Artikel terakhir blog ini bulan Juli tahun 2022. Itu lebih dari empat puluh delapan purnama yang lalu π
Dulu sempat kehilangan domain daus95.com gara-gara lupa memperpanjang. Entah kenapa malam ini tetiba ingin memeriksa dan menemukan kalau itu kembali bisa dibeli. Yowislah, hajar.
Di era Youtube, Reels, Tiktok, dan Snapchat, menulis sepertinya semakin tidak populer.
Di era AI, tulisan aslipun dicurigai buatan si ey ai.
Tapi anehnya, saya malah jadi kepingin menulis kembali di era video dan AI ini.
Menyetir
Dulu ada kenalan yang bilang, “Meskipun punya sopir, tetap harus sering menyetir sendiri. Biar gak cepat pikun”. Pernyataan random yang jelas tidak ada bukti ilmiahnya π Tapi entah kenapa, itu relate dengan “menulis”.
Membaca memicu pikiran memvisualisasikan isi teks, membuat pembaca seolah mendengar dalam kesunyian. Pikiran dipaksa berpikir, berbeda dari video yang audio-visualnya sudah tersuguhkan untuk langsung dikonsumsi.
“Padanan” membaca adalah Menulis.
Di saat AI bisa menuangkan ide dengan sangat baik, penulis beralih peran dari penyusun kata jadi penilai makna. Jadi orkestrator. Mirip programmer yang beralih dari menulis kode jadi penilai fungsi aplikasi.
Jika keahlian menulis didapat dari kebiasaan membaca, maka keahlian menilai sesungguhnya didapat dari kebiasaan berpikir.
Menulis, memaksa kita berpikir, skill yang mutlak dibutuhkan agar mampu menjadi penilai yang baik.
Dalam beberapa hal, menulis dengan bantuan AI sebenarnya lebih efektif dan efisien. Kita bisa berfokus pada apa yang mau ditulis, bukan pada bagaimana menulisnya. Memang akan kehilangan aura penulisnya, tapi itu sepadan dengan penghematan waktunya.
Ke depan, setiap kali menulis, sepertinya saya harus beri tanda apakah artikel ditulis secara manual atau AI assisted.
Pasalnya, AI bisa membantu membuat tulisan, tapi tidak bisa dimintai bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Jadi bagian author mestinya ditulis seperti ini:
Pengarah: AFPenulis: GPT-5.6-Sol, High
Tapi untuk kali ini, tulisannya murni 100% buatan saya π
Penulis: AF