Terpancing Emosi

Kemarin, sambil menyeruput teh manis panas di rest area tol Cipularang, saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat masuk pintu tol Tebet (Jakarta), Ibu bertanya, “Jam berapa?”. Saya jawab, “Jam 7.00”. Tidak berapa lama, beliau pun terlelap di bangku belakang. Jalanan tidak terlalu ramai, jadi (rasanya) saya menyetir santai. Ketika membayar di pintu tol Pasteur (Bandung), Ibu terbangun dan bertanya, “Jam berapa?”. Saya jawab, “Jam 8.05”. Ibu pun menyahut, “Oooh, jam 9”. Saya balas, “Bukan… Jam 8.05”. Dia tampak kebingungan sendiriūüôā

Nope… I’m not proud of it. That is plain stupid.

Sekarang saya menganggap ngebut hanya mengundang maut. Tapi dulu, itu rasanya semacam “pencapaian”. Sekarang saya tahu ngebut itu kesalahan. Tapi dulu, itu suatu bentuk kebanggaan. Butuh waktu untuk belajar dari kesalahan, masih untung tidak keburu mati di jalan.

Meski demikian, ada pelajaran penting di dalamnya.

Ada kalanya orang memacu kendaraan karena ingin mencoba batas kemampuan diri. Namun sering juga alasannya karena terpancing emosi oleh perilaku pengendara lain. Misalnya, ngebut hanya karena tidak terima dipotong jalannya oleh orang lain.

Motif ini tidak hanya dijumpai dalam hal berkendara, tetapi juga dalam banyak segi kehidupan. Di saat bekerja dan bersosialisasi, seringkali kita terpancing oleh perilaku orang lain dan/atau suasana. Suasana yang tidak kondusif atau ketatnya persaingan seringkali menjadi “alasan kuat” kenapa kita tidak berhasil mencapai tujuan. Namun apakah benar suasana dan kompetisi itu berdampak besar terhadap keberhasilan kita?

Suatu hari saya pernah bertanya pada Bapak kenapa dia suka main golf. Beliau menjelaskan, “Golf itu permainan melawan ego kita sendiri. Ketika kita mengayun stick dan memukul bola, apakah lawan kita menghambat? Sama sekali tidak. Sebaliknya, ketika lawan kita memukul bola, apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk menahannya? Juga tidak”.

“Tindakan lawan tidak berpengaruh terhadap kita, begitu juga sebaliknya. Tapi ketika lawan bermain dengan baik atau buruk, ada semacam tekanan dalam diri kita yang berpengaruh terhadap konsentrasi dan permainan kita. Di situ kita berlatih untuk bersikap tenang dalam tekanan, adaptif pada berbagai keadaan, dan bertanggung jawab penuh atas apa yang kita lakukan”.

Kemampuan menjaga emosi adalah skill penting dalam meraih keberhasilan. Minimal dalam hal kebut-kebutan, sekarang saya sudah mau “anteng” jalan 80 sd 100 km/jam dan membiarkan mobil lain menyalip dari sebelah kananūüôā

Bagaimana Kalau Rupiah Ambruk?

Beberapa¬†hari lalu seorang kawan menanyakan nasib rupiah yang terus-menerus melemah terhadap USD. “Kompleks bin rumit binti lieur”, jawab saya sambil¬†nyengir dengan¬†ikhlas. Akhirnya saya coba jelaskan dengan sederhana tanpa terlalu menyederhanakan. **jiaaah…..keren ga tuh tagline¬†gue**

shutterstock_284335196

Kenapa Kita Butuh Dollar?

Selama hidup, manusia membutuhkan barang dan jasa. Pada jaman dahulu, setiap manusia memproduksi (membuat/memperoleh) barang sendiri. Mau makan berburu ke hutan, mau pakaian harus menyamak kulit binatang, mau punya rumah menebang pohon, mau mangga nyolong punya tetangga. Semua dilakukan sendiri atau bersama-sama kelompoknya. Ketika barang yang diproduksi melebihi dari yang dibutuhkan olehnya, maka dia dapat menukarkan barang miliknya dengan barang lain yang diproduksi orang lain. Ujung-ujungnya, agar proses pertukaran ini efisien, maka munculah alat tukar bernama uang. Awalnya uang berbentuk emas, lalu berubah menjadi kertas yang dijamin emas, dan akhirnya berbentuk uang masa kini (yang tidak dijamin emas). Panjang-lah ceritanya, simpen dulu ya tong buat lain kali :) Uang hanya berlaku di satu wilayah hukum tertentu, misalnya negara.

Prinsip yang sama berlaku ketika sekelompok orang yang tinggal di suatu negara memproduksi barang melebihi kebutuhan domestik (dalam negeri), maka mereka bisa mempertukarkan kelebihan produksi tersebut dengan barang lain dari luar negeri. Di sini muncul kebutuhan akan “mata uang” yang diterima oleh kedua belah pihak. Karena¬†ekonominya yang sangat kuat, USA menjadi pasar yang sangat gurih* bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Akibatnya, banyak negara memiliki USD sebagai bayaran¬†atas produk yang diekspor ke USA. Efek lainnya adalah USD bahkan digunakan untuk transaksi yang bukan dengan USA.¬†Akibatnya, kebutuhkan atas USD muncul tidak hanya ketika Indonesia membeli barang dari USA saja, tetapi saat Indonesia membutuhkan barang dari negara lain sekalipun.

* peringatan: jangan nyari keyword ‘USA’ di qraved atau food panda. Itu bukan makanan.

Apabila Indonesia sama sekali tidak membutuhkan barang dari negara lain, maka kebutuhan atas USD pasti akan menyusut drastis. Tapi hal ini sebenarnya tidak mungkin terjadi ya kakaaak. Di dunia modern, manusia tidak memproduksi sendiri apa yang dia butuhkan, melainkan memproduksi yang dia mampu dan mempertukarkannya dengan produk yang dia butuhkan. Contoh sederhana, kita tidak menanam beras sendiri meski setiap hari makan nasi. Kita memproduksi barang/jasa lain, mendapat uang (alat tukar) dan menukarnya dengan beras plastik. Dalam skala nasional, hal ini juga terjadi. Misalnya, Indonesia memproduksi sepatu olahraga, mengekspornya dan mendapatkan USD, lalu USD tersebut dibelanjakan dengan mengimport produk elektronik semacam *pees* meski gamenya bajakan.

Daya Beli

Sebetulnya yang jadi masalah bukan kurs USD, melainkan Daya Beli (Purchasing Power). Ini terjadi ketika nilai uang yang sama tiba-tiba nilainya susut. Misalnya, uang 100 ribu Awalnya bisa membeli daging 1 kg, sekarang hanya bisa dapat 0,8 kg. Kenaikan USD berpengaruh terhadap daya beli karena kita banyak mengkonsumsi barang impor. Bahkan produk dalam negeri pun, bahan baku, mesin produksi, atau modal pinjamannya ternyata berasal dari luar negeri. Akibatnya, kenaikan USD berpengaruh terhadap harga barang, dan menyusutkan daya beli masyarakat.

Pendapatan individual biasanya diukur secara global menggunakanGross National Income per-capita. GNI per-capita Indonesia pada tahun 2013 adalah 9,270 PPP Dollar. Bandingkan dengan Malaysia (22,530), Thailand (13,430), USA (53,750). Angka-angka tersebut menunjukkan perbandingan nilai pendapatan per-individu (manusia) di setiap negara.

Meningkatkan Daya Beli

Jawabannya,¬†“Tingkatkan¬†produktifitas dan ciptakan nilai tambah“.

Yup, kalau tidak ada barang/jasa yang diproduksi, apa yang mau dipertukarkan? Kalau hanya menjual barang apa adanya, siapa yang nggak bisa, bro?

Di negara maju, satu restoran cukup besar hanya dilayani oleh satu pelayan yang bertugas sebagai waiter, kasir, dan kadang kokiūüôā Misalnya McCafe Prancis, hanya ada satu orang yang menerima order, menyiapkan makanan, menerima pembayaran, dan sesekali mengelap meja dan mengepel lantai. Ya, hanya satu orang! Bandingkan dengan pelayan di Indonesia yang jumlahnya banyak dalam satu restoran, tetapi asyik menonton sinetron, dan kerjanya santai kayak di pantai. Mungkin banyak yang bilang, “itu karena gaji pelayan di sana mahal”. Coba dibalik, kalau jumlah pelayan restoran di Indonesia dikurangi sepertiganya, gajinya bisa jadi 3x lipat bukan?

Tidak hanya produktifitas pekerja, budaya masyarakat pun perlu dibangun. Pelayan di atas tidak perlu sering membersihkan meja, karena setiap selesai makan, konsumen membersihkan sendiri mejanya. Tidak ada biaya yang perlu dikeluarkan manajemen restoran untuk tenaga kebersihan tambahan. Seringkali kita mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu, termasuk mengeruk kali karena masyarakat membuang sampah sembarangan atau membayar penjaga WC karena pengujung sering tidak menyiram sehabis buang air.

Peningkatan nilai tambah terjadi ketika selisih nilai bahan baku dan produk akhir semakin tinggi. Misalnya, Indonesia selalu konsisten mengimpor minyak mentah, melakukan pemrosesan, dan mengekspor BBM dan oli mesin ke negara tetangga. Eh,… kebalik ya?ūüėõ #garukgarukkepala

Ekspor Indonesia masih kurang bernilai tambah. Kita banyak mengekspor bahan mentah / setengah mentah seperti minyak dan hasil hutan, tetapi mengimpor barang jadi bahkan canggih seperti mobil.¬†Jumlah populasi Indonesia yang sangat besar dan usianya yang relatif muda lebih banyak dijadikan target pasar ketimbang pusat produksi. Tingkat pendidikan yang lebih baik serta pemberdayaan masyarakat¬†adalah mutlak diperlukan. Seorang teman bercanda, di Indonesia ini bisnis yang paling laku adalah jual tanah air… ya, jual konsesi isi tanah kayak minyak, batu bara, emas, kayu dari hutan, dan air bersih.

Optimisme

Situasi ekonomi memang sedang sulit. Kita tetap harus optimis, karena tidak ada orang atau bangsa yang sukses dengan mental pesimis.

Be Productive, Be Innovative

Kalau kata Aa Gym, mari mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang.


Catatan:

Produktifitas bukan satu-satunya penentu nilai mata uang. Dalam perhitungan resiko nilai tukar, forecasting (prediksi) nilai tukar seringkali didasarkan pada matrix covariance (koefisien korelasi) suku bunga dan nilai tukar beberapa mata uang dominan. Debt-to-GDP suatu negara pun perlu diperhitungkan. Ini tidak saya bahas karena bisa jadi cerita panjang lainnyaūüôā

Dua Mindset Dasar Investor

Beberapa¬†hari yang lalu saya berjalan di depan dua orang pria. Salah satunya bercerita dengan nada penuh kebanggaan, “Saya mengajari anak saya untuk paham kalau tidak semua hal bisa dibeli. Suatu hari kita¬†pergi ke Ind*mar*t, saya menawarkan dia untuk membeli mainan. Anak saya malah bilang, ‘Ayah punya uangnya enggak? Kalau enggak, nggak usah aja'”. Pada dasarnya manusia punya dorongan untuk menginginkan sesuatu. Jika dorongan ini selalu diikuti, maka hal tersebut akan terus semakin membesar. Yang dilakukan oleh pria¬†diatas adalah memberi pemahaman atas keterbatasan sumber daya, dalam hal ini adalah “uang”.

Money and plant.

Cara di atas cukup baik,¬†tetapi hanya efektif ketika seseorang memang cenderung memiliki keterbatasan. Ketika mulai meniti karir, pola pikir “keterbatasan” memang efektif.¬†Namun seiring dengan meningkatnya penghasilan, cara¬†ini menjadi semakin tidak efektif. Pada tingkat penghasilan tertentu, seseorang bisa saja setiap hari makan di restoran mahal tanpa khawatir kehabisan uang, membeli pakaian dengan harga cukup mahal¬†tanpa takut kehabisan tabungan, bahkan membeli mobil mewah dengan tunai karena memang tabungannya memungkinkan. Catatan, saya enggak ada di posisi ini yaūüôā

page-divider-symbol

Lain orang, lain cara. Ayah saya punya cara sendiri dalam mengajarkan hal ini.

Setiap beliau pulang ke Bandung, dia selalu mewajibkan keluarga untuk makan bersama. Suatu saat saya bertanya kepadanya.

Saya: “Teman-teman saya kalau makan selalu habis tidak bersisa. Ada yang kalau tidak suka sama makanannya pun tetap dimakan sampai habis, takut mubazir katanya. Kalau makanan saya nggak habis, kenapa Bapak kok enggak menegur saya?”

Bapak: (sambil melihat makanan saya yang tersisa), “Memang kenapa makanannya nggak kamu habiskan?”

Saya: “Sudah kenyang soalnya. Saya perlu habiskan enggak?”

Bapak: “Enggak usah. Lain kali, sebelum mengambil makanan kamu kira-kira saja,¬†apakah itu bisa dihabiskan atau tidak. Kalau tidak yakin, sebaiknya ambil sedikit saja. Nanti kalau kurang, baru kamu ambil lagi.”

Itu adalah sekelumit contoh kecil dari banyak kasus serupa. Dua hal diajarkannya pada saya:

  • Pertama, tidak semua yang kita bisa konsumsi, perlu kita konsumsi. Ambil yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
  • Kedua, tidak perlu khawatir “tidak kebagian jatah”, pada dasarnya ada cukup rejeki untuk kita semua.

Dalam konteks finansial, pelajaran pertama benar-benar penting. Tanpa kemampuan mengontrol keinginan, tabungan akan cepat terkuras begitu bertemu “barang idaman”. Tanpa kemampuan mengontrol keinginan, lifestyle akan selalu meningkat seiring naiknya angka pendapatan. Tanpa kemampuan mengontrol keinginan, maka sesungguhnya yang menjadi batas pengeluaran kita adalah ketidaktersediaan anggaran. Jadi jangan heran, begitu anggaran tersedia, semua batas itu pun akan cepat dilanggar.

Bayangkanlah jika kita berinvestasi sedikit demi sedikit. Setelah cukup lama, kita berhasil memiliki portfolio bernilai milyaran.¬†Hal ini bisa¬†menciptakan¬†godaan besar untuk membeli mobil mewah yang harganya “cuma” sekitar 1M. Apalagi kenyataan tidak terbantahkan bahwa mobil¬†itu bisa dibeli secara kontanūüôā Ini menjelaskan kenapa¬†menabung adalah “keahlian” dasar seorang investor.¬†Seseorang hanya akan bisa menjadi investor jika ybs¬†mampu menahan hasrat belanja ketika dia jelas-jelas punya uangnya.

PieChart_CooperationPelajaran kedua juga tidak kalah pentingnya. Pola pikir “keterbatasan” seringkali membuat kita berpikir, “Jika saya dapat maka orang lain tidak dapat, jika orang lain yang dapat, maka saya tidak akan dapat”. Pola pikir ini sangat destruktif karena bisa menghilangkan semangat bekerja sama. Pada kenyataannya, bekerja sama dan berbagi peran justru akan meningkatkan total “kue” yang tersedia. Mendapatkan 50% dari Rp. 100,- jauh lebih banyak ketimbang mendapatkan 100% dari Rp. 20,-

Tidak perlu khawatir akan “tidak kebagian”. Kalau kita cukup kreatif, sebenarnya banyak jalan untuk memperoleh rejeki. Sikap berebut justru akan membuat orang lain tidak nyaman dan mempersulit kita mendapat kepercayaan, yang notabene modal utama dalam menjalin kerjasama.

Mencari Kebenaran atau Pembenaran?

Media sosial semakin ramai. Orang yang semula tidak saling kenal bisa bertemu dan berdiskusi lewat dunia maya. Diskusi sebenarnya kegiatan yang bermanfaat karena dapat menambah pengetahuan dan memperkaya wawasan. Masalahnya, diskusi di dunia maya seringkali hanya sekedar debat kusir semata.

Kalau diperhatikan, ketika berdiskusi, ada orang yang berniat mencari kebenaran, ada juga yang sekedar ingin mencari pembenaran. Nah, kira-kira apa yang membedakan keduanya?it-is-so-easy-to-believe

Orang yang mencari kebenaran akan mulai dengan “Meragukan”¬†apa yang ia yakini.¬†Ia berusaha berpikir terbuka dan objektif, serta¬†tidak bersikap defensif.

Orang yang mencari kebenaran selalu bersemangat terhadap informasi baru, berusaha memahami pendapat & sudut pandang orang lain, serta melakukan check & recheck terhadap suatu isu. Intinya, memastikan terlebih dulu semua informasi yang ia miliki lengkap dan akurat, baru kemudian menyimpulkan dan menyampaikan pendapat. Ia tidak khawatir berbuat salah karena itu manusiawi, bahkan mengakuinya sebagai bagian dari introspeksi diri. Ia tidak tertarik merendahkan pendapat orang lain karena sadar dirinya belum tentu yang paling benar.

Orang yang mencari pembenaran akan mulai dengan Meyakini 100% pendapatnya sendiri. Ia sesungguhnya hanya ingin mencari cara agar orang lain setuju.

Orang yang mencari¬†pembenaran menyimak¬†pendapat orang lain sekedar untuk¬†tahu bagaimana membantahnya, mengajukan informasi yang mendukung keyakinannya, menyembunyikan informasi yang melawan pendapatnya, memutar opini seolah itu adalah fakta, mengaburkan fakta dengan mengajukan isu lain yang tidak relevan, dan kalau perlu… menyerang pribadi lawan berdebat¬†seolah sang lawan tidak layak¬†berpendapat.

Orang Indonesia Gampang Masuk Surga

Kita sangat beruntung tinggal di Indonesia!!! Eh, ini¬†beneranūüôā

Di Indonesia banyak sekali orang yang hanya mencari pembenaran. Walhasil media sosial penuh dengan debat kusir, cemoohan, bahkan fitnah. Timeline bagaikan uji mental saat banyak orang yang menyerang kita secara personal. Rasanya tu orang minta dilempar bunga lengkap dengan potnya. Suatu kali ditengah sebuah perdebatan, seorang kerabat menegur saya dengan mengirimkan pesan berikut:

‚ÄúAku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.‚Ä̬†(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

Ahhh.. menarik bukan? mari kita bersama-sama…

  • Meninggalkan debat meskipun kita¬†berada dalam pihak yang benar. Ini¬†tidak berarti “pergi begitu saja”, tetap sajikan¬†poin-poin yang memang penting untuk disampaikan, lalu hentikan¬†diskusi sampai di situ. Jangan terpancing untuk membahas hal yang tidak penting.
  • Meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Pernahkan kita¬†melihat status / berita satir yang disalahartikan oleh pembaca? Itu menandakan bahwa sang pembaca¬†belum cukup ilmunya. Hal ini juga bisa terjadi ketika¬†topik “bohongan” saat bercanda malah dianggap serius oleh pembaca yang tidak paham.
  • Membaguskan akhlak dengan menjaga kesantunan. Tanggung jawab kita itu mengingatkan, bukan meyakinkan orang lain. Pahala atau dosa kan kembali ke pelakunya masing-masing. Tidak ada orang yang akan tersadarkan dengan cara dicemooh pendapatnya atau dihina kecerdasannya.¬†Cemoohan hanya memperjelas motif bahwa sang pelaku hanya sekedar ingin menang dan tak perduli kebenaran.

Sedari kecil kita semua diajarkan untuk mendulang informasi dari berdiskusi, sekaligus menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat.

Bagaimana kalau kita mulai dari sekarang? Kumaha?ūüėČ

yckj8kKcE

#orangindonesiagampangmasuksurga:)

Tahukah Anda Telah Berhasil Mengubah Persepsi Dunia atas Konflik Israel-Palestina Melalui Media Sosial?

Perubahan mulai terjadi. Tanpa sadar, anda mungkin salah satu agen perubahan yang membuatnya mulai menampakan hasil.

Berikut ini adalah terjemahan tulisan Arsalan Iftikhar pada 29 Juli 2014. Beliau adalah editor senior yang pernah di wawancarai CNN atas konflik Israel-Palestina. Mudah-mudahan terjemahan ini memudahkan pembaca memahami isi tulisan beliau. Beberapa ungkapan saya sesuaikan agar sesuai dengan makna dalam bahasa Indonesia.

Hashtag Twitter Akhirnya Mengimbangi Propaganda Pemerintah Israel

Pada suatu wawancara dengan CNN book, saya menyampaikan bahwa tidak ada satu topik besar apapun yang dengan sengaja disajikan secara tidak jujur dan berat sebelah oleh media Amerika Serikat selain “Konflik Israel-Palestina” – termasuk berita terorisme, Al-Qaeda, Penyiksaan Guantanamo, dan Penyadapan oleh NSA.

Lihat saja bagaimana judul berita yang beredar menunjukkan keberpihakan media mainstream saat meliput konflik. Pada 20 Juli, halaman muka Washington Post menuliskan “2 Tentara Israel Terbunuh pada Konflik Gaza” (2 Israeli Soldiers Killed in Gaza Clash)¬†book, dengan sub-judul, “Korban Tewas Mencapai Lebih dari 330 orang Seiring Meningkatnya Serangan Militan (Kelompok Teroris) Hamas” (Death Toll Tops 330 as Hamas Militants Step Up Attacks). Keesokan hari, Baltimore Sun menampilkan halaman muka dengan sub-judul, “13 Tentara Israel, 70 Lainnya Tewas dalam pertempuran” (13 Israeli Soldiers, 70 Others Killed in Fighting)¬†book.

Perhatikan, pilihan kalimat (redaksional) yang digunakan: Dua tentara Israel secara “aktif” dibunuh (killed), sementara 330 warga Palestina (dimana sebagian besarnya adalah orang sipil tidak bersalah) hanyalah bagian dari perhitungan statistik “korban tewas”. Lihat bagaimana 13 tentara Israel diprioritaskan, dibandingkan 70 warga Palestina yang dideskripsikan sebagai “Lainnya Tewas Dalam Pertempuran”.

Tetapi kita harus berterimakasih pada media sosial karena pelan-pelan telah mengubah proses peliputan berita ini.

Pada krisis Israel-Gaza yang baru saja terjadi, Twitter, Facebook, dan YouTube memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk opini publik dibandingkan konflik Timur Tengah pada tahun-tahun sebelumnya. Selama operasi militer Israel di Gaza pada tahun 2009 lalu, Twitter baru berumur 3 tahun dan itu bukanlah sumber berita utama bagi generasi millenial (orang-orang yang lahir antara tahun 1980 s/d awal 2000).

Menyadari bahwa liputan media mainstream jauh dari kenyataan, jutaan muslim dan pendukung Palestina di seluruh dunia membantu meluruskan apa yang sesungguhnya terjadi di Gaza. Penduduk biasa yang hanya bermodalkan kamera handphone, merekam video dan foto atas pembunuhan warga sipil Palestina (banyak diantaranya perempuan dan anak-anak), lalu men-tweet dan men-share-nya di facebook. Ini menciptakan kehebohan yang dengan cepat mendahului liputan CNN atau The New York Times.

Bukan hanya orang-orang lapangan yang bersaing mendapatkan dukungan melalui platform (media) baru ini. Konflik Gaza dengan cepat berubah menjadi “perang hashtag”. Selama ini sudut pandang Israel selalu mendominasi liputan media sejak setengah abad yang lalu (sehingga opini publik digiring untuk mempercayai cerita versi Israel – red). Hadirnya media sosial akhirnya menjadi kekuatan penyeimbang yang mampu mengimbangi propaganda pemerintah Israel.

Contohnya, hastag #GazaUnderAttack digunakan sebanyak 4 juta kali, bandingkan dengan hashtag #IsraelUnderAttack yang digunakan hanya 200 ribu kali. Estimasi lainnya menunjukkan ada lebih dari 11 juta tweet pro-palestina seperti hashtag #SupportGaza dan #PrayForGaza sejak konflik berlangsung sampai saat ini.

BteF9rACYAEtJxf

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Israel kalah dalam perang “Public Relation” ketika menyerang tanah Palestina. Bantahan (counter) di media sosial (atas berita yang disebarkan Israel melalui jaringan media yang terafiliasi dengannya – red) begitu luar biasa, sehingga perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu harus dengan lancang mengklaim bahwa warga Gaza menggunakan “Mayat Warga Palestina Yang Menarik (Telegenically)” book¬†dalam rangka memperkuat dukungan internasional terhadap Palestina di media sosial. Sebuah artikel New York Magazine merespon pernyataan Netanyahu tersebut dengan kalimat, “Jika Benjamin Netanyahu begitu terganggu dengan penampilan mayat warga Palestina di televisi… Mungkin seharusnya dia berhenti membunuhi mereka di sana.”¬†book

Kami ada di lapangan. Jumlah kami banyak dan kami memiliki kamera handphone, serta akses ke media sosial. Yang lebih menakutkan bagi Israel bukan bagaimana rupa warga Palestina di televisi, tetapi semakin banyak orang yang tadinya mendukung Israel mendapatkan informasi dari media sosial. Faktanya, revolusi tidak akan lagi muncul melalui layar televisi, mereka akan disebarluaskan dengan cepat melalui Twitter.

Sumber: Twitter hashtags are finally neutralizing the Israeli government’s propaganda