Apakah kita menang berpuasa?

Malam itu saya hendak berbuka bersama seorang kawan non-muslim. Karena semua restoran penuh, saya permisi shalat maghrib dan usul untuk ngopi dulu di coffee shop, baru makan setelahnya. Dia heran dan bertanya apa saya nggak kelaparan setelah puasa seharian? πŸ€”

Banyak yang mengira kalau menahan lapar adalah bagian terberat dari berpuasa. Tentu wajar, karena itu yang tampak langsung. Tapi, apakah benar? πŸ‘€

Sembari makan, saya sampaikan kalau saat berpuasa, tubuh sebenarnya sudah siap. Pikiran kita sadar bahwa tubuh tidak akan makan sampai maghrib. Lebih jauh, kita juga yakin ada makanan tersedia untuk dimakan saat nanti berbuka. Tidak khawatir akan kelaparan seperti halnya seorang fakir-miskin. Jadi, melihat orang lain makan 🍜 saat kita berpuasapun sebenarnya tak masalah. Meski mungkin jadi masalah bagi yang masih belajar. Singkatnya, menahan lapar itu manageable. Karena kami berdua sudah dewasa, jadi paham kalau pikiran adalah faktor dominan.

Sayapun melanjutkan. Makan/minum dan seks adalah kebutuhan ragawi. Di luar itu manusia masih punya kebutuhan rohani. Dalam islam, ada penyakit ragawi, misalnya makan makanan beracun. Ada penyakit rohani, contohnya serakah. Berpuasa berarti menahan pemuasan kebutuhan ragawi, sehingga kita dapat fokus mengelola pemuasan kebutuhan rohani.

Ujian terberat seringkali terjadi bukan saat berpuasa, tapi justru saat berbuka. Cukup banyak (termasuk saya dulu) yang senang berbuka dengan menu yang lebih mewah 🀩 dibandingkan saat tidak berpuasa ramadhan. Selama berpuasa kita belajar menahan dorongan serakah, tetapi saat berbuka malah habis-habisan memuaskan dorongan itu.

Menjelang berbuka, jalanan semrawut πŸš—πŸπŸššπŸš™πŸšŒπŸšŒπŸ›΅πŸš—πŸšš karena banyak pengemudi yang tak taat. Semua ingin cepat sampai rumah untuk berbuka dengan keluarga. Sayangnya itu dilakukan dengan melanggar dan mengambil hak pengemudi lain 😠 Latihan menahan nafsu tak tampak hasilnya.

Dalam tradisi nusantara, mudik untuk bersilaturahim adalah hal baik. Namun sering dibumbui dengan baju baru πŸ› bahkan mobil baru πŸš— Mall penuh dan harga mobil cenderung naik menjelang idul fitri (untuk turun lagi setelahnya). Keinginan untuk dinilai β€œsukses” bahkan mendorongnya berhutang.

Ujian bisa datang dalam berbagai bentuk. Di hari terakhir ramadhan kemarin, saya justru kehilangan kendali emosi. Penerbangan ✈️ dibatalkan sepihak, membuat jadwal saya berantakan, ditambah lagi Call-Center yang tak responsif. Tentu itu bukan pembenaran untuk emosi, tapi realitanya saya marah besar. Menunjukkan kualitas latihan saya masih jauuuh dari cukup πŸ˜“πŸ˜“ Alhamdulillah masih diberi kesempatan minta maaf, semoga Allah mengampuni.

Menahan lapar adalah cara, bukan tujuan 🎯. Tujuannya adalah mengendalikan diri dari sifat tak terpuji. Sungguh tidak mudah mengklaim “kemenangan” saat lebaran tiba. Karena indikasi keberhasilan tak terbatas saat ramadhan, tapi justru sesudahnya. Mampukah kita selalu bersyukur, bersabar, dan beribadah hanya demi Allah semata? Semoga kita dipertemukan dengan ramadhan mendatang πŸ₯Ί

Taqabballahu minna waminkum, semoga Allah SWT berkenan menerima amal puasa dan ibadah kita lainnya selama ramadhan kemarin. Aamiin.

Minal aidin wal faidzin πŸ™ untuk semua.

1 Syawal 1440H πŸŒ™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close