Sampai Kapan Kita Masih Boleh Makan Opor Lebaran?

Ada saja momen unik di momen silaturahim lebaran 🕌. Setiap tahun kami sekeluarga berkunjung ke rumah Uwa Hasanah. Beliau dulu yang mengasuh saya setiap kali pulang sekolah, sebelum dijemput ke rumah. Usianya sudah 👵🏻 92 tahun dan masih bisa berjalan serta makan sendiri. Tapi kali ini, ketika hendak pulang beliau mendadak minta ikut “jalan-jalan” 😄 Walhasil, ikutlah beliau makan malam bersama kami ke Rumah Mode, salah satu Factory Outlet di Bandung yang banyak pilihan jajanannya.

Kondisi giginya yang sudah ompong membuat saya harus berpikir tentang jenis makanan yang cocok. Lalu terpilihlah mie kocok 🍜, sementara saya sendiri memesan mie yamin bakso 🍝 dan dan baso tahu 🍽. Iya… 2 macem, gak usah complain, emang gembul kok 😛

Begitu mie kocok datang, langsung deh merasa salah pesan. Ternyata “lauk”-nya itu kikil. Ya jelaslah beliau cuma bisa emut, lalu dilepeh karena terlalu kenyal untuk dikunyah. Lalu saya kasih bakso halus dari mie yamin. Ternyata juga sama, gak bisa dikunyah. Untung ada siomay (baso tahu) yang empuk. Maka dimakanlah itu. Bukan mau endorse, tapi baso tahu di Rumah Mode ini one of the best in town, beneran! 👍

Melihat beliau makan, saya jadi merasa sangat bersyukur. Betapa kebanyakan dari kita masih diberi kemudahan menikmati makanan enak 👨‍🍳 Ketika tua, ada saja pantangan makanan karena dianggap terlalu berminyak yang mengundang kolesterol, terlalu manis yang mengundang diabetes, atau terlalu asin yang mengundang hipertensi. Kalaupun itu semua tidak terlarang, belum tentu masih punya gigi lengkap untuk mengunyahnya 😁😁

Jadi teringat juga di siang harinya ada saudara yang bilang kalau ketika makan kita sering mengucap basmalah (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ), tetapi yang ada di pikiran kita hanyalah makanan saja. Padahal makna basmalah itu kan, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Jadi seharusnya saat mengucap, kita justru harus mengingat Sang Maha Penyayang, karena saat itu kita sedang dimampukan oleh-Nya untuk menikmati rejeki yang ada. Bersyukurlah, karena belum tentu kemampuan itu akan terus ada selamanya.

Pernah ada yang bilang kalau kita semua itu Milyuner 💰💰💰 sejak lahir. Gak percaya? Coba mau nggak kedua tanganmu dipotong untuk dijual dengan harga 1 Milyar? Kalau tidak, berarti kedua tangan tersebut berharga lebih dari 1M, alias kita punya asset milyaran. Itu baru tangan, belum anggota tubuh lainnya 😊

Sepatu keren tak ada artinya kalau tak punya kaki, HP canggih gak berguna kalau tak punya mata. Bahkan sekadar opor lebaranpun gak dijamin boleh dimakan kalau kolestrol sedang menyerang. Rejeki itu bukan cuma benda, tapi kemampuan menikmati apa yang ada. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang bersyukur 🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close