Haji

Haji itu menarik. Berbeda dengan rukun islam lainnya, ibadah haji tampak kurang “masuk akal”. Zakat dapat dilihat sebagai mekanisme pemerataan kesejahteraan. Puasa dapat berfungsi untuk meningkatkan kesehatan. Bahkan shalat dapat dimaknai sebagai sarana mengingat dan mencari ketenangan batin.

Saat berhaji ada rukun untuk melakukan sai (berjalan bolak-balik antara bukit shafa dan bukit marwah) dan thawaf (berjalan mengelilingi ka’bah). Apa makna keduanya? Kalau cuma ziarah alias napak tilas, kenapa mesti begitu-begitu amat?

Imam Ghazali pernah menulis bahwa haji adalah bukti penghambaan diri. Di saat akal mampu memahami makna dari suatu tindakan —termasuk ibadah— maka kita akan cenderung menggunakan akal untuk menjustifikasi tindakan tersebut. Karena semua amal ibadah lain jelas makna logisnya, maka tidak aneh jika manusia mudah menerimanya. Tapi untuk mengerjakan amal ibadah tanpa tahu makna logisnya, seorang manusia perlu terlebih dulu beriman. Terlebih jika amal itu harus mengorbankan waktu dan harta.

Haji adalah kesempatan manusia membuktikan bahwa dirinya hanyalah hamba Allah semata. Oleh karenanya, setiap orang yang beribadah haji selalu mengucapkan, “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak”.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).”

Datang ke ka’bah, memenuhi panggilan-Nya, adalah momen of truth. Maukah kita datang dan mengenal Tuhan kita dengan hati terbuka? Dengan terlebih dulu menundukkan ego dan logika? Karena tanpa itu, sejatinya kita memang tak mau bersua dengan-Nya.

Semoga kita semua dimampukan berhaji oleh-Nya. Insya Allah semua yang tertunda hajinya karena Covid-19 akan diberikan pahala yang setimpal. Semua adalah kehendak-Nya, kita hanya perlu memaknainya.

Jakarta, 8 Dzulhijjah 1441H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close