Mari Ber-Investasi – Part 1

Sewaktu sedang memanaskan mobil di basement, ada seorang sopir yang menghampiri saya. Dia bertanya apakah saya membutuhkan jasa sopir. Saya tolak dengan halus karena memang belum butuh. Doi kelihatannya sedang galau, jadi dia sedikit curhat, “Iya nih Pak, kebutuhan saya kan banyak. Majikan yang sekarang susah sekali dipinjami uang. Padahal saya perlu untuk kebutuhan sehari-hari”. Saya hanya senyum sambil dalam hati berpikir, “Ini orang gagal banget ngurus duitnya, kalau mau pinjam untuk kebutuhan tidak terduga sih wajar, tapi masa sih kebutuhan sehari-hari aja mesti pinjam? Bukannya dia punya pendapatan tetap?”. Percaya atau tidak, banyak orang punya masalah serupa meski mereka punya pendapatan yang jauh lebih tinggi ketimbang gaji seorang sopir.

The thing is… Banyak orang yang ingin keluar dari situasi seperti ini dan menjadi kaya, tapi tidak tahu bagaimana caranya. 

 “Kaya” di sini dalam arti positif, yaitu bisa mengerjakan hal bermanfaat yang hasilnya memadai untuk kebutuhan hidup + membantu orang lain, serta punya waktu untuk menikmatinya (alias tidak kehabisan waktu hanya untuk mencari uang saja). Sebagai muslim, saya percaya rezeki setiap orang sudah dijamin oleh Allah SWT, kita hanya perlu menjemputnya. Ini analoginya, anda sedang berada di rumah, lalu seorang teman menelpon dan mengundang anda untuk di traktir di restoran top-markotop. Jika anda mau datang, otomatis hidangan lezat jadi rezeki dan masuk perut anda. Kalau anda malas datang, nggak usah ngarep dikirim pake kurir kaleee :-P.

Problemo.. Problemo.. Problemo..

Sebenarnya, problem utama yang membuat orang susah kaya adalah karena orang menjual “waktu” mereka. Contoh: Seorang karyawan akan dibayar sejumlah jam kerjanya. Kalau ia absen lebih dari jatahnya, pasti kena potong gaji. Bahkan dokter yang berpenghasilan lumayan tinggi pun sebenarnya dibayar sejumlah jam konsultasi dan tindakannya. Apakah anda mau dioperasi oleh perawat sementara sang dokter sedang liburan ke Hawaii?

“Waktu” adalah sumber daya paling mahal karena ia tidak bisa lebih dari 24 jam sehari. Satu-satunya cara menjadi kaya dari menjual “waktu” adalah membuat “waktu” anda dihargai semahal mungkin. Pada prakteknya, ini sering terbentur dengan yang namanya “kompetisi”.

 Contoh: 

Seorang Manajer yang digaji Rp. 20jt per-bulan, sebenarnya digaji Rp. 1jt per-hari (asumsi 1 bulan = 20 hari-kerja). Artinya dia digaji Rp. 125.000 / jam (dengan asumsi 1 hari = 8 jam kerja).

Kalau mau lembur poll, maksimal gajinya: Rp. 125.000 x 24-jam x 30-hari = Rp. 90jt. Kalau ia ingin lebih dari itu, maka ia harus mengerjakan pekerjaan yang bisa dihargai lebih dari Rp. 20jt per-bulan.

Kalau ia keukeuh ingin gajinya naik tapi pekerjaannya tetap sama, yang terjadi perusahaannya akan mencari manajer lain yang mau dibayar sebesar Rp. 20jt. Perusahaan hanya akan bersedia mengikuti paksaan itu apabila tidak bisa menemukan orang yang mau digaji Rp. 20jt untuk menggantikan sang manajer DAN punya budget untuk itu.

Beberapa orang berhasil menjual waktu mereka dengan sangat mahal, diantaranya adalah pengacara terkenal, artis ngetop, dokter spesialis yang laku banget, atau konsultan yang billing rate-nya US$ 1.000 per-jam. Biasanya orang-orang ini punya keahlian khusus yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Mereka juga well-known alias populer, sehingga customer datang sendiri tanpa perlu di cari. Customer harus bersaing dengan customer lainnya untuk bisa mendapatkan jasa mereka (alias membeli “waktu” mereka). Akibatnya mereka bisa bilang, “Bayar per-jam US$ 1.000 ya… kalau nggak mau, minta orang lain aja ngerjain kerjaan ini” :O … *gubrak*

Salah satu jalan keluar dari permasalahan “menjual waktu” ini adalah dengan melakukan investasi. Apa dan bagaimana caranya? Ini yang akan jadi topik kita kali ini.

Investasi adalah menempatkan uang di suatu kegiatan dengan harapan memperoleh keuntungan, yang setelah melalui analisa mendalam, diyakini memiliki tingkat keamanan yang tinggi dalam melindungi modal dasar (nilai pokok investasi) serta keuntungan dalam periode tertentu.

Kebalikannya, menempatkan uang di suatu kegiatan dengan harapan memperoleh keuntungan, TANPA melalui analisa mendalam, tanpa memiliki tingkat keamanan yang tinggi dalam melindungi modal dasar (nilai pokok investasi) serta keuntungan disebut sebagai Spekulasi.

Apa itu Kaya?

Saya coba meminjam istilah “kaya” dari definisi HNWI (High Net Worth Individual). HNWI adalah orang yang memiliki asset investasi senilai minimal US$ 1 Juta, di luar rumah yang ditempati, mobil yang dipergunakan, dan asset yang bersifat konsumsi lainnya.

“Bodoh-bodohannya”, dengan investasi US$ 1 Juta, kalau return* per-tahun-nya 20%, dimana 8% di-reinvest*** untuk mengikuti inflasi**, berarti masih tersisa 12% untuk di-konsumsi. Artinya, bisa punya uang bulanan US$ 1 Juta * 12% / 12 bulan = US$ 10,000 tanpa bekerja. Artinya, selain punya uang, ia juga punya waktu untuk menikmati US$ 10,000 miliknya tersebut.

Apakah return, inflasi, dan reinvest?

Return adalah perbandingan antara uang yang di dapat berbanding dengan uang yang di investasikan. Misalnya kita punya uang Rp. 100 Juta. Pada 1-Januari-2012 di simpan di deposito dengan bunga 6% / tahun, dikurangi pajak 20%, artinya return kita adalah 6% * (100% – 20%) = 4,8%. Dengan demikian, pada tanggal 31-Desember-2012, kita akan mendapatkan kembali uang modal senilai Rp. 100 Juta ditambah keuntungan dari bunga sebesar Rp. 4,8 Juta.

** Inflasi adalah kenaikan harga barang & jasa. Coba ingat-ingat, pada tahun 2000, berapa harga teh botol? sekarang lebih mahal kan? 🙂 Di Indonesia, inflasi berkisar antara 6% s/d 8% per-tahun. Artinya harga barang naik sekitar 2x lipat per-sepuluh tahun

*** Reinvest adalah menginvestasikan kembali hasil keuntungan dari suatu investasi. Untuk menghindari inflasi, anda perlu re-invest sebesar besaran inflasi yang berlaku. Dengan demikian, nilai keuntungan investasi yang anda terima akan meningkat sebesar nilai inflasi. Dengan demikian, nilai real keuntungan yang anda terima selalu sama dari tahun ke tahun.

Membaca ilustrasi diatas, kebanyakan orang akan langsung terpikir, “Tapi kan gue nggak punya sejuta dollar…”. Tenang.. di artikel selanjutnya kita akan kupas tuntas semuanya! mulai dari modal (dengkul?) sampai (mudah-mudahan…) puas 🙂 hehehe… Bocoran saja, masalah terbesar di sini bukan bagaimana mendapatkan modal US$ 1 Juta, tapi bagaimana memutar uang anda untuk mendapatkan return 20%. Yap.. 20%.. itu nggak “hanya” loh, karena investor kakap sekelas Warren Buffet saja prestasinya hanya 23% 🙂

Oya, punya waktu tidak identik dengan nganggur dan berfoya-foya. Lihatlah ini sebagai jalan agar kita bisa bekerja dengan berfokus pada manfaat, bukan semata-mata pada jumlah uang yang ingin didapat.Dalam kisah terdahulu, investasi dicontohkan saat Siti Khadijah (sebelum menikah dengan nabi) menitipkan dagangan pada nabi Muhammad saw. Investasi juga merupakan sarana memajukan umat karena dengan investasi roda ekonomi akan berputar ketimbang kalau harta kita hanya ditumpuk saja. Satu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua jenis investasi itu “halal”.

What Next?

Kebanyakan orang enggan ber-investasi karena merasa tidak punya modal. Seolah kalau ia punya modal, maka semuanya akan lancar-jaya kayak ngebut di jalan tol kosong. Saya sendiri berpendapat investasi sebenarnya adalah lifestyle. Modal bukan satu-satunya faktor. Lakukan saja semuanya dengan benar dan konsisten, maka Insya Allah akan sampai ditujuan pada waktunya.

Pada artikel selanjutnya, kita akan ulas mengenai:

  1. Paradigma Investasi
  2. Jenis Investor
  3. Siklus Investasi (Seed, Allocation, Protection, Reinvest, Growth, Rebalance, Withdrawal)
  4. Studi Kasus: Investasi Sederhana di Bidang Property, Investasi di Saham Perusahaan Publik
  5. Perbedaan Investor dan Spekulator
  6. Investor Lifestyle (starting, execution, contribution, gratitude)
  7. Jebakan Para Investor
  8. dll

BTW, saya bukan motivator professional semacam Mario Teguh atau penasihat finansial semacam Tung Desem Waringin. Saya hanya orang biasa seperti anda, yang kebetulan beberapa tahun terakhir ini belajar berbisnis. Hasilnya memang belum luar biasa, alhamdulillah cukup saja, dan Insya Allah sudah on-the-track ke arah yang direncanakan. So, the whole article is about knowledge sharing, untuk menunaikan kewajiban saya berbagi apa yang saya tahu… mudah-mudahan bisa berguna 🙂

CU in the next article…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s