Teruntuk Para Simpatisan Prabowo dan Jokowi

Semakin dekat hari-H Pilpres, semakin marak informasi baik berupa fakta maupun opini bertebaran di media masa. Media sosial bahkan menjadi ajang perebutan “pengaruh” para timses maupun simpatisan kedua capres. Pro-kontra yang terjadi seringkali memicu rasa tidak nyaman bahkan permusuhan diantara kawan. Akibatnya, muncul rasa bimbang pada batin para calon pemilih. IMHO, ini wajar dan baik, karena itu berarti kita berusaha menggunakan akal dan naluri yang dimiliki.

capres

Tim sukses dan simpatisan kedua capres seringkali berusaha mempengaruhi para undecided / swing voters agar berpihak pada jagoannya. Tentu ini wajar karena mereka ingin mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan tim sukses yang relatif paham tentang teknik dan strategi mempengaruhi calon pemilih, para simpatisan seringkali adalah masyarakat yang tidak begitu paham tentang teknik mempengaruhi secara efektif. Perilaku simpatisan yang kerap berapi-api, menekan, menyalahkan, menyebar berita sepihak, bahkan menghina kawan sendiri, seringkali malah menjadi kontra-produktif. Akibatnya, bukan dukungan yang didapat, malah antipati yang semakin meningkat.

Hari-H Pilpres sudah semakin dekat, situasi pun tampak semakin memanas. Bagaimana sebaiknya para simpatisan bersikap?

Saya yakin para simpatisan sesungguhnya adalah pribadi yang baik. Semangat untuk mempromosikan capres jagoan muncul karena rasa peduli mereka atas nasib bangsa ini ke depan. Proses dukung-mendukung pun merupakan bentuk pembelajaran kehidupan demokrasi NKRI yang kita cintai. Oleh karena itu, ijinkan saya mengusulkan satu bentuk “kampanye” yang:

  • Dapat menggalang dukungan secara efektif.
  • Meningkatkan kemampuan bangsa menerima perbedaan pendapat sehingga kerukunan dapat selalu terjaga.
  • Meningkatkan kecerdasan calon pemilih dalam menentukan pilihan.

Proses Pengambilan Keputusan

Sebelum berbicara tentang bagaimana mempengaruhi orang lain dan menggalang dukungan, mari kita cermati proses pengambilan keputusan yang terjadi dalam diri seorang calon pemilih.

Pada intinya setiap manusia memiliki pola pikir yang berbeda. Dalam mengambil keputusan, seseorang bisa cenderung menggunakan logika atau cenderung menggunakan perasaan. Di sisi lain, seseorang bisa cenderung memutuskan sesuatu dengan mengacu pada diri sendiri atau mengacu pada orang/kelompok yang ia percayai. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:DecisionMakingModel

Orang yang cenderung menggunakan logika (logical) umumnya mampu memahami masalah yang rumit, bahkan memformulasikan pikirannya dengan sangat jelas. Sedangkan orang yang cenderung menggunakan perasaan (intuition) umumnya memiliki daya pikir praktis dan pandai dalam menilai perilaku orang lain.

Orang yang cenderung mengambil keputusan dengan mengacu pada diri sendiri (individual) umumnya memiliki prinsip yang kuat dan mampu mencari fakta secara mendalam. Sedangkan orang yang cenderung mengambil keputusan dengan mengacu pada orang/kelompok yang ia percayai (consensus) umumnya sangat pandai menjalin hubungan dan memiliki banyak kawan terpercaya.

Tidak ada yang benar atau salah dalam pola pikir tersebut. Pada intinya semua orang bisa menggunakan keempat pola pikir diatas tergantung situasi yang dirasa pas. Meski dalam kenyataannya, ada satu-dua pola pikir akan cenderung lebih sering digunakan. Jika simpatisan mampu memilih pendekatan (cara berkomunikasi) yang tepat, maka pesan akan sampai dengan tepat dan dukungan pun niscaya didapat.

Menggalang Dukungan Di Media Sosial

Media sosial seringkali menjadi ajang “kampanye” para simpatisan. Perlu dicermati bahwa menulis status, sharing berita, dan berkomentar di media sosial berbeda dengan berdiskusi dalam ruang terbatas (misalnya tatap muka). Setiap tindakan di media sosial akan dilihat oleh 3 kelompok calon pemilih, yaitu:

  • Kelompok calon pemilih yang sependapat (satu kubu) dengan penulis
  • Kelompok calon pemilih yang berbeda pendapat (berbeda kubu) dengan penulis
  • Kelompok calon pemilih yang masih belum menentukan pilihan (undecided voters)

Karena bersifat publik, kita tidak bisa mencegah ketiga kelompok pemilih untuk tidak mengamati tindakan kita di media sosial. Setiap tindakan bisa berdampak berbeda terhadap ketiga jenis kelompok. Oleh karena itu, penting bagi simpatisan untuk memahami bagaimana mengambil tindakan yang tepat, sehingga memaksimalkan efektifitas dalam menggalang dukungan, menjaga hubungan baik dengan sesama kawan yang berbeda pendapat, serta membantu publik untuk menjadi pemilih cerdas.

Tujuh Tips dibawah ini semoga bisa bermanfaat:

1. Pastikan Hanya Share Berita Yang Valid

Kecintaan terhadap capres pilihan seringkali membuat simpatisan mudah percaya terhadap berita positif tentang capres jagoan dan berita negatif tentang capres lawan. Lakukan check-and-recheck kebenaran sumber berita, cara penyampaian, tendensi penulis, dll.

validUndecided voters yang cenderung berpikir logical umumnya pandai memilah berita. Biarkan mereka menilai sendiri berita yang anda share, tidak perlu berusaha terlalu keras membuatnya percaya karena bisa mengesankan anda menganggap mereka bodoh. Men-share fitnah, kebohongan, atau pemujaan berlebihan tidak akan bisa mempengaruhi mereka, bahkan bisa membuat mereka kehilangan kepercayaan terhadap anda dan cara anda mengambil keputusan.

2. Share Status Dengan Singkat dan Jelas

Saat menulis status untuk menyampaikan opini bebas atau pendapat terhadap suatu berita, tulislah secara singkat dan jelas. Status yang terlalu panjang seringkali membuat pembaca berhenti setelah membaca beberapa kalimat/paragraf. Undecided voters yang cenderung intuitive membutuhkan kalimat singkat yang “mengena”, bukan celotehan panjang yang kemana-mana. Kalimat yang “menyetuh” hati, bukan malah yang membuat sakit hati 😉

3. Tunjukkan Rasa Hormat Pada Sesama

Tunjukkan rasa hormat pada orang lain yang berbeda pendapat. Kita bukan Tuhan yang Maha Benar, jadi berusahalah terbuka atas sudut pandang yang berbeda. Kegagalan dalam menunjukkan rasa hormat seringkali menjauhkan undecided voters yang cenderung mengacu pada buah pikiran orang/kelompok lain (consensus).

respectKalimat nyinyir apalagi hinaan akan membuat mereka anti-pati terhadap para simpatisan tertentu, karena menganggapnya sebagai kelompok orang berperilaku buruk. Ujung-ujungnya mereka bahkan akan menjauhi capres yang diusung kelompok simpatisan tersebut.

4. Menyimak Untuk Memahami, Bukan Untuk Mencari-cari Kesalahan

Setiap manusia merasa tahu apa yang baik bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, hal pertama yang terpenting adalah menghargai pendapat sesama. Perwujudannya adalah dengan bersedia menyimak dan memahami terlebih dahulu pendapat orang lain, baru kemudian menyampaikan apa yang menjadi pendapat kita. Menyimak (listen) berbeda dengan mendengar (hear), karena menyimak berarti benar-benar berusaha memahami setiap buah pikiran dan sudut padang lawan bicara.

understandingSuatu status/share seringkali ramai dengan comments. Ketika ada kawan yang memberikan pendapat, berusahalah sebaik mungkin untuk menyimaknya. Jika tidak paham, cobalah klarifikasi bagian yang tidak dipahami tersebut. Dengan menyimak, kita akan bisa memahami pendapat, sudut pandang, dan tipe lawan bicara. Ini sangat penting untuk menentukan cara penyampaian yang paling efektif.

  • Berkomunikasi dengan orang tipe logical-individual: Berikan fakta yang anda yakini validitasnya, beri tahu juga sumbernya agar ia sendiri bisa melakukan cross-check, lalu layani dengan baik setiap pertanyaannya. Tidak perlu berusaha mempengaruhi, apalagi mengeluarkan perkataan yang seolah menganggap mereka bodoh.
  • Berkomunikasi dengan orang tipe intuitive-individual: Sampaikan kebaikan atau prestasi capres jagoan anda, terutama yang sifatnya “menyentuh”. Tidak perlu menyampaikan keburukan lawan, karena toh dia akan mendengar itu dari para simpatisan “garis keras” yang cenderung berkoar-koar dengan kasar.
  • Berkomunikasi dengan orang tipe logical-consensus: Sampaikan berita tentang dukungan nyata dari orang atau kelompok yang berintegritas tinggi, lengkap dengan alasan logis kenapa mereka memberikan dukungannya.
  • Berkomunikasi dengan orang intuitive-consensus: Sampaikan berita tentang dukungan nyata dari orang atau kelompok yang berintegritas tinggi. Buatlah agar dia merasa menjadi bagian dari kelompok orang yang memilih jalan yang benar.

5. Menjaga Kesantunan

politeJagalah kesantunan (politeness) anda. Perilaku tidak sopan dari para simpatisan akan membuat masalah menjadi masuk ke area personal. Jangankan menambah dukungan terhadap capres yang dijagokan, bisa jadi anda malah kehilangan teman. Perilaku negatif yang sering terjadi adalah menghina lawan bicara dan selalu berusaha tampak menang.

Kedua perilaku tersebut tidak sekedar membuat lawan bicara semakin menolak, tapi yang paling berbahaya, perilaku tersebut akan membuat orang lain yang mengamati percakapan tersebut menjadi anti-pati terhadap anda. Mungkin anda berpikir hanya satu suara yang hilang, kenyataannya jauh lebih banyak lagi suara yang hilang. Undecided voters yang mengacu pada consensus mungkin tidak bereaksi, tetapi diam-diam mengalihkan pilihan kepada lawan kelompok simpatisan yang dianggap tidak sopan tersebut. Para calon pemilih ini enggan berada bersama orang-orang yang tidak mampu menjaga harmoni.

6. Menjaga Integritas Diri Sendiri

Berusahalah untuk selalu jujur dengan apa yang terjadi. Katakan benar jika benar, katakan salah jika salah. Jangan hanya mengakui keunggulan capres jagoan, akui juga keunggulan capres lawan. Jangan hanya menyoroti kesalahan capres lawan, kritik juga kesalahan capres jagoan. Akui dan perbaiki kesalahan kita, beranilah mengambil tindakan yang benar meski itu mengandung resiko. Jadilah pribadi yang dapat dipercaya.

Yakinlah bahwa kawan-kawan anda adalah para pemilih cerdas. Jika simpatisan tidak mampu menjaga integritas, maka semua ucapannya akan sia-sia belaka. Dalam teori marketing, simpatisan seharusnya berperan sebagai public relation bukan sebagai advertiser. Hanya sedikit orang yang percaya pada pesan iklan (adversiting), kebanyakan orang percaya pada testimoni kawan (public relation). Kegagalan menjaga integritas akan membuat anda di-cap sebagai juru iklan, bukan lagi sebagai kawan.

7. Menjaga Tempo

Terlalu aktif menyebarkan berita politik, terutama yang bernuansa ekstrim akan membuat kawan menjadi bosan dan mengabaikan pesan anda. Lebih jauh, pesan anda bisa dirasa begitu mengganggu dan berujung dengan di-unfollow-nya bahkan di-unfriend-nya account anda.

Meski terkadang memang mengesalkan, tidaklah perlu mempublikasikan bahwa kita sudah tidak lagi berkawan dengan seseorang. Jika memang mengganggu, unfollow saja. Setelah pemilu bisa kan di follow lagi 🙂

 

Satu Nusa, Satu Bangsa

Siapapun capres pilihan kita, ingatlah bahwa kita semua bersaudara. Siapapun presidennya nanti, kita tetap harus bekerja dan berusaha. Jangan putuskan rezeki masa depan anda dengan memutus tali silaturahmi hanya karena masalah capres. Jangan sampai perbedaan pilihan merenggangkan hubungan kekerabatan. It is Not Worthed.

Mari Berdemokrasi Dengan Cerdas dan Damai

 

Salam damai bagi para pemilih cerdas 🙂

Hiduplah Indonesia Rayaaaa ….. indonesia-flag-icon

 

 

 

 

Advertisements

Ketika Kawan Menjadi Lawan

Aksi dukung-mendukung capres belakangan ini menyibakkan satu fakta mengenaskan dalam hal persahabatan. Hanya karena berbeda jagoan, kawan dianggap lawan, sahabat seolah berniat jahat.Silouhette-friends

Ketika makan siang, seorang kawan bertanya, “Kenapa orang bisa menjadi begitu fanatik?”.

Saya cuma tersenyum dan berkata, “Dunia itu tidak hitam-putih. Ada kebaikan dan keburukan pada setiap diri manusia. Kita yang menyadari itu, akan menilai sesama manusia secara proporsional. Memuji kebaikan seseorang untuk menumbuhkan semangatnya. Mengkritik keburukan seseorang untuk memberinya kesempatan memperbaiki diri. Tidak memuja karena ia bukan Tuhan, tidak juga mencela karena bisa jadi… ia lebih baik dari kita di mata Tuhan”.

Kita dan kawan kita dibesarkan dengan pengalaman hidup yang berbeda. Seseorang bertindak berdasarkan akal-budi dan kepentingannya. Saat dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap manusia berbeda, kita mulai berproses untuk mengasah kemampuan bernalar. Ketika menemukan kelompok yang berpikiran sama, kita mulai merasa benar. Lalu terjebak dalam paham “Either you with us, or you against us” – Jika kamu sepakat dengan saya, maka kamu adalah teman saya, jika tidak sepakat, maka kamu adalah musuh saya.

Mendengar adalah cara terbaik untuk menghadapinya. Sekali lagi, manusia bertindak karena didorong oleh akal-budi dan kepentingan. Pasang telinga dan pahamilah, siapa tahu sang kawan ada benarnya. Memahami tidak harus berakhir dengan menyetujui.

Minta Dipahami adalah tindak lanjutnya. Meminta seseorang untuk memahami kita setelah kita berusaha memahami mereka (dengan sungguh-sungguh) tampak cukup fair bukan?

Persetujuan bukanlah tujuan akhirnya. Mencari jalan tengah mempersyaratkan kedewasaan kedua pihak. Belum tentu syarat itu terpenuhi.

“Sahabat tetaplah sahabat, kawan akan tetap menjadi kawan”
Hanya itu yang perlu kita capai

Perbedaan pendapat jangan sampai merusak ikatan kekerabatan

It is Not Worth It

page-divider-symbol

Jagalah ikatan persahabatan.

Bercerminlah pada setiap pilihan kata, karena…
Keterbukaan menunjukkan kematangan. Kesantunan menunjukkan kedudukan.

Salam Damai untuk Seluruh Bangsa Indonesia 🙂

Jokowi atau Prabowo? Saya pilih….

Meskipun belum sempurna, tapi saya bersyukur bahwa iklim demokrasi di Indonesia sudah semakin baik. Dimulai dengan Pak Habibie yang mengawal reformasi, Gus Dur – Mega yang teguh mempertahankan persatuan NKRI saat rawan perpecahan, dan SBY – JK – Budiono yang menetapkan pondasi ekonomi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor. Saat ini kita menghadapi pilpres dengan dua kandidat yaitu Jokowi – JK dan Prabowo – Hatta. Tidaklah mungkin kita berharap dua kandidat yang tersedia itu sempurna. Tapi pada akhirnya, kita tetap harus menjatuhkan pilihan pada salah satu diantaranya.

jkwprw

Salah satu hal menarik yang saya amati pada pilpres kali ini adalah meningkatnya daya kritis masyarakat, khususnya golongan menengah. Akibatnya, media sosial penuh dengan topik capres yang bahkan membuat sebagian orang kesal. Tetapi kalau dipikir-pikir, lebih baik kita “meributkan” hal ini sekarang agar mendapat presiden terbaik, ketimbang “meributkan” hal ini belakangan, lalu mengeluhkan kinerja buruk sang presiden yang sudah terlanjur terpilih.

Dua Kelompok Pemilih

Dalam setiap pemilu, selalu ada dua kelompok pemilih.

Kelompok pertama adalah pemilih terafiliasi, yaitu kelompok orang-orang yang merasa memiliki kesamaan latar belakang atau kepentingan dengan salah satu capres. Faktor kesukuan, agama, sekte, afiliasi bisnis, biasanya merupakan alasan klasik yang diutamakan. Kelompok ini sudah menjatuhkan pilihan kepada sang capres tanpa mau mendengar pendapat apapun, selain apa yang ingin mereka percayai. Mereka akan mengangkat kebaikan jagoannya, tetapi pura-pura tidak tahu, menutupi, bahkan menampik keburukan sang idola. Di sisi lain, mereka selalu memojokkan, menyebarkan keburukan, serta menyangkal kebaikan kandidat lawan.

Kelompok kedua adalah pemilih tidak terafiliasi (bebas), yaitu kelompok orang-orang yang bisa memilih kandidat manapun yang paling meyakinkan. Kelompok ini terkadang disebut swing-voters book, karena pilihannya tidak dapat diprediksi dan seringkali baru membuat keputusan di saat menjelang hari H pemilu.

Setiap kubu pasti memiliki pemilih terafiliasi (kelompok pertama). Umumnya populasi pemilih terafiliasi di setiap kubu relatif berimbang. Oleh karena itu keberadaan kelompok kedua menjadi sangat penting, karena sesungguhnya suara kelompok kedua-lah yang akan menentukan siapa pemenangnya.

Tulisan saya dibawah ini ditujukan untuk orang-orang kelompok kedua, yaitu:

yinyangKelompok orang yang bisa melihat bahwa ada kebaikan dan keburukan pada setiap capres, tidak jahat banget vs. malaikat banget seperti yang tersaji di sinetron.

validKelompok orang yang memutuskan berdasarkan informasi valid, bukan berita-berita settingan media massa yang sedang panen bayaran.

ideaKelompok orang berpikiran terbuka yang mau mengubah pendapat jika menemukan kebenaran ternyata berbeda dari keyakinannya selama ini.

Persepsi Bukanlah Kenyataan

politicKebanyakan orang hanya mengikuti pendapat orang yang dianggap lebih mengerti atau mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar. Hal ini dimanfaatkan oleh tim sukses dan simpatisan kedua kubu untuk menciptakan persepsi yang menguntungkan jagoannya. Bahkan seringkali mereka menyebarkan informasi keliru, yang diciptakan sepenuhnya demi kepentingan sang jagoan. Politik memang kotor, that’s the fact.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Fadli Zon dan Pak Anies Baswedan, bagaimanapun mereka berdua adalah Tim Sukses yang bertugas memenangkan pasangan capres yang diusungnya. Tentu saja, kalimat yang terucap akan dikemas agar menciptakan persepsi baik terhadap capres dukungannya, serta menciptakan persepsi buruk terhadap capres lawan. Oleh karena itu, sudah sudah sepantasnya kita mem-validasi “pesan” kedua timses tersebut.

fadlizonFadli Zon berusaha menyederhanakan analisa dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur, cerdas, independen, dan terbukti berprestasi. Dia berusaha menggiring opini publik bahwa Jokowi tidak jujur karena melanggar janjinya sendiri tidak nyapres, tidak cerdas karena tidak mampu mengartikulasikan visi apalagi berorasi, tidak independen karena selalu menurut pada kemauan partai, dan minim prestasi karena sebagai gubernur Jakarta belum ada hasil yang signifikan.

Syawalan Alumni HMI MPOAnies Baswedan berusaha menggiring opini dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan “kebaruan”, yaitu pemimpin dan kelompok penguasa baru, karena selama pemerintahan dijalankan oleh pemimpin dan kelompok lama, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dia juga berusaha membuat Prabowo tampak tidak layak untuk menjadi capres dengan mengatakan bahwa dia mendukung orang baik, yaitu orang yang tidak punya catatan buruk masa lalu.

Mari kita pikirkan secara lebih objektif. Apakah Jokowi tidak cerdas dan minim prestasi? Apakah Jokowi hanya boneka yang tidak berdaya melawan tekanan partai? Apakah orang “baru” pasti lebih baik dari orang “lama”? Apakah ada bukti konkrit bahwa Prabowo adalah dalang kerusuhan 1998 dan terlibat kasus kudeta?


Mari Menjadi Pemilih Yang Lebih Cerdas 🙂


Kriteria Pemimpin

Sebelum membandingkan kedua pasangan capres, kita perlu terlebih dahulu menentukan kriteria yang tepat. Presiden akan bertanggung jawab dalam hal-hal besar, rumit, dilematis, yang harus diputuskan dengan cepat dalam situasi penuh tekanan. Oleh karena itu, seorang presiden harus-lah seseorang yang arif dan bijaksana. Hmmm… kita semua pasti pernah mendengar istilah “Pemimpin yang Arif dan Bijaksana”. Arif dan Bijaksana  dalam bahasa inggris adalah Wise, dimana kata bendanya adalah Wisdom. Berikut definisi Wisdom di Wikipedia:

Wisdom is the ability to think and act using knowledge, experience, understanding, common sense, and insight.[1] Wisdom has been regarded as one of four cardinal virtues; and as a virtue, it is a habit or disposition to perform the action with the highest degree of adequacy under any given circumstance. This implies a possession of knowledge or the seeking thereof in order to apply it to the given circumstance. This involves an understanding of people, things, events, situations, and the willingness as well as the ability to apply perception, judgement, and action in keeping with the understanding of what is the optimal course of action. It often requires control of one’s emotional reactions (the “passions”) so that the universal principle of reason prevails to determine one’s action. In short, wisdom is a disposition to find the truth coupled with an optimum judgement as to what actions should be taken in order to deliver the correct outcome.

Memilih orang yang bijaksana tentu tidak bisa hanya berdasarkan janji kampanye semata. Untuk menentukan siapa yang dianggap bijaksana dan siapa yang tidak, pada akhirnya kita harus bertumpu pada rasa percaya (kepercayaan). Oleh karena itu, ijinkan saya mengacu pada konsep Kepercayaan (Trust) yang disajikan pada buku “Speed of Trust” (M.R. Covey) book. Dalam bukunya ditulis bahwa kepercayaan didasarkan pada karakter dan kompetensi seseorang. Untuk menilainya, kita bisa menggunakan 4 empat faktor, yaitu:

  • Integritas (Integrity)
  • Niat (Intent)
  • Kemampuan (Capabilities)
  • Hasil (Result). 

Integritas (Integrity) bukan hanya masalah kejujuran. Integritas seseorang ditentukan oleh: Congruency, yaitu pikiran dan ucapannya selalu sesuai (jujur), emosi dan ekspresinya selalu selaras (tidak berpura-pura). Humility, yaitu mau mengakui kesalahan dan bersedia mengkoreksi pendapatnya. Courage, yaitu mampu melakukan hal yang benar, meskipun itu sangat sulit dan beresiko.

Niat (Intent) yang ditentukan oleh: Motive, yaitu alasan atau tujuan kenapa seseorang berbuat sesuatu. Agenda, yaitu langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tersebut. Behaviour, adalah bagaimana motif dan agenda terwujud dalam bentuk tindakan yang tampak dan dapat dinilai oleh orang lain.

Kemampuan (Capabilities) yang ditentukan oleh 5 hal, yaitu:

  • Talents (Bakat): Hal-hal yang secara alamiah bisa dilakukan dengan baik
  • Attitude (Sikap): Bagaimana seseorang memandang sesuatu
  • Skills (Keahlian): Hal-hal yang sudah dipelajari dan mampu dilakukan dengan baik
  • Knowledge (Pengetahuan): Apa yang diketahui seseorang
  • Style (Gaya): Cara unik seseorang dalam melakukan sesuatu

Hasil (Result) yang ditentukan oleh apa yang terbukti mampu dihasilkan oleh seseorang di masa lalu (track-record), apa yang sedang dia lakukan saat ini, dan apa yang mungkin bisa dia capai di masa yang akan datang.


Dalam memilih presiden, kita membutuhkan seseorang yang memiliki integritas tinggi, niat (agenda) yang baik, kemampuan yang mumpuni, dan prestasi yang terbukti. Piufff… Kok banyak bener?… Yaaa kalau sedikit, abang-abang pengangguran juga bisa dong jadi presiden 😛

Dalam konteks pilpres, ijinkan saya menyusun kriteria presiden sebagai berikut:

equak=l

Memiliki Integritas Tinggi, yaitu memegang teguh setiap janjinya, selalu bersikap adil, tegas dalam penegakan hukum, konsisten membela yang benar, mampu mengakui kesalahan, dan berani mengambil tindakan yang benar meski menjadikannya tidak populer.

target

Memiliki Niat Baik, yang digambarkan secara jelas dalam bentuk visi-misi yang terukur agar dapat dipantau progress pencapaiannya, memaparkan rencana eksekusi yang masuk akal, dan menunjukkan bahwa selama ini dia berperilaku sesuai dengan visi-misinya tersebut.

tools

Memiliki Kapabilitas, yang mencakup wawasan kenegaraan yang luas, teknik komunikasi yang efektif, teknik membina hubungan internasional, sikap mengayomi, dan gaya pendekatan yang sesuai kultur masyarakat Indonesia.

trophy

Memiliki Prestasi dan Rekam Jejak Yang Baik, yaitu berprestasi di bidang yang relevan dengan tugasnya nanti sebagai presiden, tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang membuatnya tidak pantas menjadi pemimpin bangsa, dan pernah membuktikan dirinya peduli dengan negara serta rakyat Indonesia.

Membandingkan Pilihan

Sebelum mulai membandinglan, ingatlah bahwa kunci dari suatu penilaian yang baik adalah objektifitas (tidak berpihak) dan validitas (mengacu pada informasi yang lengkap dan akurat).

checkmarkSebagai individu, setiap orang punya kepentingan yang bisa mengaburkan objektifitas. Jika kita ingin menjadi lebih objektif, berusahalah untuk mengabaikan dulu kepentingan kita selama melakukan penilaian. Akui keburukan jagoan, akui juga kebaikan lawan. Kita sedang ingin mendapatkan kebenaran, bukan sekedar mencari pembenaran bukan?
justiceInformasi yang kita ketahui berasal dari sumber tertentu. Kita tahu bahwa media membela yang bayar, bukan membela yang benar. Cari informasi dari kedua belah pihak. Percaya pada apa yang dapat kita percayai, jangan sekedar percaya pada apa yang ingin kita percayai. Validasi benar/tidaknya kebaikan jagoan, seperti halnya validasi benar/tidaknya keburukan lawan.

Dibawah ini adalah tabel yang berisi infomasi yang beredar tentang kedua capres sesuai nomor urutnya.

Mohon jangan langsung naik darah ketika membaca poin-poin dibawah ini 🙂 Ingat, tidak semua poin dapat dipercaya. Sebagian poin yang muncul di sini bisa jadi settingan, pencitraan, atau bahkan fitnah. Tugas kita adalah mencari informasi, lalu memutuskan mana yang valid dan mencoret yang tidak valid. Silahkan menambahkan item yang baru jika memang belum ada.

Mohon diingat bahwa poin-poin dibawah ini adalah contoh isi perbandingan. Tulisan ini tidak bermaksud menggiring opini pembaca untuk mendukung salah satu capres.

INTEGRITY

prabowo-hattaPrabowo adalah pribadi yang terbuka dan selalu bersedia dikonfirmasi atas hal-hal seputar dirinya. Selama menjadi anggota militer, Prabowo membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berani dan bertanggung jawab.

Prabowo tersangkut kasus pelanggaran HAM (penculikan aktifis) dan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Meskipun Prabowo sudah sering menjelaskan mengenai hal ini, tetapi simpang-siurnya informasi menyebabkan beberapa pihak meragukan kebenaran ucapan dan pikiran beliau (congruency). 

Koalisi pendukung Prabowo banyak diisi orang-orang lama yang selama ini tersangkut kasus, misalnya ARB (Golkar) yang tersangkut kasus Lumpur Lapindo, dan Suryadharma Ali (PPP) yang dijadikan tersangka oleh KPK. Hal ini bisa menyulitkan pemerintah baru untuk memiliki keberanian (courage) dalam membuat terobosan kebijakan, karena dihambat oleh “dosa” orang-orang lama tersebut.


jokowi-jkJokowi relatif bersih dari korupsi dan sebagai orang baru, Jokowi bukan merupakan bagian dari rezim lama sehingga tidak tersandera oleh dosa politik masa lalu.

Jokowi sering melanggar janji publik yang dibuatnya, dari mulai janji besar seperti menunaikan tugas sebagai Gubernur DKI selama 5 tahun, sampai janji kecil seperti tidak memakai pesawat sewaan dan voorijder. Kebiasaan menebar janji dan cuek saat tidak menepati, membuat kejujurannya (congruency) dipertanyakan. Jokowi sering beralasan bahwa tindakannya hanya mengikuti keinginan partai, sehingga independensi dan keberanian (courage) dalam mengutamakan kepentingan bangsa diatas golongan jadi diragukan.

Koalisi pendukung Jokowi terbukti beberapa kali berbohong, misalnya Nasdem yang semula berjanji tidak akan menjadi partai politik, PDI-P yang melanggar kesepakatan batu tulis, dan tuduhan Pak Mahfud M.D. bahwa  Cak Imin (PKB) membohonginya saat pencalonan cawapres.

INTENT (NIAT)

prabowo-hattaPrabowo menyusun visi-misi book yang dilengkapi dengan angka target pencapaian. Hal ini memungkinkan publik memantau progress tingkat pencapaian selama pemerintahan berlangsung, serta menilai hasil akhir kinerja pemerintah dengan cara membandingkan janji vs. realisasi. Ini menunjukkan bahwa rencana kerja (agenda) Prabowo dibuat dengan matang, terkomunikasikan dengan baik, dan menegaskan keberaniannya untuk memenuhi janji.

Prabowo dituduh pernah berusaha melakukan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Hal ini membuat sebagian orang khawatir bahwa Prabowo bisa memiliki motivasi dan agenda tersembunyi. Sebagian kalangan minoritas (WNI keturunan, non-muslim, aliran muslim non-sunni) mengkhawatirkan Prabowo memiliki motive untuk menggunakan kekuasaannya secara represif terhadap mereka.


jokowi-jkJokowi menyusun visi-misi book yang menjawab problem mendasar yang selama ini tidak diprioritaskan, yaitu pembangunan karakter bangsa dan toleransi. Sikap Jokowi yang sederhana dan merakyat menunjukkan keteladanan terhadap perilaku (behaviour) yang disajikan dalam visi-misinya tersebut.

Meskipun ditulis secara lengkap, poin-poin visi-misi Jokowi tidak banyak dilengkapi dengan target pencapaian. Poin-poin rencana kerja yang bersifat normatif ini membuat publik tidak bisa mengukur apakah janjinya (agenda) tercapai atau tidak. Sebagian kalangan muslim mengkhawatirkan partai pengusung Jokowi, yaitu PDI-P memiliki motive untuk menghambat potensi umat muslim di negeri yang mayoritas muslim ini atas dasar persaingan pengaruh dalam politik.

CAPABILITY (KEMAMPUAN)

prabowo-hattaPrabowo terdidik untuk memimpin dengan cara militer. Prabowo memiliki sikap (attitude) tegas dan berani, keahlian (skill) dalam strategi dan berkomunikasi yang efektif, pengetahuan dan wawasan internasional, serta gaya (style) memimpin yang disegani. Secara keseluruhan, Prabowo memiliki kemampuan yang lengkap sebagai seorang pemimpin.


jokowi-jkJokowi adalah pemimpin yang berasal dari sipil dengan latar belakang pebisnis dan pejabat daerah. Jokowi memiliki sikap (attitude)akomodatif terhadap berbagai golongan, keahlian (skill) persuasi tanpa represi. Keahliannya ini menciptakan kelebihan tersendiri karena membedakannya dari kebanyakan pemimpin yang seringkali mengambil pendekatan represif dalam menjalankan kebijakan. Pengetahuannya akan banyak terbantu dengan hadirnya para intelektual muda, serta gayanya (style) yang sederhana membuat Jokowi tidak berjarak dengan rakyat.

Sebagian orang menganggap Jokowi belum memiliki kemampuan sebagai pemimpin tingkat nasional. Kapabilitasnya seputar hubungan internasional, pertahanan-keamanan, dan perekonomian negara masih belum terbukti.

RESULT (HASIL)

prabowo-hattaPrabowo selama karirnya sebagai Jenderal berhasil melakukan beberapa misi militer seperti pembebasan sandera oleh OPM dan penangkapan pemimpin gerilyawan Timtim. Setelah menjadi warga sipil, Prabowo banyak melakukan mediasi internasional untuk kasus kemanusiaan seperti pembebasan Wilfrida dari hukuman mati. Prabowo juga aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan seperti HKTI dan perkumpulan olah raga silat. Dalam masa kepemimpinannya, timnas pencak silat tidak pernah kalah di turnamen internasional.

Prabowo dituduh melakukan pelanggaran HAM selama dia menjabat Danjen Kopasus dengan melakukan penculikan aktifis. Prabowo juga dituduh berencana melakukan kudeta terhadap B.J. Habibie. Apabila track-record tersebut benar, maka Prabowo merupakan sosok yang sangat berbahaya karena bisa mengembalikan Indonesia ke jaman diktator ala Soeharto. 


jokowi-jkJokowi menuai sukses ketika menjadi walikota Solo. Cerita suksesnya termasuk pemindahan PKL tanpa kekerasan dan meraih penghargaan nasional di bidang pariwisata. Di Jakarta, yang masalah utamanya adalah banjir dan macet, Jokowi sudah memulai beberapa inisiatif kegiatan, tetapi belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sejauh ini, rekam jejak Jokowi dapat dikatakan bersih dari perbuatan tercela. Hal ini membuat banyak orang merasa aman memilih beliau.

Isi dari tabel di atas bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Itu sah-sah saja, karena tabel diatas terisi berdasarkan informasi yang kita ketahui dan percayai. In fact, seiring dengan waktu, bertambahnya informasi, dan terungkapnya berita, orang-orang yang berpikiran terbuka bisa saja mengubah isian tabel tersebut, lalu mengubah haluan dan dukungannya.


Menentukan Pilihan

Bagi anda yang cenderung berpikir dengan perasaan/intuisi, isilah tabel perbandingan diatas secukupnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Timbang-timbanglah dengan intuisi anda, mana diantara keduanya yang lebih layak.

Bagi anda yang cenderung berpikir analitik/logis, isilah tabel perbandingan diatas selengkap-lengkapnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Beri Nilai % pada keempat faktor tersebut diatas. Jumlahkan semua nilai itu untuk mendapatkan kandidat yang lebih layak.

Prabowo Jokowi
Integrity ….% ….%
Intent ….% ….%
Capabilities ….% ….%
Results ….% ….%
TOTAL ….% ….%

Voilaaa… You Got The Winner 🙂


Tapi Kan….

Tapi kan… Prabowo direstui partai-partai Islam yang bersedia mengakomodasi kepentingan kaum muslim. Kalau kubu lawan didukung PDIP yang katanya selalu menolak UU berbau syariah.

Tapi kan… Jokowi lebih mengedepankan toleransi dan pluralitas karena selain didukung PKB dan ormas islam, juga didukung PDIP dan yang lebih bersedia mengakomodasi kepentingan kelompok non-muslim dan nasionalis. Kalau kubu lawan katanya didukung FPI yang biang rusuh itu.

Hmmm… kalau pikiran itu masih ada, rasanya sulit untuk berpikir objektif. Kalau pikiran-pikiran itu masih ada, apapun alasannya, pasti kita akan memilih satu capres tertentu tanpa melihat faktor lainnya lagi.

Ok, kalau masih penasaran, setelah melakukan perbandingan secara objektif, silahkan pikirkan kembali kepentingan kita dan ulang kembali perbandingan diatas. Lihat dan buktikan betapa kepentingan kita akan sangat mempengaruhi objektifitas penilaian. Sekarang terserah saja… Apakah mau memilih berdasarkan penilaian objektif, atau mau kembali memilih berdasarkan sentimen. Itu hak setiap individu. Setidaknya, kita tahu apa yang terjadi dengan proses pengambilan keputusan kita tersebut 🙂

Well… Setiap pilihan harus dihargai, apapun alasannya. Pemilih terafiliasi ataupun bebas sama-sama berhak menentukan cara dan hasilnya sendiri. Kita semua sedang berproses dan belajar menjadi pemilih dan negara yang lebih baik. Salam damai untuk seluruh bangsa Indonesia 🙂

Hiduplah Indonesia Rayaaaaaa…. indonesia-flag-icon