Tahukah Anda Telah Berhasil Mengubah Persepsi Dunia atas Konflik Israel-Palestina Melalui Media Sosial?

Perubahan mulai terjadi. Tanpa sadar, anda mungkin salah satu agen perubahan yang membuatnya mulai menampakan hasil.

Berikut ini adalah terjemahan tulisan Arsalan Iftikhar pada 29 Juli 2014. Beliau adalah editor senior yang pernah di wawancarai CNN atas konflik Israel-Palestina. Mudah-mudahan terjemahan ini memudahkan pembaca memahami isi tulisan beliau. Beberapa ungkapan saya sesuaikan agar sesuai dengan makna dalam bahasa Indonesia.

Hashtag Twitter Akhirnya Mengimbangi Propaganda Pemerintah Israel

Pada suatu wawancara dengan CNN book, saya menyampaikan bahwa tidak ada satu topik besar apapun yang dengan sengaja disajikan secara tidak jujur dan berat sebelah oleh media Amerika Serikat selain “Konflik Israel-Palestina” – termasuk berita terorisme, Al-Qaeda, Penyiksaan Guantanamo, dan Penyadapan oleh NSA.

Lihat saja bagaimana judul berita yang beredar menunjukkan keberpihakan media mainstream saat meliput konflik. Pada 20 Juli, halaman muka Washington Post menuliskan “2 Tentara Israel Terbunuh pada Konflik Gaza” (2 Israeli Soldiers Killed in Gaza Clash) book, dengan sub-judul, “Korban Tewas Mencapai Lebih dari 330 orang Seiring Meningkatnya Serangan Militan (Kelompok Teroris) Hamas” (Death Toll Tops 330 as Hamas Militants Step Up Attacks). Keesokan hari, Baltimore Sun menampilkan halaman muka dengan sub-judul, “13 Tentara Israel, 70 Lainnya Tewas dalam pertempuran” (13 Israeli Soldiers, 70 Others Killed in Fighting) book.

Perhatikan, pilihan kalimat (redaksional) yang digunakan: Dua tentara Israel secara “aktif” dibunuh (killed), sementara 330 warga Palestina (dimana sebagian besarnya adalah orang sipil tidak bersalah) hanyalah bagian dari perhitungan statistik “korban tewas”. Lihat bagaimana 13 tentara Israel diprioritaskan, dibandingkan 70 warga Palestina yang dideskripsikan sebagai “Lainnya Tewas Dalam Pertempuran”.

Tetapi kita harus berterimakasih pada media sosial karena pelan-pelan telah mengubah proses peliputan berita ini.

Pada krisis Israel-Gaza yang baru saja terjadi, Twitter, Facebook, dan YouTube memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk opini publik dibandingkan konflik Timur Tengah pada tahun-tahun sebelumnya. Selama operasi militer Israel di Gaza pada tahun 2009 lalu, Twitter baru berumur 3 tahun dan itu bukanlah sumber berita utama bagi generasi millenial (orang-orang yang lahir antara tahun 1980 s/d awal 2000).

Menyadari bahwa liputan media mainstream jauh dari kenyataan, jutaan muslim dan pendukung Palestina di seluruh dunia membantu meluruskan apa yang sesungguhnya terjadi di Gaza. Penduduk biasa yang hanya bermodalkan kamera handphone, merekam video dan foto atas pembunuhan warga sipil Palestina (banyak diantaranya perempuan dan anak-anak), lalu men-tweet dan men-share-nya di facebook. Ini menciptakan kehebohan yang dengan cepat mendahului liputan CNN atau The New York Times.

Bukan hanya orang-orang lapangan yang bersaing mendapatkan dukungan melalui platform (media) baru ini. Konflik Gaza dengan cepat berubah menjadi “perang hashtag”. Selama ini sudut pandang Israel selalu mendominasi liputan media sejak setengah abad yang lalu (sehingga opini publik digiring untuk mempercayai cerita versi Israel – red). Hadirnya media sosial akhirnya menjadi kekuatan penyeimbang yang mampu mengimbangi propaganda pemerintah Israel.

Contohnya, hastag #GazaUnderAttack digunakan sebanyak 4 juta kali, bandingkan dengan hashtag #IsraelUnderAttack yang digunakan hanya 200 ribu kali. Estimasi lainnya menunjukkan ada lebih dari 11 juta tweet pro-palestina seperti hashtag #SupportGaza dan #PrayForGaza sejak konflik berlangsung sampai saat ini.

BteF9rACYAEtJxf

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Israel kalah dalam perang “Public Relation” ketika menyerang tanah Palestina. Bantahan (counter) di media sosial (atas berita yang disebarkan Israel melalui jaringan media yang terafiliasi dengannya – red) begitu luar biasa, sehingga perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu harus dengan lancang mengklaim bahwa warga Gaza menggunakan “Mayat Warga Palestina Yang Menarik (Telegenically)” book dalam rangka memperkuat dukungan internasional terhadap Palestina di media sosial. Sebuah artikel New York Magazine merespon pernyataan Netanyahu tersebut dengan kalimat, “Jika Benjamin Netanyahu begitu terganggu dengan penampilan mayat warga Palestina di televisi… Mungkin seharusnya dia berhenti membunuhi mereka di sana.” book

Kami ada di lapangan. Jumlah kami banyak dan kami memiliki kamera handphone, serta akses ke media sosial. Yang lebih menakutkan bagi Israel bukan bagaimana rupa warga Palestina di televisi, tetapi semakin banyak orang yang tadinya mendukung Israel mendapatkan informasi dari media sosial. Faktanya, revolusi tidak akan lagi muncul melalui layar televisi, mereka akan disebarluaskan dengan cepat melalui Twitter.

Sumber: Twitter hashtags are finally neutralizing the Israeli government’s propaganda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s