Jokowi atau Prabowo? Saya pilih….

Meskipun belum sempurna, tapi saya bersyukur bahwa iklim demokrasi di Indonesia sudah semakin baik. Dimulai dengan Pak Habibie yang mengawal reformasi, Gus Dur – Mega yang teguh mempertahankan persatuan NKRI saat rawan perpecahan, dan SBY – JK – Budiono yang menetapkan pondasi ekonomi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor. Saat ini kita menghadapi pilpres dengan dua kandidat yaitu Jokowi – JK dan Prabowo – Hatta. Tidaklah mungkin kita berharap dua kandidat yang tersedia itu sempurna. Tapi pada akhirnya, kita tetap harus menjatuhkan pilihan pada salah satu diantaranya.

jkwprw

Salah satu hal menarik yang saya amati pada pilpres kali ini adalah meningkatnya daya kritis masyarakat, khususnya golongan menengah. Akibatnya, media sosial penuh dengan topik capres yang bahkan membuat sebagian orang kesal. Tetapi kalau dipikir-pikir, lebih baik kita “meributkan” hal ini sekarang agar mendapat presiden terbaik, ketimbang “meributkan” hal ini belakangan, lalu mengeluhkan kinerja buruk sang presiden yang sudah terlanjur terpilih.

Dua Kelompok Pemilih

Dalam setiap pemilu, selalu ada dua kelompok pemilih.

Kelompok pertama adalah pemilih terafiliasi, yaitu kelompok orang-orang yang merasa memiliki kesamaan latar belakang atau kepentingan dengan salah satu capres. Faktor kesukuan, agama, sekte, afiliasi bisnis, biasanya merupakan alasan klasik yang diutamakan. Kelompok ini sudah menjatuhkan pilihan kepada sang capres tanpa mau mendengar pendapat apapun, selain apa yang ingin mereka percayai. Mereka akan mengangkat kebaikan jagoannya, tetapi pura-pura tidak tahu, menutupi, bahkan menampik keburukan sang idola. Di sisi lain, mereka selalu memojokkan, menyebarkan keburukan, serta menyangkal kebaikan kandidat lawan.

Kelompok kedua adalah pemilih tidak terafiliasi (bebas), yaitu kelompok orang-orang yang bisa memilih kandidat manapun yang paling meyakinkan. Kelompok ini terkadang disebut swing-voters book, karena pilihannya tidak dapat diprediksi dan seringkali baru membuat keputusan di saat menjelang hari H pemilu.

Setiap kubu pasti memiliki pemilih terafiliasi (kelompok pertama). Umumnya populasi pemilih terafiliasi di setiap kubu relatif berimbang. Oleh karena itu keberadaan kelompok kedua menjadi sangat penting, karena sesungguhnya suara kelompok kedua-lah yang akan menentukan siapa pemenangnya.

Tulisan saya dibawah ini ditujukan untuk orang-orang kelompok kedua, yaitu:

yinyangKelompok orang yang bisa melihat bahwa ada kebaikan dan keburukan pada setiap capres, tidak jahat banget vs. malaikat banget seperti yang tersaji di sinetron.

validKelompok orang yang memutuskan berdasarkan informasi valid, bukan berita-berita settingan media massa yang sedang panen bayaran.

ideaKelompok orang berpikiran terbuka yang mau mengubah pendapat jika menemukan kebenaran ternyata berbeda dari keyakinannya selama ini.

Persepsi Bukanlah Kenyataan

politicKebanyakan orang hanya mengikuti pendapat orang yang dianggap lebih mengerti atau mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar. Hal ini dimanfaatkan oleh tim sukses dan simpatisan kedua kubu untuk menciptakan persepsi yang menguntungkan jagoannya. Bahkan seringkali mereka menyebarkan informasi keliru, yang diciptakan sepenuhnya demi kepentingan sang jagoan. Politik memang kotor, that’s the fact.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Fadli Zon dan Pak Anies Baswedan, bagaimanapun mereka berdua adalah Tim Sukses yang bertugas memenangkan pasangan capres yang diusungnya. Tentu saja, kalimat yang terucap akan dikemas agar menciptakan persepsi baik terhadap capres dukungannya, serta menciptakan persepsi buruk terhadap capres lawan. Oleh karena itu, sudah sudah sepantasnya kita mem-validasi “pesan” kedua timses tersebut.

fadlizonFadli Zon berusaha menyederhanakan analisa dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur, cerdas, independen, dan terbukti berprestasi. Dia berusaha menggiring opini publik bahwa Jokowi tidak jujur karena melanggar janjinya sendiri tidak nyapres, tidak cerdas karena tidak mampu mengartikulasikan visi apalagi berorasi, tidak independen karena selalu menurut pada kemauan partai, dan minim prestasi karena sebagai gubernur Jakarta belum ada hasil yang signifikan.

Syawalan Alumni HMI MPOAnies Baswedan berusaha menggiring opini dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan “kebaruan”, yaitu pemimpin dan kelompok penguasa baru, karena selama pemerintahan dijalankan oleh pemimpin dan kelompok lama, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dia juga berusaha membuat Prabowo tampak tidak layak untuk menjadi capres dengan mengatakan bahwa dia mendukung orang baik, yaitu orang yang tidak punya catatan buruk masa lalu.

Mari kita pikirkan secara lebih objektif. Apakah Jokowi tidak cerdas dan minim prestasi? Apakah Jokowi hanya boneka yang tidak berdaya melawan tekanan partai? Apakah orang “baru” pasti lebih baik dari orang “lama”? Apakah ada bukti konkrit bahwa Prabowo adalah dalang kerusuhan 1998 dan terlibat kasus kudeta?


Mari Menjadi Pemilih Yang Lebih Cerdas 🙂


Kriteria Pemimpin

Sebelum membandingkan kedua pasangan capres, kita perlu terlebih dahulu menentukan kriteria yang tepat. Presiden akan bertanggung jawab dalam hal-hal besar, rumit, dilematis, yang harus diputuskan dengan cepat dalam situasi penuh tekanan. Oleh karena itu, seorang presiden harus-lah seseorang yang arif dan bijaksana. Hmmm… kita semua pasti pernah mendengar istilah “Pemimpin yang Arif dan Bijaksana”. Arif dan Bijaksana  dalam bahasa inggris adalah Wise, dimana kata bendanya adalah Wisdom. Berikut definisi Wisdom di Wikipedia:

Wisdom is the ability to think and act using knowledge, experience, understanding, common sense, and insight.[1] Wisdom has been regarded as one of four cardinal virtues; and as a virtue, it is a habit or disposition to perform the action with the highest degree of adequacy under any given circumstance. This implies a possession of knowledge or the seeking thereof in order to apply it to the given circumstance. This involves an understanding of people, things, events, situations, and the willingness as well as the ability to apply perception, judgement, and action in keeping with the understanding of what is the optimal course of action. It often requires control of one’s emotional reactions (the “passions”) so that the universal principle of reason prevails to determine one’s action. In short, wisdom is a disposition to find the truth coupled with an optimum judgement as to what actions should be taken in order to deliver the correct outcome.

Memilih orang yang bijaksana tentu tidak bisa hanya berdasarkan janji kampanye semata. Untuk menentukan siapa yang dianggap bijaksana dan siapa yang tidak, pada akhirnya kita harus bertumpu pada rasa percaya (kepercayaan). Oleh karena itu, ijinkan saya mengacu pada konsep Kepercayaan (Trust) yang disajikan pada buku “Speed of Trust” (M.R. Covey) book. Dalam bukunya ditulis bahwa kepercayaan didasarkan pada karakter dan kompetensi seseorang. Untuk menilainya, kita bisa menggunakan 4 empat faktor, yaitu:

  • Integritas (Integrity)
  • Niat (Intent)
  • Kemampuan (Capabilities)
  • Hasil (Result). 

Integritas (Integrity) bukan hanya masalah kejujuran. Integritas seseorang ditentukan oleh: Congruency, yaitu pikiran dan ucapannya selalu sesuai (jujur), emosi dan ekspresinya selalu selaras (tidak berpura-pura). Humility, yaitu mau mengakui kesalahan dan bersedia mengkoreksi pendapatnya. Courage, yaitu mampu melakukan hal yang benar, meskipun itu sangat sulit dan beresiko.

Niat (Intent) yang ditentukan oleh: Motive, yaitu alasan atau tujuan kenapa seseorang berbuat sesuatu. Agenda, yaitu langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tersebut. Behaviour, adalah bagaimana motif dan agenda terwujud dalam bentuk tindakan yang tampak dan dapat dinilai oleh orang lain.

Kemampuan (Capabilities) yang ditentukan oleh 5 hal, yaitu:

  • Talents (Bakat): Hal-hal yang secara alamiah bisa dilakukan dengan baik
  • Attitude (Sikap): Bagaimana seseorang memandang sesuatu
  • Skills (Keahlian): Hal-hal yang sudah dipelajari dan mampu dilakukan dengan baik
  • Knowledge (Pengetahuan): Apa yang diketahui seseorang
  • Style (Gaya): Cara unik seseorang dalam melakukan sesuatu

Hasil (Result) yang ditentukan oleh apa yang terbukti mampu dihasilkan oleh seseorang di masa lalu (track-record), apa yang sedang dia lakukan saat ini, dan apa yang mungkin bisa dia capai di masa yang akan datang.


Dalam memilih presiden, kita membutuhkan seseorang yang memiliki integritas tinggi, niat (agenda) yang baik, kemampuan yang mumpuni, dan prestasi yang terbukti. Piufff… Kok banyak bener?… Yaaa kalau sedikit, abang-abang pengangguran juga bisa dong jadi presiden 😛

Dalam konteks pilpres, ijinkan saya menyusun kriteria presiden sebagai berikut:

equak=l

Memiliki Integritas Tinggi, yaitu memegang teguh setiap janjinya, selalu bersikap adil, tegas dalam penegakan hukum, konsisten membela yang benar, mampu mengakui kesalahan, dan berani mengambil tindakan yang benar meski menjadikannya tidak populer.

target

Memiliki Niat Baik, yang digambarkan secara jelas dalam bentuk visi-misi yang terukur agar dapat dipantau progress pencapaiannya, memaparkan rencana eksekusi yang masuk akal, dan menunjukkan bahwa selama ini dia berperilaku sesuai dengan visi-misinya tersebut.

tools

Memiliki Kapabilitas, yang mencakup wawasan kenegaraan yang luas, teknik komunikasi yang efektif, teknik membina hubungan internasional, sikap mengayomi, dan gaya pendekatan yang sesuai kultur masyarakat Indonesia.

trophy

Memiliki Prestasi dan Rekam Jejak Yang Baik, yaitu berprestasi di bidang yang relevan dengan tugasnya nanti sebagai presiden, tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang membuatnya tidak pantas menjadi pemimpin bangsa, dan pernah membuktikan dirinya peduli dengan negara serta rakyat Indonesia.

Membandingkan Pilihan

Sebelum mulai membandinglan, ingatlah bahwa kunci dari suatu penilaian yang baik adalah objektifitas (tidak berpihak) dan validitas (mengacu pada informasi yang lengkap dan akurat).

checkmarkSebagai individu, setiap orang punya kepentingan yang bisa mengaburkan objektifitas. Jika kita ingin menjadi lebih objektif, berusahalah untuk mengabaikan dulu kepentingan kita selama melakukan penilaian. Akui keburukan jagoan, akui juga kebaikan lawan. Kita sedang ingin mendapatkan kebenaran, bukan sekedar mencari pembenaran bukan?
justiceInformasi yang kita ketahui berasal dari sumber tertentu. Kita tahu bahwa media membela yang bayar, bukan membela yang benar. Cari informasi dari kedua belah pihak. Percaya pada apa yang dapat kita percayai, jangan sekedar percaya pada apa yang ingin kita percayai. Validasi benar/tidaknya kebaikan jagoan, seperti halnya validasi benar/tidaknya keburukan lawan.

Dibawah ini adalah tabel yang berisi infomasi yang beredar tentang kedua capres sesuai nomor urutnya.

Mohon jangan langsung naik darah ketika membaca poin-poin dibawah ini 🙂 Ingat, tidak semua poin dapat dipercaya. Sebagian poin yang muncul di sini bisa jadi settingan, pencitraan, atau bahkan fitnah. Tugas kita adalah mencari informasi, lalu memutuskan mana yang valid dan mencoret yang tidak valid. Silahkan menambahkan item yang baru jika memang belum ada.

Mohon diingat bahwa poin-poin dibawah ini adalah contoh isi perbandingan. Tulisan ini tidak bermaksud menggiring opini pembaca untuk mendukung salah satu capres.

INTEGRITY

prabowo-hattaPrabowo adalah pribadi yang terbuka dan selalu bersedia dikonfirmasi atas hal-hal seputar dirinya. Selama menjadi anggota militer, Prabowo membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berani dan bertanggung jawab.

Prabowo tersangkut kasus pelanggaran HAM (penculikan aktifis) dan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Meskipun Prabowo sudah sering menjelaskan mengenai hal ini, tetapi simpang-siurnya informasi menyebabkan beberapa pihak meragukan kebenaran ucapan dan pikiran beliau (congruency). 

Koalisi pendukung Prabowo banyak diisi orang-orang lama yang selama ini tersangkut kasus, misalnya ARB (Golkar) yang tersangkut kasus Lumpur Lapindo, dan Suryadharma Ali (PPP) yang dijadikan tersangka oleh KPK. Hal ini bisa menyulitkan pemerintah baru untuk memiliki keberanian (courage) dalam membuat terobosan kebijakan, karena dihambat oleh “dosa” orang-orang lama tersebut.


jokowi-jkJokowi relatif bersih dari korupsi dan sebagai orang baru, Jokowi bukan merupakan bagian dari rezim lama sehingga tidak tersandera oleh dosa politik masa lalu.

Jokowi sering melanggar janji publik yang dibuatnya, dari mulai janji besar seperti menunaikan tugas sebagai Gubernur DKI selama 5 tahun, sampai janji kecil seperti tidak memakai pesawat sewaan dan voorijder. Kebiasaan menebar janji dan cuek saat tidak menepati, membuat kejujurannya (congruency) dipertanyakan. Jokowi sering beralasan bahwa tindakannya hanya mengikuti keinginan partai, sehingga independensi dan keberanian (courage) dalam mengutamakan kepentingan bangsa diatas golongan jadi diragukan.

Koalisi pendukung Jokowi terbukti beberapa kali berbohong, misalnya Nasdem yang semula berjanji tidak akan menjadi partai politik, PDI-P yang melanggar kesepakatan batu tulis, dan tuduhan Pak Mahfud M.D. bahwa  Cak Imin (PKB) membohonginya saat pencalonan cawapres.

INTENT (NIAT)

prabowo-hattaPrabowo menyusun visi-misi book yang dilengkapi dengan angka target pencapaian. Hal ini memungkinkan publik memantau progress tingkat pencapaian selama pemerintahan berlangsung, serta menilai hasil akhir kinerja pemerintah dengan cara membandingkan janji vs. realisasi. Ini menunjukkan bahwa rencana kerja (agenda) Prabowo dibuat dengan matang, terkomunikasikan dengan baik, dan menegaskan keberaniannya untuk memenuhi janji.

Prabowo dituduh pernah berusaha melakukan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Hal ini membuat sebagian orang khawatir bahwa Prabowo bisa memiliki motivasi dan agenda tersembunyi. Sebagian kalangan minoritas (WNI keturunan, non-muslim, aliran muslim non-sunni) mengkhawatirkan Prabowo memiliki motive untuk menggunakan kekuasaannya secara represif terhadap mereka.


jokowi-jkJokowi menyusun visi-misi book yang menjawab problem mendasar yang selama ini tidak diprioritaskan, yaitu pembangunan karakter bangsa dan toleransi. Sikap Jokowi yang sederhana dan merakyat menunjukkan keteladanan terhadap perilaku (behaviour) yang disajikan dalam visi-misinya tersebut.

Meskipun ditulis secara lengkap, poin-poin visi-misi Jokowi tidak banyak dilengkapi dengan target pencapaian. Poin-poin rencana kerja yang bersifat normatif ini membuat publik tidak bisa mengukur apakah janjinya (agenda) tercapai atau tidak. Sebagian kalangan muslim mengkhawatirkan partai pengusung Jokowi, yaitu PDI-P memiliki motive untuk menghambat potensi umat muslim di negeri yang mayoritas muslim ini atas dasar persaingan pengaruh dalam politik.

CAPABILITY (KEMAMPUAN)

prabowo-hattaPrabowo terdidik untuk memimpin dengan cara militer. Prabowo memiliki sikap (attitude) tegas dan berani, keahlian (skill) dalam strategi dan berkomunikasi yang efektif, pengetahuan dan wawasan internasional, serta gaya (style) memimpin yang disegani. Secara keseluruhan, Prabowo memiliki kemampuan yang lengkap sebagai seorang pemimpin.


jokowi-jkJokowi adalah pemimpin yang berasal dari sipil dengan latar belakang pebisnis dan pejabat daerah. Jokowi memiliki sikap (attitude)akomodatif terhadap berbagai golongan, keahlian (skill) persuasi tanpa represi. Keahliannya ini menciptakan kelebihan tersendiri karena membedakannya dari kebanyakan pemimpin yang seringkali mengambil pendekatan represif dalam menjalankan kebijakan. Pengetahuannya akan banyak terbantu dengan hadirnya para intelektual muda, serta gayanya (style) yang sederhana membuat Jokowi tidak berjarak dengan rakyat.

Sebagian orang menganggap Jokowi belum memiliki kemampuan sebagai pemimpin tingkat nasional. Kapabilitasnya seputar hubungan internasional, pertahanan-keamanan, dan perekonomian negara masih belum terbukti.

RESULT (HASIL)

prabowo-hattaPrabowo selama karirnya sebagai Jenderal berhasil melakukan beberapa misi militer seperti pembebasan sandera oleh OPM dan penangkapan pemimpin gerilyawan Timtim. Setelah menjadi warga sipil, Prabowo banyak melakukan mediasi internasional untuk kasus kemanusiaan seperti pembebasan Wilfrida dari hukuman mati. Prabowo juga aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan seperti HKTI dan perkumpulan olah raga silat. Dalam masa kepemimpinannya, timnas pencak silat tidak pernah kalah di turnamen internasional.

Prabowo dituduh melakukan pelanggaran HAM selama dia menjabat Danjen Kopasus dengan melakukan penculikan aktifis. Prabowo juga dituduh berencana melakukan kudeta terhadap B.J. Habibie. Apabila track-record tersebut benar, maka Prabowo merupakan sosok yang sangat berbahaya karena bisa mengembalikan Indonesia ke jaman diktator ala Soeharto. 


jokowi-jkJokowi menuai sukses ketika menjadi walikota Solo. Cerita suksesnya termasuk pemindahan PKL tanpa kekerasan dan meraih penghargaan nasional di bidang pariwisata. Di Jakarta, yang masalah utamanya adalah banjir dan macet, Jokowi sudah memulai beberapa inisiatif kegiatan, tetapi belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sejauh ini, rekam jejak Jokowi dapat dikatakan bersih dari perbuatan tercela. Hal ini membuat banyak orang merasa aman memilih beliau.

Isi dari tabel di atas bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Itu sah-sah saja, karena tabel diatas terisi berdasarkan informasi yang kita ketahui dan percayai. In fact, seiring dengan waktu, bertambahnya informasi, dan terungkapnya berita, orang-orang yang berpikiran terbuka bisa saja mengubah isian tabel tersebut, lalu mengubah haluan dan dukungannya.


Menentukan Pilihan

Bagi anda yang cenderung berpikir dengan perasaan/intuisi, isilah tabel perbandingan diatas secukupnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Timbang-timbanglah dengan intuisi anda, mana diantara keduanya yang lebih layak.

Bagi anda yang cenderung berpikir analitik/logis, isilah tabel perbandingan diatas selengkap-lengkapnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Beri Nilai % pada keempat faktor tersebut diatas. Jumlahkan semua nilai itu untuk mendapatkan kandidat yang lebih layak.

Prabowo Jokowi
Integrity ….% ….%
Intent ….% ….%
Capabilities ….% ….%
Results ….% ….%
TOTAL ….% ….%

Voilaaa… You Got The Winner 🙂


Tapi Kan….

Tapi kan… Prabowo direstui partai-partai Islam yang bersedia mengakomodasi kepentingan kaum muslim. Kalau kubu lawan didukung PDIP yang katanya selalu menolak UU berbau syariah.

Tapi kan… Jokowi lebih mengedepankan toleransi dan pluralitas karena selain didukung PKB dan ormas islam, juga didukung PDIP dan yang lebih bersedia mengakomodasi kepentingan kelompok non-muslim dan nasionalis. Kalau kubu lawan katanya didukung FPI yang biang rusuh itu.

Hmmm… kalau pikiran itu masih ada, rasanya sulit untuk berpikir objektif. Kalau pikiran-pikiran itu masih ada, apapun alasannya, pasti kita akan memilih satu capres tertentu tanpa melihat faktor lainnya lagi.

Ok, kalau masih penasaran, setelah melakukan perbandingan secara objektif, silahkan pikirkan kembali kepentingan kita dan ulang kembali perbandingan diatas. Lihat dan buktikan betapa kepentingan kita akan sangat mempengaruhi objektifitas penilaian. Sekarang terserah saja… Apakah mau memilih berdasarkan penilaian objektif, atau mau kembali memilih berdasarkan sentimen. Itu hak setiap individu. Setidaknya, kita tahu apa yang terjadi dengan proses pengambilan keputusan kita tersebut 🙂

Well… Setiap pilihan harus dihargai, apapun alasannya. Pemilih terafiliasi ataupun bebas sama-sama berhak menentukan cara dan hasilnya sendiri. Kita semua sedang berproses dan belajar menjadi pemilih dan negara yang lebih baik. Salam damai untuk seluruh bangsa Indonesia 🙂

Hiduplah Indonesia Rayaaaaaa…. indonesia-flag-icon

Advertisements

191 thoughts on “Jokowi atau Prabowo? Saya pilih….

  1. Sebagai swing voters juga yg dari awal tidak memihak…
    Sebenarnya cukup bagus…
    Nampak netral di awal…
    Tapi di akhir2 menggiring juga ke salah satu calon…hehehe…

    Like

  2. Tulisan yg bagus dan inspiratif mas daus, saya yg secara ga langsung sdng mempertimbangkan akan memilih capres mana jadi terbantu utk menggunakan tools yg mas ulas diatas. Mas daus terbukti sudah berusaha se objektif mungkin, dengan adanya koreksi dari kritik yang diberikan oleh pembacanya. Saya hanya ingin menambahkan, mungkin tulisan ini akan lebih lengkap ketika qta ngga hanya menilai dari sisi capres saja, tp juga qta scan-ing sebenarnya presiden yangg bagaimana yg dibutuhkan oleh indonesia dengan kondisi saat ini, semacam analisis lingkungan eksternal dan internal kondisi negara (misalnya dng SWOT analysis). Lalu qta analisis pula kedua capres dengan tools yg diberikan mas daus tadi dengan ditambahkan proporsi/bobot per kriterianya. Sehingga diakhir kita punya hasil dua analisis yaitu kebutuhan negara dan kriteria capres yg tersedia. Berkat tulisan mas, saya jadi inget bahwa qta bisa pake tools2 analisis utk mengasilkan informasi yg lebih objektif dan minim bias sehingga menghasilkan keputusan yg lebih baik. Tugas yg berat sekarang adalah mencari informasi yg valid utk mengisi kolom2 analisis kita. Salam pemilih cerdas, hiduplah Indonesia Raya.

    Like

  3. Tulisannya oke banget pak Mamad 🙂
    Sayangnya banyak yg pikirannya cm diisi hawa negatif jd menganggap tulisan ini memihak.. Mnurut sy, sah aja kalo penulis memihak, krn penulis jg pasti ada pilihan sndr.. Seandainya pikiran kita lbh terbuka, penulis disini hanya ingin membantu kita yg masih galau dlm menentukan pilihan, jd tulisan ini bs mjd alat utk bahan pertimbangan kita dlm memilih presiden.. Kita isi dgn info2 yg kita dapat maupun pengalaman pribadi kita thdp masing2 capres.. Klo tdk setuju dengan hasil analisa penulis ya tinggal di “edit” dgn info dan analisa kita sndr.. Simple kan?

    Salam 🙂

    Like

  4. ini tulisan udah bagus sayang memihak ke Prabowo – Hatta.

    Sebagai orang awam menurut saya Prabowo – Hatta lah yang paling banyak menebar janji.

    salah satunya saja ya ;

    1. http://www.kaskus.co.id/thread/538f37376807e7f16e8b45e9/sekilas-dulu-salah-satu-visi-misi-prabowo-saat-jd-ketua-hkti-2004/
    Janji ketika ketua HKTI ;
    PROGRAM 1 HEKTAR PER PETANI — > ternyata bullshit

    2. Janji kasih 50 T ke koperasi
    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/05/1437152/Prabowo.Janjikan.Rp.50.Triliun.untuk.Koperasi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

    –> hadeh janji ya janji tp jangan gini jugalah kok bisa pas 50 T dia Analisa apa kayak gw nimbang2 doang .. oke deh kasih 50 T mantap

    3. Janji pendapatan rakyat 5 juta per bulan
    http://detakberita.com/janji-hatta-pendapatan-warga-rp-5-juta-per-bulan/

    Itu ya semuanya janjinya gk rasional bangat … dia seperti liat presiden bagi2 duit saja ….

    terlepas dari masalah HAM beliau, gw kurang srek karna dia itu menurut gw memberikan janji ya menurut saya gk mungkin ditepati. Bandingkan dengan janji jokowi , gk muluk2 tapi itu memungkinkan ditepati.

    aawalnya mau pilih prabowo, tapi liat janji ama wakilnya ,,,, ya saat ini gw harus pilih jokowi karna saat ini masih dialah yang terbaik dinatara 2 pasangan. Belum Lagi liat koalisinya 😦 Lapindo, korupsi kementriaan agama, anak tabrak lari gk disidang , ahhh sudahlah

    Like

    1. Samaaa! Pemilu kemaren vote for Prabowo, tapi langsung mundur teratur liat koalisinya. Udah sebel duluan ama cawapres yg anak tabrak lari ngakalin sidang dan ahli ekonomi ex Lapindo. Iya sih Prabowo berusaha mengakomodir berbagai golongan tapi gerbongnya kebanyakan kepentingan. Jokowi.. hmm kalo gak diback-up JK bakal amatir banget

      Like

    2. cerdass…klo smua rakyat indonesia,berpikir sprt anda,jkw-jk,menang mutlak.

      Like

  5. aku rasa tulisannya bagus mas..
    tapi ada sedikit keanehan dengan kata “tuduhan” yang sering disebut dalam penilaian anda terhadap prabowo, tetapi langsung mencap negatif kepada Jokowi tanpa kata “teuguhan”. apabila anda menambahkan kata “tuduhan” di setiap penilaian semua capres mungkin anda bisa dikatakan obyektif. Saya rasa ini salah satu cara untuk menggiring opini publik yang dilakukan oleh anda untuk pilih salah satu capres. Semoga saya tidak benar.
    semoga dapat diterima kritikan saya.

    Like

    1. Terima kasih kritiknya. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak berniat menggiring opini publik. Jikalau ada kesalahan, saya mohon maaf, tolong ditunjukkan letak kesalahannya, dan saya akan segera saya koreksi.

      Saya sependapat bahwa beberapa redaksional kata “tuduhan” perlu diperbaiki. Saya sudah mengubah beberapa kalimat terkait “tuduhan” tersebut, yaitu tentang tuduhan Mahfud M.D. bahwa PKB membohonginya saat pencalonan cawapres. Ini karena sampai sekarang Cak Imin belum melakukan konfirmasi tentang hal tersebut. Kata “tuduhan” saya gunakan untuk sesuatu yang belum jelas kebenarannya atau belum diklarifikasi oleh pihak lawan.

      Meskipun hanya CONTOH, saya paham ini bisa membuat pembaca salah tafsir atas maksud saya. Jadi, terima kasih atas masukannya.

      Like

      1. terima kasih atas tulisannya. ini tulisan yg saya anggap cukup objective. anda tdk menggirng ke siapapun. tergantung yg baca aja. bagaimana pun tdk semua pembaca tentu saja menilai ini objective terutama yg fanatisme terhadap salah satu calon sgt tinggi. quotation dr teman FB saya: “banyak org yg mengenal pribadi capres idolanya melebihi mereka mengenal orang tua mereka”. mrk yg fanatisme nya thd salah satu calon, kdg tdk mau menerima kenyataan bahwa calon pilihan mrk hanya manusia biasa. setengah dewa pun tdk. semua kesalahan mrk dimaklumkan. misal, seperti komen akhir anda: “capres Bosabusu emang sih begini, tp khan…” well, kl gini trs, ya sama aja bo’ong objective nya. sementara pada capres lawan Kolangkaling, kesalahannya dibesar2kan, disebar2 khan. pdhl blm tentu tahunya dr sumber yg benar. bkn dr media yg adil pula (maksudnya bkn media milik salah satu peserta tim sukses capres). penggemar fanatik Bosabusu senang begitu membaca sisi positif Bosabusu anda ungkapkan. begitu sampai ke negative nya, walaupun btl, fakta, eh, nggak terima. bilang nya: “fitnah, nggak benar”, atau “tapi khan…”, atau “silahkan baca link ini, itu,….” atau “tp si Kolangkaling jg begitu, coba cek bla bla bla….”. he he…cliche… mbok terima aja. mrk manusia biasa kok. dan tiap orang blh dong berpendapat…anyway, sukses ya Mas Firdaus. semoga ada lg tulisan yg bermanfaat kyk gini yg menggunakan teory analisa. bkn sekedar pake feeling…good luck

        Like

  6. Itu contoh saja. Lah kalau tidak diberi contohpun, apa iya bisa menahan pertanyaan konyol yang meminta contoh (yang ujung-ujungnya harus ngisi contoh juga)? Ga suka? Tinggal ganti saja contohnya. Bukannya terima kasih diberi alat bantu. Lagian ini juga sudah ditekankan untuk SWING VOTERS bukan yang sudah fix menetapkan pilihan (apapun alsaannya).

    Lagian, calon pemimpin kok dihujat? Lah kalau yang kalian hujat menang, apa ga malu, cuma bisa nurut aja diperintah?

    Dua-duanya sama bagus (terbukti bisa sampai di stage capres), sama-sama putra terbaik bangsa. Hargai dong.

    Like

  7. Semoga semua analisis dan pendapat ‘objektif’ dalam opini yang sistimatis ini benar 🙂 Sepertinya kalau sampai penulis, yg saya percaya punya kemampuan analitis di atas rata-rata saja mendukung Prabowo, kans beliau menjadi presiden sangat kuat.

    Semoga, semua urusan HAM Prabowo memang hanya ‘tuduhan’ seperti yang sudah dipaparkan di sini. Semoga, penjelasan subordinasi dari DKP yang beredar belakangan ini hanya isu, sehingga tidak perlu dipertimbangkan dalam mengukur integritas beliau.

    Semoga kekhawatiran aktivis HAM, tidak beralasan, semoga ‘penangkapan’ para aktivis di awal 98 itu, memang sesuai paparan Fadli Zon dan Kivlan Zein bisa kita terima sebagai tindakan penangkalan terorisme, tidak bisa dibilang sebagai penculikan apalagi kejahatan kemanusiaan.

    Semoga semua track record beliau di Timor-timor adalah tindakan kepahlawanan, tanpa ada sedikitpun keraguan akan lagi-lagi ‘tuduhan’ kemungkinan pelanggaran kemanusiaan.

    Memang kalau membaca soedoetpandang.wordpress.com atau faktasebenarnya.com, dan mendengar kedua juru bicara Prabowo di atas + Bondan Winarno, seolah-olah semua hal negatif tentang Prabowo ini hanya tuduhan yang bisa diabaikan.

    Melihat makin banyaknya teman yang bisa berpikir kritis yakin dengan pendapatnya bahwa hal-hal yang saya singgung diatas bisa diabaikan dalam menilai integritas beliau, ya saya hanya bisa mendoakan semoga keyakinan anda semua benar 🙂

    Karena kalau ‘tuduhan’ ini ternyata tidak hanya ‘tuduhan’, resikonya, sudah sampean sampaikan sendiri di atas:

    “Apabila hal tersebut benar, maka Prabowo merupakan sosok yang sangat berbahaya karena bisa mengembalikan Indonesia ke jaman diktator ala Soeharto”

    Prediksi suram ini baru terbukti kalau setelah 2024 Prabowo masih jadi presiden setelah membatalkan amandemen UU’45 🙂 Toh masih lama.

    Kalau ini sampai terjadi nanti saya akan bilang ke anak saya, nak waktu pemilu 2014 dulu kami tidak ingin kamu kehilangan kesempatan merasakan serunya turun ke jalan seperti yg kami alami tahun 98, atau oleh kakek nenekmu tahun 65. Sehingga kami pilih pemimpin yang ‘dituduh’ paling berpotensi untuk memberimu kesempatan turun ke jalan 🙂

    Like

    1. Wah senangnya Om Bison ikutan comment 🙂

      Hasil penilaian pada akhirnya kembali pada para pembaca. Keyakinan pembaca sangat dipengaruhi oleh kelengkapan dan akurasi informasi yang dimilikinya. Saya percaya para pembaca cerdas dalam mencari dan menelaahnya dari sumber-sumber lain diluar tulisan ini. Kalau pendapat pribadi, kita bisa ngobrol di sambil ngopi ya om 🙂

      Like

  8. Terima kasih, tulisannya bagus. Tambahan nilai poin untuk Prabowo adalah seorang sahabat dari Yordania, Raja Abdullah II (yang belajar sufistik) terbang ribuan kilo untuk menemui Prabowo ketika dirundung masalah tahun 1998. Menerima Prabowo dengan tangan terbuka.

    Menurut saya — Prabowo adalah teman yang bisa dipercaya.

    Like

  9. Pedukung jokowow sewot amat yak sama analisanya TS. Udah diperjelas ini kan buat swing voter bukan buat fans fanatik jokowow.

    Like

    1. sapa yang sewot bro? hihi

      Like

    2. Ester panjaitan June 11, 2014 — 11:12 am

      Bro.. Sy projoko, tapi ga sewot ma panas kok.. Sy rasa mas achmad bukain pemikirin swing voters, objektif sekali.. Thanks waktu luangnya ya mas achmad

      Like

  10. Tulisan Bung Daus ini sedikitnya condong ke Prabowo.

    Penulis mengidamkan bangsa ini dipimpin di tangan militer yang tegas. Penulis sepertinya memiliki harapan besar pada bangsa ini yang akan maju dan disegani oleh bangsa bangsa lain dengan kepemimpinan sang danjen kopassus yang memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Berharap bangsa ini akan disegani negara-negara barat layaknya seperti Russia ataupun negara manapun yang memiliki alutsista yang canggih karya anak bangsa nya sendiri. Betapa indahnya kalau itu dapat terealisasi. Indonesia menjadi negara yang berdaulat dengan rakyat yang kuat dan sejahtera dari Sabang sampai Merauke.. Tata kota akan tertata rapih dengan tingkat kedisplinan masyarakat yang tinggi.. Goresan-goresan mimpi itu terlihat di tulisan blog ini walau sedikit implisit yang condong mengajak pembaca untuk memilih Prabowo. Saya sebagai pembaca juga memiliki harapan yang besar seperti itu. Kita sebagai rakyat Indonesia pasti memiliki satu tujuan yang sama.

    Semoga rakyat Indonesia bisa lebih melihat ke arah substansi walau pilihan itu kembali lagi ke masing-masing pribadi. Ikutilah kata hati nurani mu! Mari kita sukseskan pemilu 2014 🙂

    Like

  11. untuk semua yang komentar di atas saya mohon maaf.. tapi saya membela admin
    karena kalo kita mau objektif,. kita harus menilai plus dan minus dari masing”capres..
    untuk yang sakit hati jagoan capresnya ada yang merasa terfitnah yaaa mohon maafkan admin.. admin kan hanya menjabarkan yang ada saja.. jadi kalian yang masih panas dan berusaha membela jagoan kalian yaa saya rasa wajar.. tapi kalo kita masih menutup mata dengan kekurangan jagoan kita yaa namanya belum objektif.. yaa kalo maunya hanya membela jagoan kalian yaa silahkan saja.. karena admin saya rasa sudah senetral mungkin..
    tapi saya mohon jangan salahkan admin.. yang merasa kesal silahkan jangan dibaca.. admin kan hanya mau membantu kita semua yang kebingungan dalam memilih
    sekali lagi saya ucapkan mohon maaf dan terima kasih admin
    “salam kampanye damai dan netral”

    Like

  12. Apapun kata anda.. ..anda sdh menggiring opini… ..No 1….lebih bisa dipercaya

    Like

    1. Nah, terima kasih sekali Mas Taofik. Kebetulan pas dengan pendapat salah satu kawan di facebook. Katanya poin “Integritas” terlalu menyudutkan Jokowi. Kurang lebih senada dengan pendapat mas Taofik bahwa saya menggiring opini pembaca agar berpikir No. 1 (Prabowo) lebih bisa dipercaya.

      Sekali lagi, isi perbandingan tersebut hanya CONTOH. Tapi saya sadar ini bisa mempengaruhi persepsi pembaca.

      IMHO, Jokowi sangat diuntungkan dengan kalimat “Bersih dan Orang Baru yang Tidak Tersandera Dosa Politik Masa Lalu”. Lalu apakah kalimat “Jokowi sering melanggar janji publik yang dibuatnya” dan “Jokowi sering beralasan bahwa tindakannya hanya mengikuti keinginan partai” tidak akurat?

      Kalau memang tidak tepat, bisa bantu saya menuliskan yang tepat seperti apa?

      Oya, saya benar-benar bertanya dan mendengarkan. Jika argumentasinya tepat, saya pasti akan mengkoreksi seperti beberapa masukan sebelumnya. Terima kasih sebelumnya.

      Like

    2. dipercaya seperti orba? atau ala soeharto. move on bro.

      Like

  13. Setelah liat judul2 ( tanpa liat isi yang pasti ngeri akhir2 ini ) dari artikel2 yang berkeliaran di ranah digital, liat judul postingan ini dan baca isinya cukup adem. Adem karena capek ya boo.. baca makian makian tiap hari. Kayak dengerin ibu2 nyinyir yang dengki banget sama seseorang.
    Saya condong ke salah satu pasangan, tapi masih berusaha memantapkan hati.
    Dan baca artikel ini, yaa.. keliatan mas juga agak condong ke salah satu pasangan. Tapi ya gak papa. Inti dari tulisan ini kan mengingatkan kita untuk buka mata hati telinga dan bener2 MIKIR buat milih calon presiden dan wakilnya. Akan memakai metode yang sama, tapi isinya ya.. berdasarkan referensi yang didenger dan dibaca dan diketahui sendiri. Iya gak?

    Yang orang orang lupa, ada dua calon, salah satu pasti menang, dan yang lainnya kalah. Yang jadi pe er buat saya ( kita semua nanti ) adalah, setelah pemilihan umum dilakukan dan ada pemenangnya, apa yang akan kita perbuat?

    Jagoannya menang? Mari berharap apa yang kita yakini terhadap beliau terpenuhi. Saya yakin kita memilih karena punya harapan atas sesuatu dan calon yang dipilih adalah yang paling mendekati atau sukur alhamdulillaah kalo sesuai banget misi misinya sama keinginan kita.

    Kalo jagoannya kalah? mari berharap, semua tuduhan kurang baik terhadap calon presiden yang bukan pilihan kita tidak terbukti. Visi misi tak sesuai? bantu awasi, dan sampaikan pendapat dengan baik.

    Prabowo menang, semoga bisa dibuktikan dia ga bersalah di kasus HAM, terus akhirnya terungkap dalang penembakan dan penculikan itu siapa.

    Jokowi menang, semoga bisa dibuktikan bahwa dia bukan digerakkan oleh kepentingan partai.

    Satu lagi yang penting menurut saya, adalah orang orang yang berada disekitar mereka, akankah membantu dan bertujuan untuk menyejahterakan bangsa? Pasangan yang baik, tapi kalau support systemnya buruk, juga ga mudah.

    Mariii berharap.. bahwa tujuan beliau2 itu mencalonkan diri sebagai presiden itu buat Indonesia yang lebih baik.

    Ya gak?

    🙂

    Like

  14. i am a swing voter dan saya coba praktekkan kolom di atas. Suwun mas… 🙂

    Like

  15. Nice post, di tengah lautan fanatisme. 🙂

    Saya sedikit merasakan ada sedikit kecondongan untuk sosok Pak Prab memiliki keunggulan kompetensi untuk hal-hal kenegaraan. Tetapi untuk kedekatan dengan masyarakat, saya kira persepsi yang terbangun (sebab belum pernah sekalipun merasakannya sendiri) untuk hal ini adalah lebih baik Pak Joko (berdasar apa yang terlihat di berbagai media).

    Saya kira, kalaupun ada sedikit terlintas bahwa sebenernya artikel ini termasuk penggiringan opini kepada salah satu capres (sebut saja Pak Prabowo), sebab ada persepsi yang melandasi bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu, di benak mas Ahmad (hanya menebak sih).
    Maksud saya, apa yang kita tulis dan apa yang kita utarakan tidak bisa tidak lepas dari “world-view” kita sebelumnya. Jika dalam diskusi ini, maka “world-view” yang terbangun dalam diri kita sebelumnya adalah bagaimana sosok presiden/pemimpin itu.

    Kalau kita merasa lebih setuju dengan sosok yang “terlihat rendah hati”, “membantu wong cilik”, “tidak muluk-muluk”, dll, maka saya pun melihat Pak Jokowi terlihat demikian adanya. Kalau kita melandasi pemikiran bahwa pemimpin yang “terlihat tegas”, “mempunyai kompetensi/pengalaman kenegaraan/antar negara”, maka saya condong ke Pak Prabowo lebih terlihat.

    Atas dasar itulah, beberapa waktu yang lalu saya berpikir, ini kalo pak Prabowo dan Pak Jokowi kerja bareng aja gimana, hehehe. Gak usah ada wakil-wakilan deh, kalo urusan internal kenegaraan, itu Pak Jokowi. Kalo urusan negara yang lebih luas sampai eksternal, itu Pak Prabowo. #ngawur :p

    Yang jelas, “keep calm” dan setelah berusaha melakukan pembandingan, jangan lupa minta petunjuk sama Yang Maha Kuasa, baru setelah itu mantap untuk memilih di hari H, dan hasilnya kita serahkan lagi kepada-Nya. Demikian 🙂

    Like

    1. Very good point Mas. Pengamatan yang sangat tepat.

      Memang setiap orang punya standard pemimpin idealnya sendiri-sendiri. Di bagian awal saya sudah “minta ijin” untuk menetapkan hal tersebut, yaitu:

      Memiliki Integritas Tinggi, yaitu memegang teguh setiap janjinya, selalu bersikap adil, tegas dalam penegakan hukum, konsisten membela yang benar, mampu mengakui kesalahan, dan berani mengambil tindakan yang benar meski menjadikannya tidak populer. Memiliki Niat Baik, yang digambarkan secara jelas dalam bentuk visi-misi yang terukur agar dapat dipantau progress pencapaiannya, memaparkan rencana eksekusi yang masuk akal, dan menunjukkan bahwa selama ini dia berperilaku sesuai dengan visi-misinya tersebut. Memiliki Kapabilitas, yang mencakup wawasan kenegaraan yang luas, teknik komunikasi yang efektif, teknik membina hubungan internasional, sikap mengayomi, dan gaya pendekatan yang sesuai kultur masyarakat Indonesia. Memiliki Prestasi dan Rekam Jejak Yang Baik, yaitu berprestasi di bidang yang relevan dengan tugasnya nanti sebagai presiden, tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang membuatnya tidak pantas menjadi pemimpin bangsa, dan pernah membuktikan dirinya peduli dengan negara serta rakyat Indonesia.

      Saya kira ada sebagian kualitas tersebut yang dimiliki Jokowi, sebagian lagi dimiliki Prabowo. Buat saya, keduanya adalah orang hebat. Jangan dikira saya mudah apalagi sudah menentukan pilihan. They both EXCELLENT. Tapi sekali lagi, bagi saya benar is benar, salah is salah. Jadi kalau meletakkan poin, harus fair. Jangan karena jagoan kita, maka keburukannya tampak tiada. Jangan juga karena kebaikan lawan, kebaikan jadi sirna.

      Salam damai

      Like

  16. Tulisanmu keren banget mas, penyampainnya keren, kalau pada final kesimpulannya kok agak sedikit ke om Bowo, saya kok ngelihatnya bukan kesengajaan dari mas Ahmad ya, hehehe

    Like

    1. Iya, saya juga nangkep kesannya begitu. Malah sebenernya nyaris nggak kerasa kalau Mas Firdaus condong ke salah satu kandidat (baru nyadar setelah baca-baca komen dari fans berat kandidat satunya lagi).

      Like

  17. Tadinya saya cukup netral…. sampai tiba2 kelompok yg jelas korup dan sekelompok fanatik agama garis keras mulai mojok ke satu pihak… dan pilhan saya pun jatuh ke pihak lainnya~

    Like

  18. saya masih pusing terhadap mrk berdua… knp gk jd satu tim ya pd hal bgs…

    Like

  19. Ini baru bisa dibilang tulisan..
    Indonesia membutuhkan pengakuan dri luar..
    Saya sih lebih yg no.2 terlepas walaupun yg no. 1 ttep bagus.. jokowi sejauh ini tidak menepati janji kata penulis..
    Seperti tidk menggunakan voorider.. mungkn pernah denger waktu di wawancara voorider jokowi bahwa dia dilema antara mengikuti perintah jokowi ato melaksanakan tugas.
    Tidak menggunakan pesawat sewaan ini ketika dia memimpin jkrta apa ketika jam dinas gub apa diluar jam tugas dia sbg gub mohon diperjelas..
    Untuk pak prabowo jelas hanya ada 2 hal beliau tmpt diserang tragedi 1998 sama posisi beliau skrg sbg duda..
    Saya condong ke no.2 karna dripada berpikir ttg hub ke luar lebih baik perbaiki dulu isi dalam negri toh jika hasil didalam baik negara2 lain pd akhirnya akan menghormati kita..
    Ini menurut saya.
    Terlepas apapun itu sy pikir media di indonesia hampir semua sekarang rata2 bukan dibayar oleh salah satu tim capres tapi gmana cara naikin traffic pengunjung situsnya. Jadi mo bikin berita sprti apapun suka2 dia..
    Kalo emang bener berita itu fakta ato dugaan liat dipojok bawahnya biasanya berita yg bener selalu ada inisial penulis berita tsb.
    Sehingga berita itu bisa dipertanggung jawabkan.
    Thanks.

    Like

  20. inspiratif sekali thanks ats tulisan ini

    Like

  21. Menurut saya siapapun presiden yng akan jadi nanti tidak akan bisa sukses tanpa masyarakat yang mendukung segala Visi dan misinya, Masayarakat tidak akan kenyang dan menjadi kaya hanya dengan rasa nasionalisme seperti jika Pak prabowo Menang, Begitu juga sebaliknya Rakyat juga tidak akan kenyang dan menjadi kaya hanya karena pernah diblusukan-i oleh presiden apabila nanti pak jokowi menang.
    sebagai masyarakat kita harus lebih objektif karena presiden dan wakil presiden adalah regulator tertinggi di Bangsa ini, yang harus mereka lakukan adalah membuat keputusan-keputusan dan peraturan-peraturan makro. kenapa makro??? karena kalau presiden lebih suka berfikir dan bertidak sangat teknis, menurut saya orang tersebut masih ada pada level bupati bahkan kepala desa.
    satu minggu yang lalu saya adalah swing vooters, akan tetapi saya mencari referensi yang cendererung netral seperti ini, alhamdulillah saat ini saya sudah memiliki pilihan, akan tetapi menurut saya penulis sudah berusaha sangat objektif. anda akan merasa objektif apabila anda membaca dengan membuka hati lebar-lebar untuk menerima kekurangan.

    siapapun yang akan menjadi presiden nanti, Kita lah yang tetap akan menentukan nasib kita sendiri, apabila kita bekerja cerdas dan keras, maka kita lah yang akan sukses. meskipun presiden pilihan kita menang tapi kita tidak bekerja, kita juga tidak makan. jadi selain merakyat pemimpin itu ya harus bisa memimpin, tanda bahwa dia mampu memimpin adalah dia mampu menyuruh, menggerakan orang lain dalam level kepemimpinannya. maka apabila kita memilih pemimpin jika suatu saat nanti apabila pemimpin(presiden) kita membuat keputusan/ aturan maka kita harus mau taat terhadapnya. oleh karena itu saat inilah kita menentukan sebenarnya siapa sih yang lebih cocok kita turuti perkataan dan aturan-aturannya nanti. apakah jokowi yang seperti ini, atau prabowo yang seperti itu? itu sepenuhnya hak anda.

    jadi positiflah selalu kepada calon-calon pemimpin kita, bukalah hati kita untuk menerima kekurangan-kekurangan mereka. jangan tutup mata bahwa calon-calon presiden itu juga hanya manusia, kita tidak pernah tahu isi hati mereka, mana yang lebih mencintai masyarakat indonesia dan mau mengorbankan segala-galanya demi masyarakat indonesia. yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah jejak rekam yang mereka lalkukan selama ini, manakah yang paling banyak berbuat untuk masyarakat indonesia, dan pada level apa mereka berbuat. saya kira dari sana kita bisa melihat lebih objective. semangat untuk indonesia yang lebih baik…!!

    Like

    1. Asiiiik ini komennya. Setuju banget.
      Baiknya menurut saya sih pak JK jadi presiden dan pak Bowo jadi wakilnya.
      5th/10th lagi pak Jokowi jd wapres atau Presiden dan wakilnya tokoh politik bersih lainnya.

      Like

    2. I can’t agree more. Saya saran mas bikin tulisan tentang ini. Idenya bagus 🙂

      Like

  22. Reblogged this on Eargasme JukeBlog and commented:
    beginilah macam calon jari ungu

    Like

  23. Paparan yang bagus dan independent 👍

    Like

  24. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tahu kebutuhan rakyatnya, bukan pemimpin yang hanya mengedepankan kepentingan internasional. Kalau rakyatnya sendiri saja tidak makmur dan sejahtera mana mungkin dunia internasional menghargai kita sebagai bangsa besar.

    Like

  25. J for Jakarta, P for Presiden. heheheh *pis mat

    Like

  26. boyke adhy lau June 10, 2014 — 3:21 am

    Tulisannya cukup baik..Tapi setelah berkali2 sholat Istikharah kok ya hati ini lebih condong ke no.2 yaa…Wallahu’alam..InshaAllah semoga Indonesia menjadi semakin baik lagi di masa yang akan datang..Amien YRA

    Like

  27. Tulisannya baik, tapi tidak netral,…kebenaran versi penulis…sekarepelah…inilah kepintaran bahasa politik,..,ujung ujungnya menyisipkan pengaruh untuk memilih prabowo, shg netralitasnya perlu dipertanyakan….ra popo..itulah politik basisnya pastilah pendukungan, untuk menang,..agar dapat hitungan suara…karena musyawrah mufakat hanya di awan….yg utama jumlah angka…betul tidak??….eeh…

    Like

  28. Very nicely done. . seneng banget bacanya.

    Like

  29. Terimakasih mas daus atas ulasannya, meski sedikit pro ke salah satu calon. Ya wes lah, menurut saya sih, sekarang gak penting, orang yang jago ngomong atau pidato, dah malaslah ama yang kayak gitu-gitu, Sekarang jamannya kerja, walopun PRAHARA buat target penyelesaiannya, kita gak butuh janji muluk2 mas..

    Biarpun buat orang lain, jago orasi, punya jiwa kepemimpinan itu no.1, buat aku tetap milih presiden itu no.2

    Hmm, saatnya milih pake hati nurani:)

    Like

  30. jadi om ahmad pilih siapa?

    Like

  31. Saya pribadi merindukan sosok pemimpin yang bisa menjaga stabilitas negara seperti dulu. Saat ini yang saya rasakan sebagai rakyat biasa adalah kecarut marutan negara sebagai hasil dari kepentingan politik. Kebebasan yang terkadang menghalalkan segala cara. Seperti tidak ada control yg membuat politik lebih ber-etika dan manusiawi. Budaya saling menjatuhkan dan merasa menang sendiri. Berupaya segala cara demi suatu kepentingan tertentu. Berani bersumpah atas nama Tuhan dan mengingkarinya. Semua itu sudah menjadi tradisi bangsa ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, bangsa ini sudah melenceng jauh dari cita2 kemerdekaan.

    Itulah sebabnya kenapa kita sangat menginginkan adanya sebuah perubahan. Suatu tujuan reformasi yg telah diupayakan bangsa ini sejak belasan tahun yg lalu. Sosok pemimpin yg bukan hanya tegas namun juga memiliki kepedulian terhadap nasib rakyat kecil. Bukan hanya untuk kaum intelektual tetapi juga nasib kami yg kurang mendapat pendidikan. Karena bangsa ini dibentuk dari kemajemukan. Maka pemimpin itu harus bisa menjadi simbol pemersatu perbedaan. Mengayomi rakyat, dan tentunya memberikan jalan keluar terhadap permasalahan bangsa. Menghargai HAM, menjunjung tinggi nilai hukum dan menjadikanya sebagai tolak ukur dari sebuah keadilan. Jangan tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

    Saya berharap memiliki seorang presiden yang tegas, memberi solusi tanpa kekerasan, peduli nasib bangsa dan rakyat kecil, menjunjung tinggi hukum, menghargai HAM, menolak KKN, bersahaja dan berwibawa, berani mengambil keputusan dan tindakan.

    Like

  32. Reblogged this on mikoshunuwirastomo and commented:
    inspiratif. perspektif baru yang kita butuh sebagai voters

    Like

  33. siap-siap dapet kerjaan 2 minggu ya mad :p kan udah biasa dikasih deadline “kemarin”

    Like

  34. Mama Darvini Rachmida June 10, 2014 — 12:14 pm

    Saya no 2 , tetap jd gub
    Dan no 1, untuk presidenku

    Like

  35. Mamat mencoba untuk bijak. Analisanya panjang, tapi jadi terkesan percuma karena dari dalam lubuk hatinya sudah memihak.

    Like

    1. Wah, I feel flattered Om Made mau ikut komen 🙂 Beliau ini pengusaha sukses yang salah satu usahanya adalah bidang pendidikan. Imho, beliau salah satu teman se-almamater (alumni Fasilkom UI) yang tersukses. Rasanya masalah “lubuk hati” ini menjadi pikiran banyak pembaca, jadi saya coba jawab saja.

      Sebagai manusia, rasanya Tidak Mungkin Seseorang Mampu 100% Objektif.
      Yang bisa dilakukan adalah…… ==> Berusaha Se-Objektif Mungkin

      Dalam tulisan di ruang publik terbatas seperti facebook (kebetulan facebook friends saya hanya orang yang betul-betul saya kenal pribadi), saya mencoba menyajikan beberapa opini pribadi. Ini dimungkinkan karena friends tersebut mengenal personality saya sebagai penulis. Tetapi ketika membuat tulisan semacam ini di ruang publik tidak terbatas seperti Blog, saya memilih untuk sebisa mungkin tidak memasukkan opini pribadi (tentang masing-masing capres). Tujuannya adalah:

      – Agar pembaca fokus pada content inti. Tulisan ini berfokus pada metode (tools) memilih, bukan fakta tentang masing-masing capres. Contoh-contoh yang disajikan dapat diganti total oleh masing-masing pembaca.

      – Agar tidak terjadi argumentum ad hominem, yaitu penolakan isi tulisan dengan alasan personality sang penulis (yang sesungguhnya tidak dikenal pembaca karena disajikan di ruang publik tidak terbatas).

      IMHO, pembaca akan lebih paham tulisan ini bila ada contoh konkrit bagaimana mengisi tabel perbandingan. Untuk menjaga netralitas, saya melakukan dua hal:
      1. Memasukkan poin baik dan buruk setiap kandidat capres.
      2. Melakukan koreksi yang diperlukan jika ada pembaca yang memberi masukan.

      Bahasa yang digunakan memang cenderung lugas, sehingga tampak sangat straight dan berpotensi menyinggung pihak yang sudah memiliki preferensi (terafiliasi). Penggunaan kalimat “Jokowi sering melanggar janji” atau “Prabowo berbahaya dan bisa mengembalikan ke era diktator” sesungguhnya sama-sama “menghancurkan” perasaan para pendukungnya. Kalimat ini saya pilih karena sejujurnya, itu adalah pendapat “lawan” sang jagoan.

      Kalimat pujian “Prabowo memiliki kemampuan lengkap sebagai pemimpin” bisa membuat kubu Jokowi merasa diposisikan, “Jokowi bodoh”, dan “Sejauh ini, rekam jejak Jokowi dapat dikatakan bersih dari perbuatan tercela. Hal ini membuat banyak orang merasa aman memilih beliau” bisa membuat kubu Prabowo merasa diposisikan, “Prabowo calon diktator baru” (seperti yang dikatakan Bison).

      Kalau bersedia melihat dari kacamata kedua kubu, sebetulnya tulisan saya bisa “menyinggung” kedua kubu pendukung, bukan hanya salah satu saja.

      Penggunaan kalimat straight tentang topik sensitif pun sebetulnya bisa “menyinggung” kedua kubu. Pada Section “Tapi Kan…” di bagian akhir, Pendukung Prabowo bisa kesal karena seolah diartikan Prabowo dipilih karena sentimen agama islam, simply karena banyak berkoalisi dengan partai islam. Tapi kalimat yang sama, juga bisa membuat pendukung Jokowi kesal karena bisa diartikan Jokowi dipilih karena sentimen anti-islam, simply karena orang-orang non-muslim tidak mau memilih kandidat yang kebanyakan berkoalisi dengan partai islam. Saya tahu ini sensitif, tapi kalau mau jujur, bukahkan ini yang sesungguhnya banyak terjadi? Sekali ini, ini bukan masalah pendapat pribadi penulis, tetapi ini tentang opini yang aktual beredar dan bertebaran dimana-mana. Why don’t we just admit it?

      Bagi saya, lebih baik saya memilih kalimat straight yang tidak enak didengar, selama hal tersebut memang benar menjadi argumentasi pihak lawan. Kita butuh mencari kebenaran, bukan sekedar sedang mencari pembenaran bukan?

      Mengutip kalimat seorang kawan blogger, “Saya hanya bertanggung jawab terhadap apa yang saya tulis. Bukan apa yang anda pahami” 🙂

      Salam damai untuk kita semua. Siapapun yang menang, kita harus tetap jadi Indonesia yang damai. Jangan sampai perbedaan pilihan menjadikan rasa tidak nyaman apalagi permusuhan antar teman. It is not worthed 🙂

      Like

      1. Ah, di sini nggak ada tombol “Like”, ya? (〃艸〃)

        Like

      2. Sebenarnya kedua capres ini memang tidak sempurna…yang sempurnya cmn Tuhan YME (dorce…show..show…)biar agak nyante dikit mas…..tulisan nya bagus mas cmn hal2 ini sudah sering kita baca dan kita dengar…cmn menambahi setiap penulis seberapapun adilnya mereka klo penulisannya berhubungan dengan obyek pastilah ada ketidakadilan mekipun itu hanya sekecil biji sesawi…indonesia yg SANTUN GEMAH RIPAH LOH JINAWI rusak karena kelakuan anak bangsa sendiri,dirusak oleh orang2 yg kelihatan BERADAB tapi kenyataanya BIADAB (maaf klo tdk sopan)

        seperti kata bung karno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri” inilah yg terjadi zaman rezim soeharto sampai zaman sekarang yg katanya zaman reformasi….perang antara MAYORITAS vs MINORITAS,perang antara PENGUASA vs RAKYAT KECIL,perang antara MILITER vs SIPIL ibaratkan perang antara KEBAIKAN vs KEBATILAN…..inilah yg terjadi sekarang….
        sebetulnya saya ingin secara pribadi indonesia dipimpin oleh orang yg tegas,berwibawa….seorang orator ulung seperti BUNG KARNO….tapi zaman ini bukan zaman perang seperti zaman Bung Karno…klo mau cari orator ulung zaman reformasi Surya Paloh lah sosok yg pantas disebut orator ulung…tapi memimpin indonesia yg dicari bukan cmn seorang orator ulung saja…. tetapi seseorang yang memang mencerminkan kebudayaan bangsa sendiri yang santun bertutur kata,santun bertindak,santun dlm mengambil sikap dan santun dalam mengambil hati rakyat…..

        Bhineka Tunggal Ika yg digagas oleh pejuang lambat laun sudah pudar sendiri di indonesia karena kelakuan manusia2 bangsa sendiri yg katanya karena pengaruh Barat…ada pula katanya karena pengaruh Timur Tengah…..
        Ingatlah bangsa kita adalah bangsa yg madani…BANGSA YANG MENJUNJUNG TINGGI HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA Bangsa yang manusia2 didalam nya sangat menjunjung tinggi PANCASILA…..tetapi pada kenyataannya negara indonesia adalah negara yg kronis,ormas-ormas kefanatikkan tumbuh subur bahkan otot nya pun melebihi otot penegak hukum…ormas yg menggoda untuk selalu berkuasa…inilah awal kehancuran bangsa ini karena ulah2 anak negeri sendiri kita bkan lagi perang dengan membwa bambu runcing tapi kita berperang dengan perpecahan agama,ras,suku dll….itulah bangsa kita bagi yang mengakui klo memang bangsa ini telah kronis…karena penulis pun memetakkan dan mengkotak-kotak kan seperti orang2 yg mengkotak-kotak”kan antara kubu Barat dengan Kubu Timur Tengah…
        Tapi kan… Prabowo direstui partai-partai Islam yang mau mengakomodasi kepentingan kaum muslim.

        Tapi kan… Jokowi didukung PDIP yang mau mengakomodasi kepentingan kelompok non-muslim, sekte muslim minoritas, dan nasionalis.

        Like

  36. Memilih itu hanya SATU…

    Like

  37. Artikel yang bagus Mas, terima kasih. Tapi agak miris saya baca komen2nya.

    Mas di sini memaparkan sebuah metodologi, yang kebetulan contohnya menggunakan sudut pandang pribadi, untuk kriteria dll. Entah kenapa banyak orang2 yang panas karena ini.

    Tinggal diganti aja semua parameternya, beres.

    Saya termasuk golongan swing voters, masih liat2 mau milih siapa. Bisa jadi golput juga.

    Cuma saya sekarang kurang suka dengan fanatisme orang2 terhadap jokowow. Diagung2kan gitu. Bikin saya jijik.

    Bukan berarti saya seneng dengan Prabowo loh. Males banget balik ke militerisme.

    All in all, for me right now we have the shittiest choices. Please pardon my language, that is just how I feel.

    Saya akan coba implementasi metodologinya Mas Daus.

    Makasih Mas.

    Like

  38. “Mohon diingat bahwa poin-poin dibawah ini adalah contoh isi perbandingan. Tulisan ini tidak bermaksud menggiring opini pembaca untuk mendukung salah satu capres”.
    Ini tulisan anda di awal, tp di bagian akhir, kerasa banget penggiringannya kemana 🙂
    Integrity ya? 🙂

    Like

    1. Integritas adalah salah satu topik penting di tulisan ini. Tentu saya perlu menjaga integritas dari tulisan ini sendiri. Mohon maaf bila ada kalimat yang tidak tepat (menggiring).

      Bisa bantu kalimat apa dianggap “menggiring”? Saya akan perbaiki jika memang salah. Terima kasih sebelumnya 🙂

      Like

  39. Ada beberapa alasan kenapa para alim ulama mulai berbicara cenderung mendukung salah satu calon, padahal dari dulu hanya diam dan berusaha tidak memihak. Dan itu jg menjadi satu pertimbangan saya. Karena ulama adalah penerus kekhalifahan Rasul SAW.

    Like

  40. Reblogged this on sarjanasujana and commented:
    Membuka pikiran, tidak fanatik sempit. Hiduplah Indonesia raya.

    Like

  41. Mantap Om Tulisannya….Masalah penafsiran biarkanlah masing-masing yang menentukan..yang penting Om Ahmad udah peduli mau memberikan refrensi rekam jejak diantara keduanya. Siapapun pemimpinnya Kita berharap Indoensia akan menjadi lebih baik lagi.

    Like

  42. Reblogged this on Lawyer for Youngster and commented:
    Cukup netral, dan kembali ke diri masing-masing, choices are yours 🙂

    Like

  43. Ya, menurut aku sih ini memang kenyataannya.
    Tapi, cukup ke diri masing-masing. Aku sih, adadeh… 😀

    Like

  44. Nothing and nobody’s perfect. Waktu dan usaha yang Anda kerahkan untuk mengumpulkan informasi dan mengemasnya menjadi tulisan yang menarik saja sudah membuat saya angkat salut, terlepas dari perspektif berbeda yang dikemukakan oleh pembaca tulisan Anda, semua tergantung sudut pandang masing-masing. Yang jelas, sebagai swing voter saya merasa sangat terbantu dengan tulisan ini. Terimakasih untuk waktu dan pencerahan-pencerahannya. 🙂

    Like

  45. tulisannya sangat bagus mas, smoga bisa pada lebih dicerahkan buat pilih yang mana. saya sendiri masih bingung karena balik ke persoalan banyaknya isu yang mendera kedua kubu

    Like

  46. One of the hardest things will be to vote for the right person. Nothing is what is seems not now and not when the person is voted in! The political landscape here is like a puppet show or the mad hatters tea party!
    Swing Voter 0002 from Bali.

    Like

  47. saya bukannya mendukung atau menghujat saah satu calon, tapi..
    di sesi membahas tiap aspek pemimpin, saya rasa ada beberapa hal yang terlewatkan dari sisi prabowo yang menyebabkan artikel ini terlihat berat sebelah..
    salah satunya prabowo tidak konsisten dalam statementnya, sebagaimana jokowi tidak konsisten dalam statementnya sebagai gubernur..

    contoh, tidak tegas bersikap terhadap korupsi yang dilakukan SDA, berkoalisi dengan golkar yang dinilainya penuh kepentingan uang, berkoalisi dengan orang-orang yang sempat dikritiknya karena lalai mejalankan tugas pemerintahan.

    Like

  48. Artikel di bawah juga mencoba membedah calon, tapi memang sudah tampak berat sebelah… Tapi sebelah sbg penyeimbang bedahan yang panjenengan tulis yang tampak tetap menggiring pada arah tertentu…

    http://patryapratama.wordpress.com/2014/06/08/apakah-pendukung-prabowo-secara-inheren-tidak-logis-dan-kurang-pintar/

    Like

  49. Menurut saya penulis sudah objektif, saya sampai ga nyadar kalo penulis condong ke salah satu kubu. Ya bagaimanapun saya senang melihat tulisan ini dan komentar-komentarnya, tidak urakan dan hampir semuanya santun. Gak kayak di sosmed (mengutip salah satu komentar di atas) kebanyakan kayak ibu-ibu nyinyir yg lagi dengki banget sama seseorang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close