PSBB

Menjelang ramadhan jadi teringat hakekat puasa yang disampikan Imam Ghazali. Saat makan dan seks dilarang, tubuh akan terlatih menghindarinya. Lalu, secara sadar tidak lagi perlu mengontrol syahwat (kebutuhan jasmani). Kita jadi punya peluang besar untuk berfokus mengontrol nafsu, diantaranya keserakahan, kesombongan, dan panjang angan-angan. Penyakit hati semacam itu memang tak bisa diatasi dengan menahan syahwat.

Sebulan mendekam di rumah memaksa kita untuk tidak menikmati hiburan dan mencari nafkah keluar rumah. Puasa hiburan dan pekerjaan ini ibarat menahan lapar & seks. Di tahap ini kita masih harus melatih diri melakukannya. Seperti dulu kita berlatih menahan lapar & seks. Berat, tapi tidak impossible. Setelah kita mampu mengatasi rasa terpenjarakan, maka muncul peluang untuk mengelola aspek lainnya.

Berdiam di rumah menambah waktu kebersamaan dengan keluarga. Pagi-pagi masih bisa menikmati jalan-jalan dibawah sinar mentari dan menanyakan anak, “Hari ini kamu mau belajar apa?”. Meeting vicon cenderung on-time karena tidak kena macet. Cenderung selesai on-time juga, orang jadi lebih suka to-the-point. Mungkin layarnya kekecilan untuk bercanda gak penting 😄 Memudahkan untuk shalat tepat waktu.

Siang masih bisa mereview home assignmentnya anak. Anak jaman sekarang sudah bisa kerja mandiri, kalau sudah selesai baru direview. Kalau salah, cukup diberi clue dan dia cari solusinya sendiri. Kalau sdh betul-betul mentok, baru dibantu. Kurikulum sekolah sekarang jauh lebih maju ketimbang jaman bapaknya dulu. Kadang sempat juga nemenin anak balita bobo siang, meski cuma kebagian gak sampai sejam. Rush hour pagi-petang tidak lagi masalah. Buat yang rajin jadi bisa diganti baca al-matsurat. Lah, kan sama-sama pagi-petang tokh 😄

Mungkin ini saatnya kita mengontrol cara kita memanage waktu. Buat saya, traffic jam & inefficient meeting tampak jelas jadi root cause inefektifitas waktu selama ini. Kalaupun WFH berakhir, media dan metode meeting saat ini harus tetap dipertahankan.

Kepercayaan adalah aspek penting lainnya. Bekerja jarak jauh membatasi kontrol. Orang bisa saja mengaku atau merasa sudah bekerja maksimal, padahal tidak. In the end, ukurannya adalah hasil. Apapun cara kerjanya, kalau hasil bagus berarti benar, kalau buruk berarti salah. Tanpa kontrol, maka kepercayaan jadi yang utama. Sudah seharusnya kita lebih bisa dipercaya.

PSBB membatasi lokasi. Sebuah kesempatan agar kita bisa introspeksi tentang cara kita memanfaatkan waktu. Sumber daya yang jauh lebih berharga ketimbang uang atau barang. Bukan begitu? 😊

“Demi masa (Waktu), sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1-3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close