Jokowi atau Prabowo? Saya pilih….

Meskipun belum sempurna, tapi saya bersyukur bahwa iklim demokrasi di Indonesia sudah semakin baik. Dimulai dengan Pak Habibie yang mengawal reformasi, Gus Dur – Mega yang teguh mempertahankan persatuan NKRI saat rawan perpecahan, dan SBY – JK – Budiono yang menetapkan pondasi ekonomi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor. Saat ini kita menghadapi pilpres dengan dua kandidat yaitu Jokowi – JK dan Prabowo – Hatta. Tidaklah mungkin kita berharap dua kandidat yang tersedia itu sempurna. Tapi pada akhirnya, kita tetap harus menjatuhkan pilihan pada salah satu diantaranya.

jkwprw

Salah satu hal menarik yang saya amati pada pilpres kali ini adalah meningkatnya daya kritis masyarakat, khususnya golongan menengah. Akibatnya, media sosial penuh dengan topik capres yang bahkan membuat sebagian orang kesal. Tetapi kalau dipikir-pikir, lebih baik kita “meributkan” hal ini sekarang agar mendapat presiden terbaik, ketimbang “meributkan” hal ini belakangan, lalu mengeluhkan kinerja buruk sang presiden yang sudah terlanjur terpilih.

Dua Kelompok Pemilih

Dalam setiap pemilu, selalu ada dua kelompok pemilih.

Kelompok pertama adalah pemilih terafiliasi, yaitu kelompok orang-orang yang merasa memiliki kesamaan latar belakang atau kepentingan dengan salah satu capres. Faktor kesukuan, agama, sekte, afiliasi bisnis, biasanya merupakan alasan klasik yang diutamakan. Kelompok ini sudah menjatuhkan pilihan kepada sang capres tanpa mau mendengar pendapat apapun, selain apa yang ingin mereka percayai. Mereka akan mengangkat kebaikan jagoannya, tetapi pura-pura tidak tahu, menutupi, bahkan menampik keburukan sang idola. Di sisi lain, mereka selalu memojokkan, menyebarkan keburukan, serta menyangkal kebaikan kandidat lawan.

Kelompok kedua adalah pemilih tidak terafiliasi (bebas), yaitu kelompok orang-orang yang bisa memilih kandidat manapun yang paling meyakinkan. Kelompok ini terkadang disebut swing-voters book, karena pilihannya tidak dapat diprediksi dan seringkali baru membuat keputusan di saat menjelang hari H pemilu.

Setiap kubu pasti memiliki pemilih terafiliasi (kelompok pertama). Umumnya populasi pemilih terafiliasi di setiap kubu relatif berimbang. Oleh karena itu keberadaan kelompok kedua menjadi sangat penting, karena sesungguhnya suara kelompok kedua-lah yang akan menentukan siapa pemenangnya.

Tulisan saya dibawah ini ditujukan untuk orang-orang kelompok kedua, yaitu:

yinyangKelompok orang yang bisa melihat bahwa ada kebaikan dan keburukan pada setiap capres, tidak jahat banget vs. malaikat banget seperti yang tersaji di sinetron.

validKelompok orang yang memutuskan berdasarkan informasi valid, bukan berita-berita settingan media massa yang sedang panen bayaran.

ideaKelompok orang berpikiran terbuka yang mau mengubah pendapat jika menemukan kebenaran ternyata berbeda dari keyakinannya selama ini.

Persepsi Bukanlah Kenyataan

politicKebanyakan orang hanya mengikuti pendapat orang yang dianggap lebih mengerti atau mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar. Hal ini dimanfaatkan oleh tim sukses dan simpatisan kedua kubu untuk menciptakan persepsi yang menguntungkan jagoannya. Bahkan seringkali mereka menyebarkan informasi keliru, yang diciptakan sepenuhnya demi kepentingan sang jagoan. Politik memang kotor, that’s the fact.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Fadli Zon dan Pak Anies Baswedan, bagaimanapun mereka berdua adalah Tim Sukses yang bertugas memenangkan pasangan capres yang diusungnya. Tentu saja, kalimat yang terucap akan dikemas agar menciptakan persepsi baik terhadap capres dukungannya, serta menciptakan persepsi buruk terhadap capres lawan. Oleh karena itu, sudah sudah sepantasnya kita mem-validasi “pesan” kedua timses tersebut.

fadlizonFadli Zon berusaha menyederhanakan analisa dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur, cerdas, independen, dan terbukti berprestasi. Dia berusaha menggiring opini publik bahwa Jokowi tidak jujur karena melanggar janjinya sendiri tidak nyapres, tidak cerdas karena tidak mampu mengartikulasikan visi apalagi berorasi, tidak independen karena selalu menurut pada kemauan partai, dan minim prestasi karena sebagai gubernur Jakarta belum ada hasil yang signifikan.

Syawalan Alumni HMI MPOAnies Baswedan berusaha menggiring opini dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan “kebaruan”, yaitu pemimpin dan kelompok penguasa baru, karena selama pemerintahan dijalankan oleh pemimpin dan kelompok lama, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dia juga berusaha membuat Prabowo tampak tidak layak untuk menjadi capres dengan mengatakan bahwa dia mendukung orang baik, yaitu orang yang tidak punya catatan buruk masa lalu.

Mari kita pikirkan secara lebih objektif. Apakah Jokowi tidak cerdas dan minim prestasi? Apakah Jokowi hanya boneka yang tidak berdaya melawan tekanan partai? Apakah orang “baru” pasti lebih baik dari orang “lama”? Apakah ada bukti konkrit bahwa Prabowo adalah dalang kerusuhan 1998 dan terlibat kasus kudeta?


Mari Menjadi Pemilih Yang Lebih Cerdas 🙂


Kriteria Pemimpin

Sebelum membandingkan kedua pasangan capres, kita perlu terlebih dahulu menentukan kriteria yang tepat. Presiden akan bertanggung jawab dalam hal-hal besar, rumit, dilematis, yang harus diputuskan dengan cepat dalam situasi penuh tekanan. Oleh karena itu, seorang presiden harus-lah seseorang yang arif dan bijaksana. Hmmm… kita semua pasti pernah mendengar istilah “Pemimpin yang Arif dan Bijaksana”. Arif dan Bijaksana  dalam bahasa inggris adalah Wise, dimana kata bendanya adalah Wisdom. Berikut definisi Wisdom di Wikipedia:

Wisdom is the ability to think and act using knowledge, experience, understanding, common sense, and insight.[1] Wisdom has been regarded as one of four cardinal virtues; and as a virtue, it is a habit or disposition to perform the action with the highest degree of adequacy under any given circumstance. This implies a possession of knowledge or the seeking thereof in order to apply it to the given circumstance. This involves an understanding of people, things, events, situations, and the willingness as well as the ability to apply perception, judgement, and action in keeping with the understanding of what is the optimal course of action. It often requires control of one’s emotional reactions (the “passions”) so that the universal principle of reason prevails to determine one’s action. In short, wisdom is a disposition to find the truth coupled with an optimum judgement as to what actions should be taken in order to deliver the correct outcome.

Memilih orang yang bijaksana tentu tidak bisa hanya berdasarkan janji kampanye semata. Untuk menentukan siapa yang dianggap bijaksana dan siapa yang tidak, pada akhirnya kita harus bertumpu pada rasa percaya (kepercayaan). Oleh karena itu, ijinkan saya mengacu pada konsep Kepercayaan (Trust) yang disajikan pada buku “Speed of Trust” (M.R. Covey) book. Dalam bukunya ditulis bahwa kepercayaan didasarkan pada karakter dan kompetensi seseorang. Untuk menilainya, kita bisa menggunakan 4 empat faktor, yaitu:

  • Integritas (Integrity)
  • Niat (Intent)
  • Kemampuan (Capabilities)
  • Hasil (Result). 

Integritas (Integrity) bukan hanya masalah kejujuran. Integritas seseorang ditentukan oleh: Congruency, yaitu pikiran dan ucapannya selalu sesuai (jujur), emosi dan ekspresinya selalu selaras (tidak berpura-pura). Humility, yaitu mau mengakui kesalahan dan bersedia mengkoreksi pendapatnya. Courage, yaitu mampu melakukan hal yang benar, meskipun itu sangat sulit dan beresiko.

Niat (Intent) yang ditentukan oleh: Motive, yaitu alasan atau tujuan kenapa seseorang berbuat sesuatu. Agenda, yaitu langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tersebut. Behaviour, adalah bagaimana motif dan agenda terwujud dalam bentuk tindakan yang tampak dan dapat dinilai oleh orang lain.

Kemampuan (Capabilities) yang ditentukan oleh 5 hal, yaitu:

  • Talents (Bakat): Hal-hal yang secara alamiah bisa dilakukan dengan baik
  • Attitude (Sikap): Bagaimana seseorang memandang sesuatu
  • Skills (Keahlian): Hal-hal yang sudah dipelajari dan mampu dilakukan dengan baik
  • Knowledge (Pengetahuan): Apa yang diketahui seseorang
  • Style (Gaya): Cara unik seseorang dalam melakukan sesuatu

Hasil (Result) yang ditentukan oleh apa yang terbukti mampu dihasilkan oleh seseorang di masa lalu (track-record), apa yang sedang dia lakukan saat ini, dan apa yang mungkin bisa dia capai di masa yang akan datang.


Dalam memilih presiden, kita membutuhkan seseorang yang memiliki integritas tinggi, niat (agenda) yang baik, kemampuan yang mumpuni, dan prestasi yang terbukti. Piufff… Kok banyak bener?… Yaaa kalau sedikit, abang-abang pengangguran juga bisa dong jadi presiden 😛

Dalam konteks pilpres, ijinkan saya menyusun kriteria presiden sebagai berikut:

equak=l

Memiliki Integritas Tinggi, yaitu memegang teguh setiap janjinya, selalu bersikap adil, tegas dalam penegakan hukum, konsisten membela yang benar, mampu mengakui kesalahan, dan berani mengambil tindakan yang benar meski menjadikannya tidak populer.

target

Memiliki Niat Baik, yang digambarkan secara jelas dalam bentuk visi-misi yang terukur agar dapat dipantau progress pencapaiannya, memaparkan rencana eksekusi yang masuk akal, dan menunjukkan bahwa selama ini dia berperilaku sesuai dengan visi-misinya tersebut.

tools

Memiliki Kapabilitas, yang mencakup wawasan kenegaraan yang luas, teknik komunikasi yang efektif, teknik membina hubungan internasional, sikap mengayomi, dan gaya pendekatan yang sesuai kultur masyarakat Indonesia.

trophy

Memiliki Prestasi dan Rekam Jejak Yang Baik, yaitu berprestasi di bidang yang relevan dengan tugasnya nanti sebagai presiden, tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang membuatnya tidak pantas menjadi pemimpin bangsa, dan pernah membuktikan dirinya peduli dengan negara serta rakyat Indonesia.

Membandingkan Pilihan

Sebelum mulai membandinglan, ingatlah bahwa kunci dari suatu penilaian yang baik adalah objektifitas (tidak berpihak) dan validitas (mengacu pada informasi yang lengkap dan akurat).

checkmarkSebagai individu, setiap orang punya kepentingan yang bisa mengaburkan objektifitas. Jika kita ingin menjadi lebih objektif, berusahalah untuk mengabaikan dulu kepentingan kita selama melakukan penilaian. Akui keburukan jagoan, akui juga kebaikan lawan. Kita sedang ingin mendapatkan kebenaran, bukan sekedar mencari pembenaran bukan?
justiceInformasi yang kita ketahui berasal dari sumber tertentu. Kita tahu bahwa media membela yang bayar, bukan membela yang benar. Cari informasi dari kedua belah pihak. Percaya pada apa yang dapat kita percayai, jangan sekedar percaya pada apa yang ingin kita percayai. Validasi benar/tidaknya kebaikan jagoan, seperti halnya validasi benar/tidaknya keburukan lawan.

Dibawah ini adalah tabel yang berisi infomasi yang beredar tentang kedua capres sesuai nomor urutnya.

Mohon jangan langsung naik darah ketika membaca poin-poin dibawah ini 🙂 Ingat, tidak semua poin dapat dipercaya. Sebagian poin yang muncul di sini bisa jadi settingan, pencitraan, atau bahkan fitnah. Tugas kita adalah mencari informasi, lalu memutuskan mana yang valid dan mencoret yang tidak valid. Silahkan menambahkan item yang baru jika memang belum ada.

Mohon diingat bahwa poin-poin dibawah ini adalah contoh isi perbandingan. Tulisan ini tidak bermaksud menggiring opini pembaca untuk mendukung salah satu capres.

INTEGRITY

prabowo-hattaPrabowo adalah pribadi yang terbuka dan selalu bersedia dikonfirmasi atas hal-hal seputar dirinya. Selama menjadi anggota militer, Prabowo membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berani dan bertanggung jawab.

Prabowo tersangkut kasus pelanggaran HAM (penculikan aktifis) dan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Meskipun Prabowo sudah sering menjelaskan mengenai hal ini, tetapi simpang-siurnya informasi menyebabkan beberapa pihak meragukan kebenaran ucapan dan pikiran beliau (congruency). 

Koalisi pendukung Prabowo banyak diisi orang-orang lama yang selama ini tersangkut kasus, misalnya ARB (Golkar) yang tersangkut kasus Lumpur Lapindo, dan Suryadharma Ali (PPP) yang dijadikan tersangka oleh KPK. Hal ini bisa menyulitkan pemerintah baru untuk memiliki keberanian (courage) dalam membuat terobosan kebijakan, karena dihambat oleh “dosa” orang-orang lama tersebut.


jokowi-jkJokowi relatif bersih dari korupsi dan sebagai orang baru, Jokowi bukan merupakan bagian dari rezim lama sehingga tidak tersandera oleh dosa politik masa lalu.

Jokowi sering melanggar janji publik yang dibuatnya, dari mulai janji besar seperti menunaikan tugas sebagai Gubernur DKI selama 5 tahun, sampai janji kecil seperti tidak memakai pesawat sewaan dan voorijder. Kebiasaan menebar janji dan cuek saat tidak menepati, membuat kejujurannya (congruency) dipertanyakan. Jokowi sering beralasan bahwa tindakannya hanya mengikuti keinginan partai, sehingga independensi dan keberanian (courage) dalam mengutamakan kepentingan bangsa diatas golongan jadi diragukan.

Koalisi pendukung Jokowi terbukti beberapa kali berbohong, misalnya Nasdem yang semula berjanji tidak akan menjadi partai politik, PDI-P yang melanggar kesepakatan batu tulis, dan tuduhan Pak Mahfud M.D. bahwa  Cak Imin (PKB) membohonginya saat pencalonan cawapres.

INTENT (NIAT)

prabowo-hattaPrabowo menyusun visi-misi book yang dilengkapi dengan angka target pencapaian. Hal ini memungkinkan publik memantau progress tingkat pencapaian selama pemerintahan berlangsung, serta menilai hasil akhir kinerja pemerintah dengan cara membandingkan janji vs. realisasi. Ini menunjukkan bahwa rencana kerja (agenda) Prabowo dibuat dengan matang, terkomunikasikan dengan baik, dan menegaskan keberaniannya untuk memenuhi janji.

Prabowo dituduh pernah berusaha melakukan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Hal ini membuat sebagian orang khawatir bahwa Prabowo bisa memiliki motivasi dan agenda tersembunyi. Sebagian kalangan minoritas (WNI keturunan, non-muslim, aliran muslim non-sunni) mengkhawatirkan Prabowo memiliki motive untuk menggunakan kekuasaannya secara represif terhadap mereka.


jokowi-jkJokowi menyusun visi-misi book yang menjawab problem mendasar yang selama ini tidak diprioritaskan, yaitu pembangunan karakter bangsa dan toleransi. Sikap Jokowi yang sederhana dan merakyat menunjukkan keteladanan terhadap perilaku (behaviour) yang disajikan dalam visi-misinya tersebut.

Meskipun ditulis secara lengkap, poin-poin visi-misi Jokowi tidak banyak dilengkapi dengan target pencapaian. Poin-poin rencana kerja yang bersifat normatif ini membuat publik tidak bisa mengukur apakah janjinya (agenda) tercapai atau tidak. Sebagian kalangan muslim mengkhawatirkan partai pengusung Jokowi, yaitu PDI-P memiliki motive untuk menghambat potensi umat muslim di negeri yang mayoritas muslim ini atas dasar persaingan pengaruh dalam politik.

CAPABILITY (KEMAMPUAN)

prabowo-hattaPrabowo terdidik untuk memimpin dengan cara militer. Prabowo memiliki sikap (attitude) tegas dan berani, keahlian (skill) dalam strategi dan berkomunikasi yang efektif, pengetahuan dan wawasan internasional, serta gaya (style) memimpin yang disegani. Secara keseluruhan, Prabowo memiliki kemampuan yang lengkap sebagai seorang pemimpin.


jokowi-jkJokowi adalah pemimpin yang berasal dari sipil dengan latar belakang pebisnis dan pejabat daerah. Jokowi memiliki sikap (attitude)akomodatif terhadap berbagai golongan, keahlian (skill) persuasi tanpa represi. Keahliannya ini menciptakan kelebihan tersendiri karena membedakannya dari kebanyakan pemimpin yang seringkali mengambil pendekatan represif dalam menjalankan kebijakan. Pengetahuannya akan banyak terbantu dengan hadirnya para intelektual muda, serta gayanya (style) yang sederhana membuat Jokowi tidak berjarak dengan rakyat.

Sebagian orang menganggap Jokowi belum memiliki kemampuan sebagai pemimpin tingkat nasional. Kapabilitasnya seputar hubungan internasional, pertahanan-keamanan, dan perekonomian negara masih belum terbukti.

RESULT (HASIL)

prabowo-hattaPrabowo selama karirnya sebagai Jenderal berhasil melakukan beberapa misi militer seperti pembebasan sandera oleh OPM dan penangkapan pemimpin gerilyawan Timtim. Setelah menjadi warga sipil, Prabowo banyak melakukan mediasi internasional untuk kasus kemanusiaan seperti pembebasan Wilfrida dari hukuman mati. Prabowo juga aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan seperti HKTI dan perkumpulan olah raga silat. Dalam masa kepemimpinannya, timnas pencak silat tidak pernah kalah di turnamen internasional.

Prabowo dituduh melakukan pelanggaran HAM selama dia menjabat Danjen Kopasus dengan melakukan penculikan aktifis. Prabowo juga dituduh berencana melakukan kudeta terhadap B.J. Habibie. Apabila track-record tersebut benar, maka Prabowo merupakan sosok yang sangat berbahaya karena bisa mengembalikan Indonesia ke jaman diktator ala Soeharto. 


jokowi-jkJokowi menuai sukses ketika menjadi walikota Solo. Cerita suksesnya termasuk pemindahan PKL tanpa kekerasan dan meraih penghargaan nasional di bidang pariwisata. Di Jakarta, yang masalah utamanya adalah banjir dan macet, Jokowi sudah memulai beberapa inisiatif kegiatan, tetapi belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sejauh ini, rekam jejak Jokowi dapat dikatakan bersih dari perbuatan tercela. Hal ini membuat banyak orang merasa aman memilih beliau.

Isi dari tabel di atas bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Itu sah-sah saja, karena tabel diatas terisi berdasarkan informasi yang kita ketahui dan percayai. In fact, seiring dengan waktu, bertambahnya informasi, dan terungkapnya berita, orang-orang yang berpikiran terbuka bisa saja mengubah isian tabel tersebut, lalu mengubah haluan dan dukungannya.


Menentukan Pilihan

Bagi anda yang cenderung berpikir dengan perasaan/intuisi, isilah tabel perbandingan diatas secukupnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Timbang-timbanglah dengan intuisi anda, mana diantara keduanya yang lebih layak.

Bagi anda yang cenderung berpikir analitik/logis, isilah tabel perbandingan diatas selengkap-lengkapnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Beri Nilai % pada keempat faktor tersebut diatas. Jumlahkan semua nilai itu untuk mendapatkan kandidat yang lebih layak.

Prabowo Jokowi
Integrity ….% ….%
Intent ….% ….%
Capabilities ….% ….%
Results ….% ….%
TOTAL ….% ….%

Voilaaa… You Got The Winner 🙂


Tapi Kan….

Tapi kan… Prabowo direstui partai-partai Islam yang bersedia mengakomodasi kepentingan kaum muslim. Kalau kubu lawan didukung PDIP yang katanya selalu menolak UU berbau syariah.

Tapi kan… Jokowi lebih mengedepankan toleransi dan pluralitas karena selain didukung PKB dan ormas islam, juga didukung PDIP dan yang lebih bersedia mengakomodasi kepentingan kelompok non-muslim dan nasionalis. Kalau kubu lawan katanya didukung FPI yang biang rusuh itu.

Hmmm… kalau pikiran itu masih ada, rasanya sulit untuk berpikir objektif. Kalau pikiran-pikiran itu masih ada, apapun alasannya, pasti kita akan memilih satu capres tertentu tanpa melihat faktor lainnya lagi.

Ok, kalau masih penasaran, setelah melakukan perbandingan secara objektif, silahkan pikirkan kembali kepentingan kita dan ulang kembali perbandingan diatas. Lihat dan buktikan betapa kepentingan kita akan sangat mempengaruhi objektifitas penilaian. Sekarang terserah saja… Apakah mau memilih berdasarkan penilaian objektif, atau mau kembali memilih berdasarkan sentimen. Itu hak setiap individu. Setidaknya, kita tahu apa yang terjadi dengan proses pengambilan keputusan kita tersebut 🙂

Well… Setiap pilihan harus dihargai, apapun alasannya. Pemilih terafiliasi ataupun bebas sama-sama berhak menentukan cara dan hasilnya sendiri. Kita semua sedang berproses dan belajar menjadi pemilih dan negara yang lebih baik. Salam damai untuk seluruh bangsa Indonesia 🙂

Hiduplah Indonesia Rayaaaaaa…. indonesia-flag-icon

Advertisements

191 thoughts on “Jokowi atau Prabowo? Saya pilih….

  1. Kalau saya lihat penulis masih kurang memberikan informasi mengenai ke dua calon capres dan partai pengusungnya, yaitu mengenai status ke kekayaan pribadi yang sesunggunya benar-benar sangat berpengaruh dalam menjalankan pemerintahan ke depannya pada saat salah satu calon tersebut terpilih menjadi Presiden RI.

    Capres no 1 memiliki kekayaan 1,7T dan hutang usaha 14,8T belum lagi ditambah pembayaran gaji karyawan PT.Kiani Kertas yang belum terbayar sampai saat ini, ditambah salah satu partai pengusung nya yaitu Golkar yang ketua umummya mempunyai hutang usaha mencapai 24,6T ditambah hutang pembayaran ganti rugi lahan yang belum diselesaikan dan pembayaran pengembalian premi dan profit asuransi yang sampai saat ini nasabahnya masih terus melakukan protes, sedangkan total kekayaannya kurang dari 8T yang bisa jadi saat ini tambah berkurang lagi kekayaannya dikarenakan harga saham perusahaan miliknya yang terus anjlok di bursa saham.

    Capres no 2 memiliki kekayaan 27M dengan hutang usaha sebesar Rp. 0,-…Bagi saya ini merupakan salah satu hal yang sungguh sangat krusial. Karena akan sangat dikuatirkan sekali apabila capres yang mempunyai hutang usaha begitu fantastis menang saat pilpres apakah beliau menjamin tidak akan menggunakan posisinya untuk mengambil keuangan negara untuk menutupi/membayar hutangnya.? Juga untuk beliau yang menjadi partai pengusung yang mempunyai hutang lebih fantastis lagi dan ditambah kewajibannya membayar ganti rugi kepada rakyat atas lahannya yang terkena bencana atas kesalahan manajemen operasi prosedur pengeboran dan juga kewajiban ganti rugi terhadap nasabah asuransi yang notabene perusahaan asuransi tersebut juga milik beliau, hal tersebut juga berpotensi akan menggunakan keuangan negara untuk membayar kewajiban hutang usahanya dan akan menggunakan power kekuasaan pemerintah untuk menghapus kewajiban membayar ganti rugi kepada rakyat yang telah dirugikan oleh usaha yang dimiliki beliau.

    Bagi saya apabila capres no.1 dan salah satu partai pengusungnya yaitu ketua partai nya bisa menyelesaikan masalah hutang usahanya terlebih dahulu sampai tuntas atau bisa dibilang saldo hutangnya menjadi Rp. 0,- dan pembayaran ganti rugi yang menjadi hak dari rakyat dan nasabah dibayarkan sebelum mencalonkan diri sebagai capres, saya yakin beliau akan mendapatkan dukungan solid dari rakyat.

    Hal lain yang saya coba perhatikan adalah kedua capres pada saat kampanye akan menjalankan pemerintahan bebas dari KKN. Kalau ditelaah singkatan KKN yaitu KORUPSI, KOLUSI dan NEPOTISME. Kalau dilihat dari capres no.1 ada keponakan, sepupu yang menjadi caleg pada saat pileg lalu yang sudah memberikan pernyataan pada saat kampanye pileg beliau mengeluarkan anggaran kampanya sebagai caleg yaitu sebesar 6M, sedangkan kita tahu pasti pendapat gaji plus tunjangan anggota legislatif DPR RI untuk satu periode total menjabat selama 5 tahun hanya 5M lebih sedikit.
    Hasil pemilu pileg semua keluarga capres no.1 menang baik menjadi anggota legislatif DPR RI DAN DPRD tingkat 1, apakah ada jaminan kalau mereka yang terpilih ini tidak akan menggunakan posisi mereka tersebut untuk mencari keuntungan pribadi dan menjamin tidak akan menggunakan posisi mereka untuk memperluas jaringan usaha yang mereka miliki saat ini, padahal kita sudah bisa melihat dari pengalaman sebelumnya dimana saat mereka berkuasa ekspansi besar-besaran mereka lakukan dengan cara yang kadangkala dilakukan dengan merugikan pihak pengusaha yang lemah/tidak dekat dengan mereka bahkan juga rakyat kecilpun juga dirugikan.
    Capres no.2 kita bisa lihat tidak ada satu orangpun yang masuk dalam pemerintahan ataupun menjadi caleg pada saat pileg lalu. Ini menjadi salah satu poin penting kalau semangat memberantas KKN yang disampaikan pada saat kampanye capres sekarang ini bahwa capres mana yang benar-benar bisa menjalankan janji komitmennya untuk memberantas KKN.

    Ada poin lain yang belum penulis sampaikan mengenai partai pengusung yang tersangkut kasus mark up biaya kirim gerbong KA hibah dari Jepang dan mafia Migas yang berpotensi merugikan negara 17T yaitu partai yang mengajukan ketua umumnya menjadi cawapres, belum lagi kasus impor sapi yang juga sudah menyeret salah satu ketua umum partai masuk kedalam hotel prodeo. Ditambah lagi partai pengusung yang tidak mendapatkan kursi legislatif periode 2014-2019 yang saat ini dibuka lagi kasusnya yaitu kasus penyediaan alat SKRT – Anggoro Widjojo di departemen kehutanan yang saat periode Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1 posisinya diduduki oleh ketua umum partai tersebut.

    Poin lain yang ingin saya tambahkan kalau mengenai capres no.2 melanggar janjinya pada saat menduduki posisi gubernur DKI tidak menjalankan tugasnya sampai selesai masa periode seharusnya bisa dilihat akibat adanya dorongan dari sebagian rakyat Indonesia untuk beliau mencalonkan diri menjadi capres.

    Kesimpulan saya apabila poin yang saya disebutkan diatas bisa ditambahkan oleh penulis masuk kedalam bahan penulisan diatas saya bisa mengambil kesimpulan kalau penulis netral tidak memihak salah satu capres dalam penulisannya diatas.

    Salam

    1. Saya mau ikut tambahkan info mengenai beberapa hal…:
      1.tentang karakter..sepertinya karakter pemimpin harus diperhatikan. Nah karakter itupun terlihat amat berbeda antara 1 dan 2. Emosi yg kerap meledak ledak rasanya bukan cerita kosong.
      2.integritas. Sebagai pelaku bisnis ini menjadi penting. Berbisnis dengan sang adik dan pihak ke 3 apakah diketahui oleh masyarakat banyak ? Bagaimana pemenuhan2 komitment nya dalam perjalanan bisnis. Bandingkan dgn no 2 yang walaupun kecil lebih baik “nama” di dunia bisnis ?
      3. Kompetensi nya mungkin didunia militer banyak berhasil, tapi disiplin militer di campur dgn emosi yg mudah tersulut jika dalam tekanan bukankah akan membahayakan negri ini .
      4.Rombongan Partai yg menyertai nya banyak atau lebih banyak yg mempunyai track record merugikan negri ini. Lebih parah lagi suasana antara Golkar dan ke”Suharto” an belakangan menjadi kian kental di kubu no 1.
      5.Bicara ke pentingan umat islam…siapakah yang diwakili oleh kubu no 1.? Kalau mewakili partai2 Islam ok, tapi mereka tidak mewakili mayoritas umat Islam di negri ini. Partai2 yg berlabel kan Islam justru sedang ber masalah..Nah calon no 2. secara individual secara factual komitment terhadap norma2 ke Islaman nya yang universal dan membawa rahmatan lil alamin ..jauh lebih membumi.
      6. Memperhatikan cara2 komunikasi dalam kampanye…kubu no1 sering menggunakan bahasa yg di proyeksikan sebagai ” perang”…perang Badar lah…perang Bharata Yudhalah…waah ini kan kurang patut.
      7. Target2 pembangunan. Calon no 1 memang memasang target. Tapi jika diteliti target2 dibidang perekonomian mereka teramat dahsyat…dan tidak menjejak bumi..? Lalu apakah yg sepert i ini di namakan lebih kompeten ?

    2. Dengan segala hormat, saya hanya menyanggah, mungkin diantara kita masih begitu awam mengenai struktur pemodalan dan financial analysis perusahaan. Sangat naif apabila kita beranggapan bahwa asset korporasi/perusahaan dan asset pribadi merupakan hal yang tidak terpisah. oleh karena itu, beberapa hal yang mesti kita ketahui bersama adalah:

      1. Korporasi yang sudah berstatus sebagai Perseroan Terbuka (PT) merupakan badan usaha yang dimiliki oleh lebih dari 1 orang pemodal yang berstatus sebagai pemegang saham (share holder). Kemudian, sistem operasional perusahaan dijalankan .oleh jajaran direksi (Board of Director) yang diduduki oleh ,baik itu, pemegang saham sendiri maupun dari personal non pemegang saham. Secara default, Board of Director terdiri dari poros-poros manajemen fungsional seperti, CEO, Secretary, Marketing, Finance, Operation, Hrd dan beberapa yang lain sesuai dengan kebutuhan perusahaan, Dalam keberjalanannya, perusahaan tersebut akan diawasi oleh jajaran dewan komisioner (Board of Commissioner ) yang terdiri dari para pemegang saham (share holder) yang terbentuk berdasarkan kebijakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa Prabowo / ARB merupakan satu-satunya orang yang bertanggung jawab dan terlibat langsung atas masalah yang terjadi dalam opersional perusahaan tersebut apabila beliau-beliau ini bukan merupakan jajaran Board of Director di perusahaan tersebut.

      2. Hutang dalam ruang lingkup perusahaan bukanlah merupakan hal yang buruk bagi perusahaan tersebut. Beberapa manfaat dari penggunaan hutang adalah meningkatnya tingkat Leverage perusahaan, yang dalam proporsi tertentu, sangat baik bagi para pemegang saham yang berujung pada peningkatan rasio Return on Investment (RoI) dan Earning per Share (EPS), atau dalam bahasa sehari-hari peningkatan nilai keuntungan untuk setiap saham yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut. Selain itu, setiap perusahaan pasti memiliki jajaran fungsional manajemen yang menangani langsung masalah Financing perusahaan untuk menentukan proporsi hutang yang kompetitif dan aman. Dan untuk sedikit wawasan, setiap perusahaan pasti memiliki hutang, KECUALI ANDA DAPAT MENUNJUKAN PERUSAHAAN MANA YANG TIDAK MEMILIKI HUTANG dan APA YANG AKAN TERJADI APABILA PERUSAHAAN TERSEBUT TIDAK MEMILIKI HUTANG, dalam hal ini, anda dapat mengakses laporan keuangan tersebut di situs resmi idx.co.id untuk melihat secara langsung dan terbuka laporan keuangan perusahaan yang sudah Listed dalam bursa saham (capital market/secondary market) seperti Unilever, Wijaya Karya, Adhi Property, Holcim, Garuda Indonesa, dll.

      3. Asset, Hutang, dan Permodalan yang dimiliki oleh perusahaan (PT) merupakan bagian terpisah dari kekayaan pribadi. Setiap perusahaan yang memiliki hutang pasti memiliki resiko kebangkrutan. Namun, perusahaan tersebut tidak akan menggunakan hutang yang lebih tinggi dari kemampuan perusahaan tersebut membayar hutang/ Apabila perusahaan tersebut memiliki proporsi hutang yang lebih tinggi dari kemampuan untuk membayar dan pada akhirnya tidak t au apa)atmampu membayar dalam jangka waktu tertentu, maka pihak berhak untuk menyatakan perusahaan tersbut bangkrut adalah Bank. Bank jugalah yang akan melakukan likuidasi asset-asset perusahaan tersebut sebagai bentuk pembayaran hutang. Sekali lagi yang ingin saya sampaikan adalah kekayaan perusahaan tidak tercampur dengan kekayaan pribadi dan Anda tidak dapat menuduh seseorang tersebut akan melakukan Korupsi atas opini tak berdasar yang Anda buat.

      Selain poin-poin diatas, saya juga menyarankan Anda untuk mendalami setiap kasus yang terjadi dengan perspektif professional sehingga Anda tidak harus mengatakan “tidak ada satu pun, semua, atau pasti” tanpa menggunakan dasar/fakta yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Anda sangat bertanggung jawab atas statement yang anda buat. Artinya, apabila Anda tidak dapat membuktikan kebenaran statement Anda, maka pada saat itu Anda sedang membuat fitnah.

      1 hal lagi, janji adalah janji, tidak ada pembenaran (entah itu atas nama rakyat atau apapun) atas janji yang tidak terpenuhi kecuali janji itu telah terpenuhi atau anda telah mati dan tidak dapat menyelesaikan janji tersebut. tunjukkan integritas anda dan calon pemimpin yang anda usung.

      Mohon kritik dan saran apabila ada kesalahan dalam statement yang saya buat.
      Terima Kasih

      1. Nice Comment, saya setuju dengan saudara yang menegaskan kita untuk lebih jelas memaparkan argumen kita dan membenarkan sesuatu berdasarkan data yang didapat dari pihak bertanggung jawab. Semoga para pembaca yang comment di artikel ini juga dapat menyadari hal tersebut.

    3. Yang saya tau, salah satu syarat jadi calon Presiden itu tidak mmiliki tanggungan utang baik pribadj maupun perusahaan yg dia kelola jd kalo kamu bilang Pak Prabowo masih punya utang itu berarti kmu salah satu korban black campaign
      Temenku jg ada yg kerja jd buruh di perusahaannya Pak Prabowo dan dia bilang kalo gaji buruh gak dibayar 5 bulan itu jg omong kosong

    4. Hola mas.. For your information. Artikel ini dibuat bukan untuk memilih salah satu pasangan. Tapi lebih ditujukan sebagai semacam guide, atas dasar apa kita memilih seorang capres. Untk masalah kekayaan, bisa ditambahkan ke dalam list penilaian anda sendiri. Seperti yg sudah disebutkan diatas, penilaian tambahan silahkan ditambahkan dalam penilaian anda sendiri ketika memilih capres. Cheerrs.

  2. Sekali lagi saya ingin berterima kasih untuk kawan-kawan yang sudah memberikan komentar. Saya perhatikan saat ini sudah ada banyak orang, termasuk pendukung kedua kubu, yang paham maksud dari artikel ini. Ini tampak dari komentar positif kedua kubu pendukung capres.

    Namun demikian, seperti yang saya tulis di bagian awal, artikel ini sebenarnya ditujukan bagi para calon pemilih bebas (non-afiliasi/swing voters/undecided voters). Kelompok pemilih ini membutuhkan alat (tools) untuk membantu proses pemilihan. Saya mencoba menyediakan tools tersebut. Isian poin-poin perbandingan diserahkan 100% kepada pembaca. Saya hanya menyarankan pembaca untuk bersikap objektif dengan menghindarkan prasangka serta melakukan validasi terhadap semua informasi yang akan digunakan sebagai poin perbandingan.

    Contoh yang tersaji di artikel hanyalah CONTOH semata. Silakan hapus dan ganti total jika memang diperlukan. Saya berpendapat bahwa contoh poin perbandingan sangat penting untuk tetap ada, karena diperlukan pembaca untuk lebih memahami bagaimana tools ini digunakan.

    Berdasarkan beberapa masukan (komentar), saya sudah melakukan beberapa koreksi agar tidak menciptakan salah persepsi. Terima kasih sekali, karena kawan-kawan sudah membantu artikel ini lebih layak dibaca.

    Namun saya tidak bisa dan tidak akan mengakomodasi seluruh masukan hanya demi memuaskan keinginan beberapa orang yang tampak jelas sangat terafiliasi dengan salah satu capres. Para pembaca ini bukan target audience tulisan saya, karena seperti yang saya sebut di bagian awal, para pemilih terafiliasi hanya bisa puas mendengar pujian dan anti mendengar kritik terhadap jagoannya, serta enggan mendengar pujian dan gemar mencemooh lawannya.

    Meski demikian, baik pemilih terafiliasi maupun bebas adalah anak bangsa yang berhak memilih sesuai dengan buah pikirannya sendiri. Saya sangat menghargai itu, seperti halnya saya juga minta pihak lain menghargai buah pikiran saya.

    Mengutip kalimat seorang kawan blogger, “Saya hanya bertanggung jawab terhadap apa yang saya tulis, bukan apa yang anda pahami”.

    Maju terus Indonesia. Salam damai untuk kita semua. 🙂

  3. Mungkin banyak orang yang punya pemikiran begitu,, tapi sedikit yang bisa mengungkapkan dengan gamblang spt mas ahmad. Tapi sekali lagi memang ada hal-hal (menurut saya) yang sedikit menggiring ke opini tertentu, dan sara lagi yang dijadikan contohnya, yaitu :

    “Tapi kan… Prabowo direstui partai-partai Islam yang mau mengakomodasi kepentingan kaum muslim.

    Tapi kan… Jokowi didukung PDIP yang mau mengakomodasi kepentingan kelompok non-muslim, sekte muslim minoritas, dan nasionalis.”

    Kedua-duanya contoh merugikan salah satu calon, karena kita tahu pemilih muslim adalah 90% lebih penduduk indonesia.

    Mestinya, dituliskan prabowo,,,,, direstui partai islam,,, jokowi direstui ormas islam,,, jadi fair kan?,,,,

    Saya tidak menuduh mas ahmad menggiring ke salah satu,, tp itu murni penilaian saya terhadap tulisan ini.

    1. Terima kasih sekali. Feedback seperti mas asrofi ini sangat konstruktif. Jelas, spesifik, bahkan disertai usulan.

      Awalnya kalimat tersebut saya pilih untuk menampilkan alasan primordial kedua kubu. Faktanya memang banyak orang memilih atas alasan agama semata. Tetapi setelah mendapat kritik dari mas asrofi, saya setuju bahwa ini bisa saja disalahartikan.

      Saya coba memperbaiki redaksional kalimat tersebut tanpa mengubah makna awalnya. Intinya sih, saya ingin menyajikan bahwa kedua kubu sering menggunakan alasan SARA untuk menjustifikasi pilihannya.

      Sekali lagi, terima kasih atas masukannya.

      1. (saya ingin menyajikan bahwa kedua kubu sering menggunakan alasan SARA untuk menjustifikasi pilihannya)>>>saya ingin menanggapi “Kedua Kubu” harusnya mas ahmad lebih relevan lagi…klo menulis, “Kedua Kubu” bisa diartikan 50%-50% dalam menjustifikasi pilhan…hasil survei Politicawave menyebutkan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) paling banyak mendapatkan fitnah, permusuhan dan kebencian dalam bentuk kampanye hitam. Pasangan ini mendapatkan serangan kampanye hitam hingga mencapai 94,9 persen. Sementara pesaingnya yaitu pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa hanya mendapatkan kampanye hitam 13,5 persen.
        “Jenis-jenis kampanye hitam berupa isu suku, ras, agama (SARA), pemalsuan surat ke Kejaksaan Agung (Kejagung), iklan kematian terhadap Jokowi, dan lain-lain,” kata pendiri Politicawave Yose Rizal. (skj)/Jonas Fredryc Tobing/merdeka.com/bh).

        (kedua kubu sering) kata SERING disini harusnya penulis bisa mengungkap lebih lugas lebih sering mana kubu yg selalu mengunakan isu sara….

        Mungkin sebaiknya mas ahmad menulis : Saya coba memperbaiki redaksional kalimat tersebut tanpa mengubah makna awalnya. Intinya sih, saya ingin menyajikan bahwa SALAH SATU kubu sering menggunakan LEBIH BANYAK alasan SARA untuk menjustifikasi pilihannya.

  4. Terimakasih untuk pemaparannya. Menurut saya sudah bagus berusaha senetral mungkinmungkin terutama untuk pemilih yg belum terafiliasi, atau pemilih yg terafiliasi namun iklas menetralkan hati dan pendapatnya agar bisa we onjektif mungkin. Sayangnya,masih setuju dgn pak Firda Awal Gemilang, msh Ada aja yg belum nangkep maksud penulis.

  5. dari tulisan yang ada saya kira penulis adalah seorang intelektual yang baik, sehingga saya yang hanya rakyat jelata ini kesulitan memahami secara menyeluruh apa yang beliau sampaikan.
    sebagai rakyat jelata dengan pikiran sederhana, hanya bisa berpikir untuk memilih capres yang tidak memiliki track record buruk (entah hanya dituduh atau memang benar).
    Sehingga paling tidak, saya tidak membuat negara memliki resiko yang tak pernah kita tahu selama 5 tahun yang akan datang.
    Ibarat sama-sama membeli kucing dalam karung, dari luar karung yang satu terlihat ganas, dan yang satunya terlihat lebih kalem. 🙂
    Sekali lagi ini hanyalah pemikiran saya yang sederhana. Kiranya tidak mengganggu saudara saudari sekalian.
    Selamat memilih dengan hati.

  6. penulis saya kira sudah lumayan bagus dan lumayan netral meskipun agak condong kepada Capres No.1, tapi itu hal yang wajar karena seluruh pikiran pasti akan dipengaruhi oleh Pengalaman, Pengetahuan, Lingkungan dan Kepentingan pribadi dari penulis.

    Seharus penulis berhenti pada :
    Integritas (Integrity)
    Niat (Intent)
    Kemampuan (Capabilities)
    Hasil (Result).
    cukup menjelaskan apa yang dimaksud dengan empat kriteria tersebut dan tidak perlu membuat tabel penilaian terhadap masing-masin pasangan kandidat.

    namun demikian saya tetap menilai tulisan ini adalah tulisan yang sangat bagus, tidak banyak orang yang bisa menulis seperti ini.

    teruslah berkarya anak muda, karena indonesia kedepan membutuhkan pemimpin-pemimpin yang bisa membangun sistem, untuk kepentingan Pluralitas (bukan Pluralisme) yaitu yang mengedepankan Wawasan Nusantara, Bukan Wawasan Padang Pasir, Bukan Wawasan Neo Liberal dan Bukan Wawasan lain yang sangat bertentang dengan ideologi Pancasila.

    semoga Pilpres 2014 ini bisa berlangsung dengan baik, jujur, adil, aman dan damai.
    Bhineka Tunggal Ika adalah suatu keharusan yang kita hadapi.

    Selamat berkarya.

    1. Wuaahhhh… Saya nulisnya pluralisme, seharusnya memang pluralitas. Kesalahan fatal 🙂 untung segera “ketangkep basah” 🙂 terima kasih sekali Mbah Bondan. Nice to meet you 🙂

  7. Artikel yang bagus buat dijadikan tambahan pertimbangan. Pilihan hanya 2, bisa jdi yang tdk kita sukai itu yang terpilih, jadi cobalah melihat semuanya dari sisi positif.

  8. Reblogged this on Alikta Hasnah Safitri and commented:
    Well… Setiap pilihan harus dihargai, apapun alasannya. Pemilih terafiliasi ataupun bebas sama-sama berhak menentukan cara dan hasilnya sendiri. Kita semua sedang berproses dan belajar menjadi pemilih dan negara yang lebih baik.

  9. Mas Ahmad. Tulisan Anda bagus. Menjelang pilpres ini, saya baru kali ini terkesan dengan sebuah tulisan yg berusaha mengajak orang untuk berpikir rasional. Keep writing mas….

  10. kalo ane sih jujur lebih milih yang udah terbukti kerja nyata daripada terbukti baru nebar janji janji saja, karena bosen dari dulu milih calon yang nebar janji janji mulu, juga milih yang jarang nyerang lawan, maksud ane nyerang lawan ini nyerang tapi dengan cara yang kurang elegan gitu lho, misalnya foto hoax, berita hoax dsb,

  11. Reblogged this on Tinkerbell and commented:
    Hiduplah Indonesia Rayaaaaaa, mari hilangkan sifat apatisme terhadap penyelenggaraan Pemilu 2014. Ini merupakan langkah sangat sederhana yang bisa kita lakukan dengan menunjukkan kalau kita masih peduli sama keberlangsungan Indonesia untuk 5 tahun ke depan. Say NO to Golput pada tanggal 9 Juli 2014 nanti 😀

  12. Kalau ingin netral harusnya sih penulis gak usah mengulas fakta-fakta positif/negatif terhadap kedua calon. Cukup jelaskan saja kriteria memilih presiden seperti apa. Kalau mau membuat contoh isi perbandingan kan bisa pakai contoh yang lain misalnya mantan presiden thn sekian dibandingkan dengan tahun sekian.
    Karna sekali lagi, isi artikelnya sudah cukup benar karna ada dasar kriteria pemimpinnya juga namun contoh perbandingan nya yang menurut saya, ada tulisan-tulisan yang hanya berdasarkan asumsi dan mempengaruhi pembaca untuk memilih salah satu calon 🙂
    Salam pesta demokrasi!

  13. Meskipun penilaian yang tertulis masih tergolong dasar dan tidak terlalu menunjukan bukti yang kuat Saya sangat menghargai karena di sini situasinya netral, dan memang itulah yang dibutuhkan. Orang jadi bisa menilai dari titik 0. Terima kasih informasinya, Saya siap memilih 🙂

  14. Terserah pilihan anda yg mana. Satuhal yg hrs ttp di jaga yaitu keamanan dan kenyamanan
    Untuk kita semua… Mdah2n qt bisa menjaganya.

  15. Terima kasih untuk semua yang sudah memberi komentar, maaf tidak bisa membalas satu demi satu. Intinya kita coba pilih yang terbaik sesuai dengan pemahaman masing-masing. Yang penting kita saling menghargai. Thanks all 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s