Mari Ber-Investasi – Part 2

ini adalah lanjutan dari artikel: Mari Ber-Investasi – Part 1

Paradigma Investasi

Sebagai muslim, saya percaya bahwa semua harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT. Sebagai orang yang kebetulan diberi titipan, maka kita wajib mengelolanya dengan benar, sehingga harta itu bermanfaat bagi sesama. Menumpuk harta seperti memiliki banyak rumah, banyak mobil, dan banyak barang mewah, bukanlah pilihan yang tepat, karena akan mengakibatkan harta itu menjadi kurang atau bahkan tidak bermanfaat bagi sesama. Lebih dari itu, menumpuk harta juga dapat berakibat memuaskan “rasa memiliki” orang yang dititipi, seolah dia adalah benar sang empunya harta itu.

“Mengelola titipan”…. di sini lah titik awal paradigma investasi dimulai. 

Karakter Investor

Secara mudah ada empat jenis investor. Strategi yang bisa ditempuh oleh tiap jenisnya akan berbeda-beda. Jenis-jenis investor tersebut adalah:

  1. Investor Terlanjur Kaya. Umumnya terjadi pada orang-orang yang menerima warisan atau hoki karena tiba-tiba dapat lotere. Ini adalah jenis investor yang paling rentan terhadap penipuan. Umumnya orang terlanjur kaya tidak pernah berinvestasi, sehingga ketika mereka berinvestasi, mereka menjadi sasaran empuk para penjual investasi bodong. Banyak orang yang berpikir tidak bisa berinvestasi karena tidak punya modal. Padahal logikanya, orang yang tidak bisa mengelola dana Rp. 10 Juta, tidak akan mampu mengelola dana Rp. 10 Miliar. Jika anda sial karena terlanjur kaya 🙂 maka saran saya, belajarlah berinvestasi dengan modal kecil, pastikan itu berhasil secara konsisten, baru kemudian menambah modal sedikit demi sedikit.
  2. Investor Nggak Akan Pernah Kaya. Umumnya terjadi pada orang-orang yang banyak memiliki keinginan, tetapi tidak mampu mengontrol keinginan mereka. Biasanya mereka sangat konsumtif, punya banyak barang mahal, tabungan pas-pasan, dan beberapa dari mereka terbelit hutang kartu kredit. Investor jenis ini umumnya hanya punya sangat sedikit uang untuk diinvestasikan, cenderung malas belajar tentang investasi, dan maunya dikelola oleh orang lain, alias tahu beres. Nasibnya tidak jauh dengan Investor Terlanjur Kaya, tetapi umumnya mereka tidak terlalu menyesal karena jumlah investasi yang kena tipu hanya kecil saja. Ini tidak lain karena jumlah yang mereka investasikan juga tidak besar. Saran saya untuk jenis investor ini adalah belajarlah untuk mengontrol keinginan sebelum terjun ke dunia investasi.
  3. Investor Pekerja Keras Untuk Jadi Kaya. Umumnya mereka mempelajari ilmu investasi dengan baik, melatih motivasi melalui banyak cara, dan sebagian menumbuhkan investasi dari nilai yang sangat minimal sehingga akhirnya menjadi sangat besar alias sukses berat. Secara teknis tidak ada yang kesalahan yang dilakukan oleh jenis investor seperti ini, hanya saja seringkali godaan untuk menjadi lebih kaya bisa membuat mereka mengambil jalan yang tidak halal. Kegagalan juga bisa disikapi bervariasi, sebagian belajar dari kegagalan sehingga menjadi sangat-sangat tangguh, sebagian lagi putus asa dan bunuh diri.
  4. Investor Amanah Yang Selalu Bersyukur dan Berusaha Ikhlas. Umumnya mereka mencukupi kebutuhan hidup dengan baik, memiliki kebiasaan untuk membantu sesama, dan mengelola kelebihannya dalam bentuk investasi. Mereka memilih jenis investasi dengan hati-hati untuk menghindari penipuan dan menghindari jenis investasi yang tidak baik secara moral. Mereka berusaha maksimal dan mendalami investasi yang diterjuninya karena sadar bahwa itu adalah tanggung jawabnya. Bersyukur atas keberhasilannya, bersyukur juga atas kegagalannya, karena itu memberinya pelajaran. Berusaha ikhlas dengan hanya berfokus pada melakukan hal yang benar, tanpa peduli apa kata orang tentang dirinya. Dukungan membuatnya yakin dan cercaan membuatnya tangguh.

So… silakan pilih sendiri mau jadi investor jenis mana 🙂 hehehe….

Siklus Investasi

Dari sisi finansial, seorang investor mengelola keuangannya dengan melakukan 7 langkah secara berulang-ulang.

 

1. Seed (Mengalokasikan Modal)

Investasi dimulai dengan mengalokasikan sejumlah dana sebagai modal. Ini bisa didapat dari menyisihkan sebagian uang gaji. Simpanlah uang dalam bentuk surat berharga, utamanya obligasi / surat utang negara / obligasi syariah (sukuk) untuk melindungi asset dari inflasi. Satu syarat penting dalam hal menempatkan modal adalah bahwa uang yang ditempatkan haruslah “uang dingin”, yaitu uang yang tidak akan kita butuhkan dalam 10 tahun mendatang. Jangan coba-coba berinvestasi dengan uang kebutuhan sehari-hari atau uang sekolah anak.

“Menabung” adalah keahlian dasar bagi seorang investor. Menabung juga merupakan latihan menahan diri dari keinginan membeli sesuatu hanya karena kita “punya uangnya”. Tanpa kemampuan ini, umur investasi kita akan menjadi sangat pendek, karena sedikit keberhasilan akan menggoda kita untuk segera mencairkan investasi dan mengikuti nafsu belanja. Kemampuan menabung ini juga menjelaskan mengapa seorang investor sukses jarang sekali membeli barang konsumsi dengan cara mencicil. Bukan semata-mata karena ia sedang mengumpulkan modal, tetapi karena ia memang mampu menahan godaan untuk mengikuti nafsu belanjanya.

2. Convert to Productive Asset (Membeli aset produktif)

Setelah melalui perhitungan yang matang, belilah asset produktif, misalnya saham atau properti. Investor yang baik selalu paham betul dengan jenis investasi yang dijalaninya. Menitipkan uang pada orang / organisasi lain tidak menjadikan kita sebagai seorang investor, malah umumnya hal ini berakhir dengan rugi atau penipuan. Dan sekali lagi, bedakan investasi dengan spekulasi. Percayalah, kebanyakan “investasi” yang ditawarkan kepada kita sesungguhnya adalah “spekulasi”. Dua rule of thumb dalam mengalokasikan modal adalah “Jika anda tidak yakin dengan dengan suatu investasi, simpan saja modal dalam dompet anda sebaik-baiknya” dan “Jangan mengambil keputusan hanya  berdasarkan analisa orang lain”.

3. Maintenance & Protection (Memelihara dan Melindungi Investasi)

Pemeliharaan adalah kegiatan dan biaya yang diperlukan untuk memastikan agar aset produktif bisa beroperasi secara optimal. Misalnya, mobil untuk disewakan harus diganti oli dan rumah kontrakan harus dicat ulang.

Proteksi adalah perlindungan terhadap modal dasar investasi. Hal ini mutlak diperlukan. Misalnya, investasi mobil untuk disewakan perlu diasuransikan agar jika mobil tersebut tabrakan dan hancur total, maka sekitar 90% dari nilai mobil dapat diperoleh kembali. Tanpa proteksi yang memadai, investasi akan menjadi spekulasi.

4. Reinvest for Inflation (Menginvestasikan Kembali Sebagian Modal untuk Menjaga Kenaikan Harga)

Tujuan dasar dari investasi adalah memperoleh laba. Misalnya, pada tahun 2010 kita memiliki modal Rp. 100 Juta. Dengan tingkat laba 20% per-tahun, maka keuntungan yang diperoleh selama setahun adalah Rp. 20 juta. Dengan asumsi bahwa tingkat laba per-tahun tersebut dapat terus dipertahankan, maka jika modal dasar Rp. 100 Juta tersebut diinvestasikan kembali, pada tahun 2011 kita akan kembali memperoleh laba sebesar Rp. 20 Juta. Namun demikian, harga komoditas terus naik dari tahun ke tahun. Contoh ekstrimnya, Rp. 20 Juta pada tahun 2010 tidak bisa membeli komoditas sebanyak Rp. 20 Juta pada tahun 1980.

Untuk menjaga agar “Daya Beli” kita tetap sama, maka sebagian keuntungan yang diperoleh dari investasi harus diinvestasikan kembali, sehingga keuntungan di tahun berikutnya akan meningkat. Jumlah yang harus di-reinvest untuk menjaga inflasi adalah sebesar nilai inflasi itu sendiri. Di Indonesia, kisarannnya adalah sebesar 6% s/d 8%. Dalam contoh diatas, setelah mendapat keuntungan sebesar Rp. 20 Juta, maka Rp. 6 Juta harus di-investasikan kembali, sehingga nilai modal di tahun berikutnya (2011) adalah Rp. 100 Juta + Rp. 6 Juta = Rp. 106 Juta. Selisihnya sebesar Rp. 20 Juta – Rp. 6 Juta = Rp. 14 Juta boleh di konsumsi (lihat bagian Withdrawal). Dengan modal Rp. 106 Juta, maka keuntungan tahun 2011 adalah: 20% * Rp. 106 Juta = Rp 21,6 Juta. Dimana nilai uang Rp. 20 Juta di tahun 2010 sama dengan nilai uang Rp. 21,6 Juta di tahun 2011.

5. Reinvest for Growth (Menginvestasikan Kembali Sebagian Keuntungan untuk Meningkatkan Keuntungan Di Masa Depan)

Cara termudah untuk meningkatkan nilai keuntungan dari tahun ke tahun adalah dengan menginvestasikan kembali sebagian keuntungan yang kita peroleh. Dalam contoh sebelumnya, selisih antara keuntungan dan nilai yang harus di-reinvest untuk menjaga inflasi adalah: Rp. 20 Juta – 6 Juta = Rp. 14 Juta. Jika kita menginvestasikan Rp. 14 Juta ini pada tahun berikutnya, maka kita punya peluang untuk meningkatkan keuntungan di tahun-tahun mendatang.

6. Rebalance (Menyeimbangkan Komposisi Investasi vs Kas Secara Periodik)

Tidak seperti halnya “Gajian” yang bersifat teratur dan jumlahnya cenderung sama, tingkat laba investasi tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Secara periodik, kita perlu menyeimbangkan nilai aset produktif vs. kas. Misalnya:

  • Kita memiliki modal (kas) senilai Rp. 100 Juta. Setelah melalui perhitungan, maka diputuskan untuk menetapkan komposisi kas vs. alokasi = 50% : 50% dengan periode rebalance setiap 6 bulan.
  • Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pada tanggal 1-Jan-2010 kita menginvestasikan 50% modal ke dalam bentuk saham, sedangkan 50% lainnya disimpan dalam bentuk ORI atau Sukuk (obligasi ritel pemerintah / surat utang syariah). Saham adalah modal yang dialokasikan, sedangkan ORI adalah modal yang disimpan sebagai simpanan setara kas.
  • 6 bulan kemudian (1-Jul-2010), setelah dievaluasi, ternyata nilai saham kita telah meningkat 10%, sedangkan nilai ORI telah meningkat 3%. Ini berarti nilai saham = 50 Juta x 110% = 55 Juta, sedangkan nilai ORI = 50 Juta x 103% = 51,5 Juta. Jika dijumlah antara saham dan ORI nilainya = 55 Juta + 51,5 Juta = 106,5 Juta.
  • Lakukan Rebalance dengan cara menghitung berdasarkan komposisi 50% : 50%. Artinya saham harus bernilai 53,25 Juta dan ORI harus bernilai 53,25 Juta. Untuk melakukan hal ini, maka jual saham kita senilai 55 Juta – 53,25 Juta = 1,75 Juta. Tambahkan sejumlah tersebut ke dalam bentuk ORI.
  • Jika yang terjadi sebaliknya (keuntungan saham dibawah ORI atau malah merugi), maka jual sebagian ORI untuk dibelikan saham.
  • Lakukan langkah-langkah rebalance tersebut setiap 6 Bulan secara konsisten.

Tujuan dari menyeimbangkan komposisi investasi dan kas secara periodik adalah untuk memastikan anda memiliki cukup kas saat ada peluang.

7. Withdrawal (Mengambil Keuntungan untuk Konsumsi)

Keuntungan dari investasi dapat ditarik dan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini tentu setelah mempertimbangkan reinvestasi untuk menjaga inflasi, reinvestasi untuk pertumbuhan modal, serta rebalance. Seorang investor yang bijaksana tidak akan mengambil keuntungan tanpa perhitungan yang tepat, apalagi sekedar untuk memenuhi hasrat belanja. Withdrawal bisa dianalogikan sebagai keputusan untuk menentukan “gaji” kita sendiri.

What Next?

Pada bagian selanjutnya, kita akan coba bahas lebih dalam setiap poin siklus tersebut diatas.

Advertisements

3 thoughts on “Mari Ber-Investasi – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s