Perlu Pindah dari WA ke Telegram/Signal?

Pembaruan klausul WhatsApp bikin heboh. Ada yang sampai mengajak semua anggota grup WA untuk pindah, ada yang ikutan pindah karena teman pada pindah, tapi ada juga yang cuek aja. Wajar, soalnya concern setiap orang atas privacy dan security sebenarnya memang bervariasi.

Sumber: media yang tidak dapat dipercaya

Mungkin banyak yang belum tahu bedanya security dan privacy. Meskipun gak pas banget, tapi gampangnya gini deh. Security adalah kebebasan untuk menghindari potensi bahaya yang diakibatkan pihak lain. Sedangkan privacy adalah kebebasan untuk terhindar dari pengamatan pihak lain. Nah, beda kan?

http://www.differencebetween.net/technology/internet/difference-between-security-and-privacy/

Misalnya, kita mungkin tidak keberatan orang lain mengintip saldo gupay atau ovu kita. Toh saldonya juga tiris. Tapi keberatan kalau jumlahnya berkurang tanpa persetujuan kita sendiri. Dalam konteks tsb, kita butuh security, tapi tak peduli dengan privacy. Security dapat dipenuhi tanpa privacy, kebalikannya privacy tak bisa terpenuhi tanpa security.

Privacy sebenarnya sudah lama almarhum. Setiap kita googling barang atau cuci mata di marketplace semacam tahupedia atau shapie, lalu buka Facebook (FB), pasti barang inceran bakal ikut menghantui 👻 Iklannya selalu tampil mengikuti, ke sosmed manapun kita pergi. Seolah menyapa dalam sunyi, “Boleh kak, mampir lagi… kakak… keranjangnya masih di sini… tunggu apa lagi?… tinggal satu klik lagi… kakaak… kaak… kaaak… kaaaakk”……….

Sumber: handphone nganggur di sebelah saya

Placeholder kotak status FB bunyinya, “What’s on your mind?”. Jadi setiap kali menulis status atau sekedar reshare postingan teman, sebenarnya kita sudah memberitahu FB tentang minat kita sendiri. Begitupun saat berkomentar, memberi like, atau mengikuti page/group terlarang. FB sangat mengenal kita dari semua itu.

Hanya perlu 70 likes untuk membuat FB bisa mengenal user lebih baik dari teman sekamar, 150 likes untuk membuat FB lebih mengenal user ketimbang orang tuanya, dan 300 likes untuk membuat FB lebih mengenal user ketimbang pasangannya.

https://www.nytimes.com/2015/01/20/science/facebook-knows-you-better-than-anyone-else.html

And yes… kita, ya… saya dan kalian para netijen yang budiman. Sudah ikhlas secara berjamaah untuk membuat FB lebih mengenal kita ketimbang orang-orang terdekat kita sekalipun.

Lalu kenapa baru sekarang ributnya?

Padahal WhatsApp kan cuma mau menambah sedikit data? Iya kan, Kang Mark?

Mungkin karena di WA kita menulis banyak hal privat. Dari nomor rekening sampai nomor PIN. Dari opini sampai gosip terkini. But hey… emangnya Kang Mark peduli? Dia kan cuma mau jualannya laku. Profiling target audience dengan lebih detil, biar iklannya lebih tepat sasaran.

Buat yang bukan jadi target operasi (TO), melindungi privacy mungkin gak perlu sampai segitunya. Tapi kalau informasi yang ada di kepalamu adalah target bernilai tinggi. Apa jaminannya FB (dengan atau tanpa I sesudahnya) tidak menyalahgunakan data yang diketahuinya? Lagian kan….

Anything that can go wrong, will go wrong

Murphy’s Law

Jadi, apakah kita perlu mengungsi dari dunia WA ke alam Telegram? Ya tergantung…

Gambar hanyalah ilustrasi. Tidak ada hewan yang disakiti selama proses penulisan blog ini.

Kalau kamu demen dapat iklan yang cocok dengan keinginan, gak perlulah pindahan. Kalau keberatan, monggo boyongan. Sekalian aja buat akun email terpisah untuk marketplace dan sosmed. Matikan cookies, matikan juga opsi “Ads personalisation” google-mu di sini: https://adssettings.google.com/authenticated

Eh, tadi lupa bilang ya?

Demi iklan, google sebetulnya tracking semua keyword yg kita pakai utk googling, history website yg kita kunjungi, dll 😀 Kalau perlu, aktifkan aplikasi untuk membatasi pembacaan data pribadi atau sekalian ganti search engine ke duckduckgo.com. Search engine ini menjamin data kita gak bakal dipake untuk keperluan lain. Jangan ikut quiz-quizan, apalagi mengisi data diri ke apps karena iming-iming voucher cebanan. Tapi kalo gobanan siiiiih… 🤔 coba ditimang-timang dulu… boleh deh, privacynya nanti beli lagi aja.

Sumber: googling aja sendiri. Jangan males.

Kalau kamu sebangsa James Bond, jelas WA bukan pilihan. Ikuti saja Uda Snowden dan Mas Elon, pakai apps Signal.

Saran Mas Elon, eh Elon Musk

Founder Signal adalah founder WA yang berantem dengan Kang Mark karena gak mau monetisasi dengan membaca data user. Atau para cwk bisa pakai apps Telegram punyanya Bang Durov. Doi ganteng loh. Tapi kalau kamu bukan cwk, melainkan kamu cwk, ya terserah aja deh.

Ganteng versi rusia, bukan korea.

Kalau mengirim file lewat email, jangan lupa dienkripsi dulu dan kirim passwordnya lewat media lain (non-email). Eh, tapi gimana memastikan passwordnya gak terbaca orang lain? Kan passwordnya gak dipassword ma meeen!

Berarti ini saatnya kamu pakai:

Digital Certificate

Gampangnya gini. Kita terbiasa mengunci dan membuka pintu rumah pakai satu kunci. Kunci tersebut disebut symetric key. Dalam konteks digital, ada jenis kunci lain yg disebut asymetric key. Jadi, ada sepasang kunci, misalnya kunci A dan kunci B. Jika pintu dikunci dengan A, maka pintu itu hanya bisa dibuka dengan B. Vice versa.

Untuk membuat digital certificate, yang perlu dilakukan pertama kali adalah men-generate pasangan kunci tsb, biasanya disebut Private Key dan Public Key. Private Key dirahasiakan oleh kita sendiri. Sedangkan Public Key disebarkan atau diserahkan ke Lembaga Certificate Authority.

Jika Dudi Corbuzier ingin mengirim pesan pada Rifa Ahmed, maka Dudi meng-enkripsi (menyandikan) pesan tsb dengan Public Key milik Rifa. Akibatnya, hanya Rifa yang dapat men-dekripsi menggunakan Private Key yang dirahasiakannya sendiri. Sehingga hanya Rifa yang dapat membaca pesan yang dikirim Dudi tersebut. Tidak ada kunci/password yang perlu dikirim. Itu baru perkara confidentiality (kerahasiaan) dan integrity (memastikan pesan tidak berubah ditengah jalan).

Masih ada lanjutannya, yaitu authenticity (memastikan bahwa yang mengirim benar-benar si Dudi, bukan orang lain yang berpura-pura menjadi Dudi). Caranya dengan meng-enkripsi hasil enkripsi di atas, dengan Private Key milik Dudi. Dengan begitu, Rifa terlebih dahulu men-dekripsi pesan menggunakan Public Key milik Dudi. Bila berhasil, berarti pesan tersebut memang dibuat oleh Dudi. Ini sekaligus membuat Dudi tidak dapat menyangkal isi pesan yang dibuatnya (non-repudiation).

Tidak ada enkripsi yang tidak bisa dijebol. Hanya saja, menjebolnya butuh ribuan tahun. Sialnya, asumsi ini bisa bubar jalan kalau teknologi quantum computing berhasil kelak 😄 ya wayahna wae nyieun nu sejen deui.

Jadi perlu pindahan gak? Ya silakan disesuaikan dengan kriteria di atas, dan situasi kebatinan masing-masing.

It is not a secret if it is known by three people

Irish Proverbs

*irish = cimahi ke sanaan dikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close