Edukasi Online

Ramainya kasus kartu prakerja yang membawa-bawa salah satu startup edukasi, membuka mata kita tentang metode edukasi online. Apakah ini benar bisa berjalan? Atau hanya akal-akalan para pemangku kepentingan?

Ilmu yang membuat amal jadi bermakna. Karenanya, menuntut ilmu adalah kewajiban. Maka selayaknya, ilmu tersedia bebas dan luas bagi semua.

Tentu itu tidak mudah. Sebagian negara memprioritaskan ini. Ketika mengambil course di National University of Singapore, saya baru menyadari bahwa warga Singapore bisa mendapatkan subsidi senilai 80%. Biaya course selama 3 hari senilai S$3,135 cukup dibayar S$940 saja. Saya menduga bahwa mekanisme subsidi per-course ini diambil karena sifatnya hands-on (membutuhkan kehadiran fisik) dan levelnya advanced, hingga membutuhkan pengajar yang harus dibayar mahal.

Berbeda dengan ilmu yang sifatnya lebih umum dan ditujukan untuk level pemula. Meski membutuhkan pengajar dan materi terbaik, tapi medianya bisa didistribusikan secara online. Materi hanya perlu dibuat sekali. Penilaiannya bisa menggunakan aplikasi atau peer-review. Sangat efisien. Tidak ada bottle-neck baik dalam proses mengajar maupun menilai. Biaya menjadi relatif murah. Ketika mengambil course Internet of Things dari University of California Irvine, saya hanya perlu membayar US$50. Begitu juga course Machine Learning dari Stanford University hanya berbiaya US$80.

Ada banyak kelebihan belajar online. Diantaranya:

  • Kualitas pengajar. Belajar online memungkinkan kita belajar dari pengajar terbaik.
  • Kesesuaian jadwal. Belajar online sangat fleksibel waktunya.
  • Feedback. Online quiz dan test bisa dilakukan setiap saat dan sistem bisa memetakan area mana yang pelajar masih lemah.
  • Wawasan. Pelajar dapat berdiskusi dengan pelajar lain, tidak hanya dengan pengajar saja.
  • Repetisi. Pertanyaan yang sama tidak perlu dijawab berkali-kali. Pelajar dapat search jawaban sebelum mengajukan pertanyaan.
  • Up-to-date. Sebagai orang yang bergerak di bidang IT, dimana teknologi bergerak sangat cepat, mengandalkan sekelompok pengajar adalah sebuah kesalahan besar. Ilmu baru seringkali harus didapat dari pengajar baru, simply karena pengajar lama tidak cukup cepat mengadopsinya.

Tempo hari sempat terpikir, betapa bagusnya kalau pemerintah Indonesia bekerjasama dengan para pengajar terbaik di bidangnya. Tujuannya untuk menyediakan materi pembelajaran berkualitas tinggi secara gratis. Platform edukasi online bisa menjadikan materi tersebut sebagai seed content. Lalu menjual konten & fitur premium sesudahnya. Ini jauh lebih murah ketimbang mensubsidi pembelian konten untuk kartu prakerja seperti yang baru-baru ini terjadi.

Salah satu platform edukasi menyediakan 18 paket belajar online dengan variasi harga 500rb s/d 1jt. Rata-rata paket tersebut terdiri atas 5-6 course. Secara kasar, akan ada 18×6 = 108 course. Bulatkan jadi 100. Kalau platform tersebut berhasil menarik 30% peserta dengan total anggaran 5,6T, maka mereka mendapat revenue senilai 1,68T. Sederhanakan saja. Itu dibagi 100 course, maka rata-rata revenue setiap course adalah 16M. Berapa persen bagian yang didapat pembuat konten? Dapat setengahnya saja sudah 8 Miliar Rupiah. Angka yang fantastis bagi seorang pengajar. Apalagi kalau percaya kata buzzer, dimana platform hanya “tempat numpang lewat”. Berarti yang didapat pembuat konten lebih dari 8 Miliar. Kalau 80%, berarti 12,8 Miliar / course. Apakah benar pembuat konten dibayar sebesar itu?

Tapi di sini kita tidak sedang bicara politik dagang. Lebih bermanfaat kalau kita fokus pada isu edukasinya saja. Pada prinsipnya, biaya akan jauh lebih kecil jika pemerintah yang membayar ongkos pembuatan course. Platform hanya menyalurkan saja (menyediakan tools/app). Mekanismenya bisa menggunakan protokol LTI, seperti yang biasa dilakukan book publisher. 80% dari 5,6T adalah 4,48T. Kalau setiap course dibiayai sebesar 200 juta rupiah, kita bisa punya lebih dari 20.000 course terbaik yang mungkin ada. Rasanya banyak pengajar yang bersedia dibayar 200 juta untuk membuat materi. Warga Indonesia memiliki akses gratis terhadap materi terbaik, yang dibuat oleh putra/putri terbaik bangsa ini. Lebih dari itu, kita bisa melakukan translasi materi-materi terbaik berbahasa inggris yang sudah ada ke bahasa Indonesia. Ini mempermudah banyak pelajar yang masih belum lancar berbahasa Inggris.

Platform edukasi tetap dapat fee. Anggap 20% dari 1,68T. Itu senilai 330M. Dibanding biaya operasional melayani 1 s/d 3 juta user, tentu masih amat sangat profitable. Belum lagi potensi jualan konten premium sesudahnya. Tentu tidak se-profitable kalau ternyata bagian pembuat konten tak sampai 50%. Apalagi kalau pembuat konten hanya diberi sejumlah uang tetap oleh platform tersebut. Tapi adanya seed content mempercepat kebiasaan orang untuk belajar online. Apalagi kalau seed content itu menjadi referensi wajib bagi para peserta didik di jenjang tertentu.


Kembali ke awal, menyediakan ilmu secara bebas dan luas sangatlah bermanfaat. Kasus diatas tidak seharusnya memberikan image negatif terhadap edukasi online. Sebaliknya, edukasi online adalah jawaban untuk masa depan. Efektifitas belajar online memang harus dikaji. Tidak semua hal cocok diajarkan secara online. Tapi banyak kok yang cocok. Mekanisme belajar online juga berbeda dengan konvensional. Jangan mengira bahwa mengubah materi konvensional ke dalam bentuk video dan melakukan ujian online akan otomatis membuat belajar online menjadi efektif. Mekanisme belajar online berbeda, sehingga kurikulum maupun cara mengajar harus disesuaikan.

Meski kurang sependapat dengan mekanisme yang digunakan pemerintah sekarang, tapi saya yakin semua punya niat baik. Ini proses. Kita semua, termasuk pemerintah kan sedang belajar. Jadikan saja ini sebagai pelajaran. Ke depan, kita bisa kok lebih baik dari ini. Bisa jadi dimulai dari kita sendiri. Dengan segera mencoba edukasi online berkualits tinggi.

Tak perlu bergantung pada pemerintah. Siapa tahu, di masa depan kita bisa mengumpulkan dana untuk menyusun materi terbaik yang dapat dimanfaatkan gratis oleh seluruh warga Indonesia. Amal jariyah, bekal untuk kita pulang nanti.

3 thoughts on “Edukasi Online

  1. Bila potensi pengajar mendapat Rp 8 milyar, lalu kenapa para pengajar (terbaik sejagat) tidak bergabung dengan startup tersebut sihhhh? Kenapa minta ditunjuk2 sama pemerintah segala? Coba dijawab pertanyaan sederhana ini.

    Like

  2. Belajar daring (online) ada beberapa macam:
    – daring interaktif (interactive online)
    – daring langsung (live online)
    – daring rekaman / daring atur waktu sendiri (recorded online / self pace online).

    Sesuai dengan namanya yang waktunya fleksibel hanyalah yang ke 3 (daring atur waktu sendiri) . Sedangkan 2 yang pertama waktunya tetap tidak fleksibel, karena disesuaikan dengan jadwal trainernya.

    Untuk bisa menyelesaikan program dengan model daring atur waktu sendiri dibutuhkan determinasi dan disiplin yang tinggi, karena biasanya terdiri dari banyak video pendek dan harus dilakukan secara sering. Bahkan saya pernah baca somewhere bahwa yang bisa menyelesaikan program di Udemy itu kurang dari 10% dari yang mendaftar suatu kursus. Saya pribadi hanya menyelesaikan beberapa kursus di Udemy dari yang saya ambil. Dan polanya adalah maksimal total waktu belajarnya adalah yang hanya 2-3 jam saja. Yang waktu belajarnya lebih dari itu terus terang saya belum bisa menyelesaikan yang model daring atur waktu sendiri. Sementara cukup banyak pelatihan daring interaktif yang saya selesaikan apalagi bila model interaksinya juga menggunakan video dan suara. bukan hanya daring langsung dan interaksi menggunakan chat. Walaupun untuk model yang panjang (>6x pertemuan daring interaktif) terkadang bentrok dengan jadwal saya yang lain dan saya hanya menonton video rekamannya sebelum waktu interaksi berikutnya.

    Untuk model yang kursus dengan model kelas daring interaktif pun saya ternyata hanya pertahanan maksimal 2,5 – 3 jam per interaksi per hari. Ada kelas model daring interaktif yang sehari penuh (7-8 jam dengan istirahat 1 jam) seperti kelas konvensional, buat saya yang manusia kinestetik itu melelahkan (baca: bosan) juga). Sehingga sebagai trainer pun saya mendesain kelas daring saya maksimal 3 jam per pertemuan.

    Mana yang lebih cocok untuk anda?

    Like

    1. Saya lebih suka daring rekaman. Lebih fleksibel mengatur waktunya. Daring interactive seru karena bisa tanya-jawab dengan pengajarnya. Tapi mencari waktu yang pas relatif sulit.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close