik awal paradigma investasi dimulai. 

Karakter Investor

Secara mudah ada empat jenis investor. Strategi yang bisa ditempuh oleh tiap jenisnya akan berbeda-beda. Jenis-jenis investor tersebut adalah:

  1. Investor Terlanjur Kaya. Umumnya terjadi pada orang-orang yang menerima warisan atau hoki karena tiba-tiba dapat lotere. Ini adalah jenis investor yang paling rentan terhadap penipuan. Umumnya orang terlanjur kaya tidak pernah berinvestasi, sehingga ketika mereka berinvestasi, mereka menjadi sasaran empuk para penjual investasi bodong. Banyak orang yang berpikir tidak bisa berinvestasi karena tidak punya modal. Padahal logikanya, orang yang tidak bisa mengelola dana Rp. 10 Juta, tidak akan mampu mengelola dana Rp. 10 Miliar. Jika anda sial karena terlanjur kaya 🙂 maka saran saya, belajarlah berinvestasi dengan modal kecil, pastikan itu berhasil secara konsisten, baru kemudian menambah modal sedikit demi sedikit.
  2. Investor Nggak Akan Pernah Kaya. Umumnya terjadi pada orang-orang yang banyak memiliki keinginan, tetapi tidak mampu mengontrol keinginan mereka. Biasanya mereka sangat konsumtif, punya banyak barang mahal, tabungan pas-pasan, dan beberapa dari mereka terbelit hutang kartu kredit. Investor jenis ini umumnya hanya punya sangat sedikit uang untuk diinvestasikan, cenderung malas belajar tentang investasi, dan maunya dikelola oleh orang lain, alias tahu beres. Nasibnya tidak jauh dengan Investor Terlanjur Kaya, tetapi umumnya mereka tidak terlalu menyesal karena jumlah investasi yang kena tipu hanya kecil saja. Ini tidak lain karena jumlah yang mereka investasikan juga tidak besar. Saran saya untuk jenis investor ini adalah belajarlah untuk mengontrol keinginan sebelum terjun ke dunia investasi.
  3. Investor Pekerja Keras Untuk Jadi Kaya. Umumnya mereka mempelajari ilmu investasi dengan baik, melatih motivasi melalui banyak cara, dan sebagian menumbuhkan investasi dari nilai yang sangat minimal sehingga akhirnya menjadi sangat besar alias sukses berat. Secara teknis tidak ada yang kesalahan yang dilakukan oleh jenis investor seperti ini, hanya saja seringkali godaan untuk menjadi lebih kaya bisa membuat mereka mengambil jalan yang tidak halal. Kegagalan juga bisa disikapi bervariasi, sebagian belajar dari kegagalan sehingga menjadi sangat-sangat tangguh, sebagian lagi putus asa dan bunuh diri.
  4. Investor Amanah Yang Selalu Bersyukur dan Berusaha Ikhlas. Umumnya mereka mencukupi kebutuhan hidup dengan baik, memiliki kebiasaan untuk membantu sesama, dan mengelola kelebihannya dalam bentuk investasi. Mereka memilih jenis investasi dengan hati-hati untuk menghindari penipuan dan menghindari jenis investasi yang tidak baik secara moral. Mereka berusaha maksimal dan mendalami investasi yang diterjuninya karena sadar bahwa itu adalah tanggung jawabnya. Bersyukur atas keberhasilannya, bersyukur juga atas kegagalannya, karena itu memberinya pelajaran. Berusaha ikhlas dengan hanya berfokus pada melakukan hal yang benar, tanpa peduli apa kata orang tentang dirinya. Dukungan membuatnya yakin dan cercaan membuatnya tangguh.

So… silakan pilih sendiri mau jadi investor jenis mana 🙂 hehehe….

Siklus Investasi

Dari sisi finansial, seorang investor mengelola keuangannya dengan melakukan 7 langkah secara berulang-ulang.

 

1. Seed (Mengalokasikan Modal)

Investasi dimulai dengan mengalokasikan sejumlah dana sebagai modal. Ini bisa didapat dari menyisihkan sebagian uang gaji. Simpanlah uang dalam bentuk surat berharga, utamanya obligasi / surat utang negara / obligasi syariah (sukuk) untuk melindungi asset dari inflasi. Satu syarat penting dalam hal menempatkan modal adalah bahwa uang yang ditempatkan haruslah “uang dingin”, yaitu uang yang tidak akan kita butuhkan dalam 10 tahun mendatang. Jangan coba-coba berinvestasi dengan uang kebutuhan sehari-hari atau uang sekolah anak.

“Menabung” adalah keahlian dasar bagi seorang investor. Menabung juga merupakan latihan menahan diri dari keinginan membeli sesuatu hanya karena kita “punya uangnya”. Tanpa kemampuan ini, umur investasi kita akan menjadi sangat pendek, karena sedikit keberhasilan akan menggoda kita untuk segera mencairkan investasi dan mengikuti nafsu belanja. Kemampuan menabung ini juga menjelaskan mengapa seorang investor sukses jarang sekali membeli barang konsumsi dengan cara mencicil. Bukan semata-mata karena ia sedang mengumpulkan modal, tetapi karena ia memang mampu menahan godaan untuk mengikuti nafsu belanjanya.

2. Convert to Productive Asset (Membeli aset produktif)

Setelah melalui perhitungan yang matang, belilah asset produktif, misalnya saham atau properti. Investor yang baik selalu paham betul dengan jenis investasi yang dijalaninya. Menitipkan uang pada orang / organisasi lain tidak menjadikan kita sebagai seorang investor, malah umumnya hal ini berakhir dengan rugi atau penipuan. Dan sekali lagi, bedakan investasi dengan spekulasi. Percayalah, kebanyakan “investasi” yang ditawarkan kepada kita sesungguhnya adalah “spekulasi”. Dua rule of thumb dalam mengalokasikan modal adalah “Jika anda tidak yakin dengan dengan suatu investasi, simpan saja modal dalam dompet anda sebaik-baiknya” dan “Jangan mengambil keputusan hanya  berdasarkan analisa orang lain”.

3. Maintenance & Protection (Memelihara dan Melindungi Investasi)

Pemeliharaan adalah kegiatan dan biaya yang diperlukan untuk memastikan agar aset produktif bisa beroperasi secara optimal. Misalnya, mobil untuk disewakan harus diganti oli dan rumah kontrakan harus dicat ulang.

Proteksi adalah perlindungan terhadap modal dasar investasi. Hal ini mutlak diperlukan. Misalnya, investasi mobil untuk disewakan perlu diasuransikan agar jika mobil tersebut tabrakan dan hancur total, maka sekitar 90% dari nilai mobil dapat diperoleh kembali. Tanpa proteksi yang memadai, investasi akan menjadi spekulasi.

4. Reinvest for Inflation (Menginvestasikan Kembali Sebagian Modal untuk Menjaga Kenaikan Harga)

Tujuan dasar dari investasi adalah memperoleh laba. Misalnya, pada tahun 2010 kita memiliki modal Rp. 100 Juta. Dengan tingkat laba 20% per-tahun, maka keuntungan yang diperoleh selama setahun adalah Rp. 20 juta. Dengan asumsi bahwa tingkat laba per-tahun tersebut dapat terus dipertahankan, maka jika modal dasar Rp. 100 Juta tersebut diinvestasikan kembali, pada tahun 2011 kita akan kembali memperoleh laba sebesar Rp. 20 Juta. Namun demikian, harga komoditas terus naik dari tahun ke tahun. Contoh ekstrimnya, Rp. 20 Juta pada tahun 2010 tidak bisa membeli komoditas sebanyak Rp. 20 Juta pada tahun 1980.

Untuk menjaga agar “Daya Beli” kita tetap sama, maka sebagian keuntungan yang diperoleh dari investasi harus diinvestasikan kembali, sehingga keuntungan di tahun berikutnya akan meningkat. Jumlah yang harus di-reinvest untuk menjaga inflasi adalah sebesar nilai inflasi itu sendiri. Di Indonesia, kisarannnya adalah sebesar 6% s/d 8%. Dalam contoh diatas, setelah mendapat keuntungan sebesar Rp. 20 Juta, maka Rp. 6 Juta harus di-investasikan kembali, sehingga nilai modal di tahun berikutnya (2011) adalah Rp. 100 Juta + Rp. 6 Juta = Rp. 106 Juta. Selisihnya sebesar Rp. 20 Juta – Rp. 6 Juta = Rp. 14 Juta boleh di konsumsi (lihat bagian Withdrawal). Dengan modal Rp. 106 Juta, maka keuntungan tahun 2011 adalah: 20% * Rp. 106 Juta = Rp 21,6 Juta. Dimana nilai uang Rp. 20 Juta di tahun 2010 sama dengan nilai uang Rp. 21,6 Juta di tahun 2011.

5. Reinvest for Growth (Menginvestasikan Kembali Sebagian Keuntungan untuk Meningkatkan Keuntungan Di Masa Depan)

Cara termudah untuk meningkatkan nilai keuntungan dari tahun ke tahun adalah dengan menginvestasikan kembali sebagian keuntungan yang kita peroleh. Dalam contoh sebelumnya, selisih antara keuntungan dan nilai yang harus di-reinvest untuk menjaga inflasi adalah: Rp. 20 Juta – 6 Juta = Rp. 14 Juta. Jika kita menginvestasikan Rp. 14 Juta ini pada tahun berikutnya, maka kita punya peluang untuk meningkatkan keuntungan di tahun-tahun mendatang.

6. Rebalance (Menyeimbangkan Komposisi Investasi vs Kas Secara Periodik)

Tidak seperti halnya “Gajian” yang bersifat teratur dan jumlahnya cenderung sama, tingkat laba investasi tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Secara periodik, kita perlu menyeimbangkan nilai aset produktif vs. kas. Misalnya:

  • Kita memiliki modal (kas) senilai Rp. 100 Juta. Setelah melalui perhitungan, maka diputuskan untuk menetapkan komposisi kas vs. alokasi = 50% : 50% dengan periode rebalance setiap 6 bulan.
  • Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pada tanggal 1-Jan-2010 kita menginvestasikan 50% modal ke dalam bentuk saham, sedangkan 50% lainnya disimpan dalam bentuk ORI atau Sukuk (obligasi ritel pemerintah / surat utang syariah). Saham adalah modal yang dialokasikan, sedangkan ORI adalah modal yang disimpan sebagai simpanan setara kas.
  • 6 bulan kemudian (1-Jul-2010), setelah dievaluasi, ternyata nilai saham kita telah meningkat 10%, sedangkan nilai ORI telah meningkat 3%. Ini berarti nilai saham = 50 Juta x 110% = 55 Juta, sedangkan nilai ORI = 50 Juta x 103% = 51,5 Juta. Jika dijumlah antara saham dan ORI nilainya = 55 Juta + 51,5 Juta = 106,5 Juta.
  • Lakukan Rebalance dengan cara menghitung berdasarkan komposisi 50% : 50%. Artinya saham harus bernilai 53,25 Juta dan ORI harus bernilai 53,25 Juta. Untuk melakukan hal ini, maka jual saham kita senilai 55 Juta – 53,25 Juta = 1,75 Juta. Tambahkan sejumlah tersebut ke dalam bentuk ORI.
  • Jika yang terjadi sebaliknya (keuntungan saham dibawah ORI atau malah merugi), maka jual sebagian ORI untuk dibelikan saham.
  • Lakukan langkah-langkah rebalance tersebut setiap 6 Bulan secara konsisten.

Tujuan dari menyeimbangkan komposisi investasi dan kas secara periodik adalah untuk memastikan anda memiliki cukup kas saat ada peluang.

7. Withdrawal (Mengambil Keuntungan untuk Konsumsi)

Keuntungan dari investasi dapat ditarik dan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini tentu setelah mempertimbangkan reinvestasi untuk menjaga inflasi, reinvestasi untuk pertumbuhan modal, serta rebalance. Seorang investor yang bijaksana tidak akan mengambil keuntungan tanpa perhitungan yang tepat, apalagi sekedar untuk memenuhi hasrat belanja. Withdrawal bisa dianalogikan sebagai keputusan untuk menentukan “gaji” kita sendiri.

What Next?

Pada bagian selanjutnya, kita akan coba bahas lebih dalam setiap poin siklus tersebut diatas.

Mari Ber-Investasi – Part 1

Sewaktu sedang memanaskan mobil di basement, ada seorang sopir yang menghampiri saya. Dia bertanya apakah saya membutuhkan jasa sopir. Saya tolak dengan halus karena memang belum butuh. Doi kelihatannya sedang galau, jadi dia sedikit curhat, “Iya nih Pak, kebutuhan saya kan banyak. Majikan yang sekarang susah sekali dipinjami uang. Padahal saya perlu untuk kebutuhan sehari-hari”. Saya hanya senyum sambil dalam hati berpikir, “Ini orang gagal banget ngurus duitnya, kalau mau pinjam untuk kebutuhan tidak terduga sih wajar, tapi masa sih kebutuhan sehari-hari aja mesti pinjam? Bukannya dia punya pendapatan tetap?”. Percaya atau tidak, banyak orang punya masalah serupa meski mereka punya pendapatan yang jauh lebih tinggi ketimbang gaji seorang sopir.

The thing is… Banyak orang yang ingin keluar dari situasi seperti ini dan menjadi kaya, tapi tidak tahu bagaimana caranya. 

 “Kaya” di sini dalam arti positif, yaitu bisa mengerjakan hal bermanfaat yang hasilnya memadai untuk kebutuhan hidup + membantu orang lain, serta punya waktu untuk menikmatinya (alias tidak kehabisan waktu hanya untuk mencari uang saja). Sebagai muslim, saya percaya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Allah SWT, kita hanya perlu menjemputnya. Ini analoginya, anda sedang berada di rumah, lalu seorang teman menelpon dan mengundang anda untuk di traktir di restoran top-markotop. Jika anda mau datang, otomatis hidangan lezat jadi rezeki dan masuk perut anda. Kalau anda malas datang, nggak usah ngarep dikirim pake kurir kaleee :-P.

Problemo.. Problemo.. Problemo..

Sebenarnya, problem utama yang membuat orang susah kaya adalah karena orang menjual “waktu” mereka. Contoh: Seorang karyawan akan dibayar sejumlah jam kerjanya. Kalau ia absen lebih dari jatahnya, pasti kena potong gaji. Bahkan dokter yang berpenghasilan lumayan tinggi pun sebenarnya dibayar sejumlah jam konsultasi dan tindakannya. Apakah anda mau dioperasi oleh perawat sementara sang dokter sedang liburan ke Hawaii?

“Waktu” adalah sumber daya paling mahal karena ia tidak bisa lebih dari 24 jam sehari. Satu-satunya cara menjadi kaya dari menjual “waktu” adalah membuat “waktu” anda dihargai semahal mungkin. Pada prakteknya, ini sering terbentur dengan yang namanya “kompetisi”.

 Contoh: 

Seorang Manajer yang digaji Rp. 20jt per-bulan, sebenarnya digaji Rp. 1jt per-hari (asumsi 1 bulan = 20 hari-kerja). Artinya dia digaji Rp. 125.000 / jam (dengan asumsi 1 hari = 8 jam kerja).

Kalau mau lembur poll, maksimal gajinya: Rp. 125.000 x 24-jam x 30-hari = Rp. 90jt. Kalau ia ingin lebih dari itu, maka ia harus mengerjakan pekerjaan yang bisa dihargai lebih dari Rp. 20jt per-bulan.

Kalau ia keukeuh ingin gajinya naik tapi pekerjaannya tetap sama, yang terjadi perusahaannya akan mencari manajer lain yang mau dibayar sebesar Rp. 20jt. Perusahaan hanya akan bersedia mengikuti paksaan itu apabila tidak bisa menemukan orang yang mau digaji Rp. 20jt untuk menggantikan sang manajer DAN punya budget untuk itu.

Beberapa orang berhasil menjual waktu mereka dengan sangat mahal, diantaranya adalah pengacara terkenal, artis ngetop, dokter spesialis yang laku banget, atau konsultan yang billing rate-nya US$ 1.000 per-jam. Biasanya orang-orang ini punya keahlian khusus yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Mereka juga well-known alias populer, sehingga customer datang sendiri tanpa perlu di cari. Customer harus bersaing dengan customer lainnya untuk bisa mendapatkan jasa mereka (alias membeli “waktu” mereka). Akibatnya mereka bisa bilang, “Bayar per-jam US$ 1.000 ya… kalau nggak mau, minta orang lain aja ngerjain kerjaan ini” :O … *gubrak*

Salah satu jalan keluar dari permasalahan “menjual waktu” ini adalah dengan melakukan investasi. Apa dan bagaimana caranya? Ini yang akan jadi topik kita kali ini.

Investasi adalah menempatkan uang di suatu kegiatan dengan harapan memperoleh keuntungan, yang setelah melalui analisa mendalam, diyakini memiliki tingkat keamanan yang tinggi dalam melindungi modal dasar (nilai pokok investasi) serta keuntungan dalam periode tertentu.

Kebalikannya, menempatkan uang di suatu kegiatan dengan harapan memperoleh keuntungan, TANPA melalui analisa mendalam, tanpa memiliki tingkat keamanan yang tinggi dalam melindungi modal dasar (nilai pokok investasi) serta keuntungan disebut sebagai Spekulasi.

Apa itu Kaya?

Saya coba meminjam istilah “kaya” dari definisi HNWI (High Net Worth Individual). HNWI adalah orang yang memiliki asset investasi senilai minimal US$ 1 Juta, di luar rumah yang ditempati, mobil yang dipergunakan, dan asset yang bersifat konsumsi lainnya.

“Bodoh-bodohannya”, dengan investasi US$ 1 Juta, kalau return* per-tahun-nya 20%, dimana 8% di-reinvest*** untuk mengikuti inflasi**, berarti masih tersisa 12% untuk di-konsumsi. Artinya, bisa punya uang bulanan US$ 1 Juta * 12% / 12 bulan = US$ 10,000 tanpa bekerja. Artinya, selain punya uang, ia juga punya waktu untuk menikmati US$ 10,000 miliknya tersebut.

Apakah return, inflasi, dan reinvest?

Return adalah perbandingan antara uang yang di dapat berbanding dengan uang yang di investasikan. Misalnya kita punya uang Rp. 100 Juta. Pada 1-Januari-2012 di simpan di deposito dengan bunga 6% / tahun, dikurangi pajak 20%, artinya return kita adalah 6% * (100% – 20%) = 4,8%. Dengan demikian, pada tanggal 31-Desember-2012, kita akan mendapatkan kembali uang modal senilai Rp. 100 Juta ditambah keuntungan dari bunga sebesar Rp. 4,8 Juta.

** Inflasi adalah kenaikan harga barang & jasa. Coba ingat-ingat, pada tahun 2000, berapa harga teh botol? sekarang lebih mahal kan? 🙂 Di Indonesia, inflasi berkisar antara 6% s/d 8% per-tahun. Artinya harga barang naik sekitar 2x lipat per-sepuluh tahun

*** Reinvest adalah menginvestasikan kembali hasil keuntungan dari suatu investasi. Untuk menghindari inflasi, anda perlu re-invest sebesar besaran inflasi yang berlaku. Dengan demikian, nilai keuntungan investasi yang anda terima akan meningkat sebesar nilai inflasi. Dengan demikian, nilai real keuntungan yang anda terima selalu sama dari tahun ke tahun.

Membaca ilustrasi diatas, kebanyakan orang akan langsung terpikir, “Tapi kan gue nggak punya sejuta dollar…”. Tenang.. di artikel selanjutnya kita akan kupas tuntas semuanya! mulai dari modal (dengkul?) sampai (mudah-mudahan…) puas 🙂 hehehe… Bocoran saja, masalah terbesar di sini bukan bagaimana mendapatkan modal US$ 1 Juta, tapi bagaimana memutar uang anda untuk mendapatkan return 20%. Yap.. 20%.. itu nggak “hanya” loh, karena investor kakap sekelas Warren Buffet saja prestasinya hanya 23% 🙂

Oya, punya waktu tidak identik dengan nganggur dan berfoya-foya. Lihatlah ini sebagai jalan agar kita bisa bekerja dengan berfokus pada manfaat, bukan semata-mata pada jumlah uang yang ingin didapat.Dalam kisah terdahulu, investasi dicontohkan saat Siti Khadijah (sebelum menikah dengan nabi) menitipkan dagangan pada nabi Muhammad saw. Investasi juga merupakan sarana memajukan umat karena dengan investasi roda ekonomi akan berputar ketimbang kalau harta kita hanya ditumpuk saja. Satu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua jenis investasi itu “halal”.

What Next?

Kebanyakan orang enggan ber-investasi karena merasa tidak punya modal. Seolah kalau ia punya modal, maka semuanya akan lancar-jaya kayak ngebut di jalan tol kosong. Saya sendiri berpendapat investasi sebenarnya adalah lifestyle. Modal bukan satu-satunya faktor. Lakukan saja semuanya dengan benar dan konsisten, maka Insya Allah akan sampai ditujuan pada waktunya.

Pada artikel selanjutnya, kita akan ulas mengenai:

  1. Paradigma Investasi
  2. Jenis Investor
  3. Siklus Investasi (Seed, Allocation, Protection, Reinvest, Growth, Rebalance, Withdrawal)
  4. Studi Kasus: Investasi Sederhana di Bidang Property, Investasi di Saham Perusahaan Publik
  5. Perbedaan Investor dan Spekulator
  6. Investor Lifestyle (starting, execution, contribution, gratitude)
  7. Jebakan Para Investor
  8. dll

BTW, saya bukan motivator professional semacam Mario Teguh atau penasihat finansial semacam Tung Desem Waringin. Saya hanya orang biasa seperti anda, yang kebetulan beberapa tahun terakhir ini belajar berbisnis. Hasilnya memang belum luar biasa, alhamdulillah cukup saja, dan Insya Allah sudah on-the-track ke arah yang direncanakan. So, the whole article is about knowledge sharing, untuk menunaikan kewajiban saya berbagi apa yang saya tahu… mudah-mudahan bisa berguna 🙂

CU in the next article…